"Jadi, kamu udah setuju, Ness?" tanya Kirana setelah aku menceritakan hasil pertemuanku dengan Bumi kemarin lusa.
Aku hanya mengangguk, mulutku penuh dengan nasi pecel, jadi nggak mungkin untuk menjawab. Saat ini kami–aku dan Kirana–sedang duduk di emperan kios Pasar Beringharjo menikmati sepincuk Pecel Senggol.
Awalnya aku bingung, kenapa orang-orang menyebutnya Pecel Senggol. Ternyata dikarenakan ketika membeli, dan memakannya di tempat, harus bersenggolan dengan lalu lalang pengunjung pasar.
Aku juga heran, padahal rasanya juga biasa saja–rasa nasi pecel ndeso–tapi kok rame banget. Mungkin karena pada kelaparan habis muterin Malioboro sama Beringharjo kali, ya.
"Terus gimana, Nes?" Kirana menggoyang-goyangkan lengan kiriku.
"Terus gimana apanya?" aku mengulang pertanyaan Kirana.
"Gimana kalau Kumala balik? Kamu ninggalin aku lagi?"
"Dari awal–pas aku ngungkapin jati diriku–kan sudah kubilang, hubungan kita ini nggak nyata, Na." Aku melirik ibu-ibu yang duduk disebelahku. Kelihatan banget kalau dia nguping.
"Kamu bisa ngelupain aku gitu aja?"
Duh Gusti ... Kirana malah mau mewek di sini. Malu-maluin banget. "Cabut yuk, Na. Nggak nyaman ngobrol di sini. Banyak tambahan telinga gratis," sindirku pada si ibu seraya meliriknya tajam.
"Bocah saiki wes do ora nggenah. Isih akeh wong lanang, kok malah milih wedok*." Ibu di sebelahku melirik kami sambil ngobrol dengan temannya. (*Anak sekarang tidak benar. Masih banyak anak laki-laki, lebih memilih perempuan)
"Eh, jangan fitnah, ya, Bu. Kami masih normal. Jangan asal ngomong kalau cuma dengar dari nguping!" damprat Kirana kesal sambil menunjuk-nunjuk muka si ibu.
Aku menarik lengan Kirana agar menyingkir dari tempat itu, bisa jadi perang nanti. "Udah yuk, jangan bikin ribut di sini. Kita balik ke butik."
Kirana mengikutiku dengan cemberut. Aku tahu dia sedang kesal. "Kenapa sih, Na?" tanyaku sambil menoleh padanya. Aku berjalan tepat di depan Kirana. Di Malioboro, jangan harap kita bisa jalan berdampingan, bisa tabrakan sama orang dari arus berlawanan.
Kirana menghentikan langkahnya lalu menghentak-hentakkan kaki. "Kenapa kamu nurutin si Bumi, Nes? Aku sebel! Dia pasti punya niat jahat sama kamu. Dia pengen kamu nolongin Kumala, terus habis itu kamu disuruh pergi. Pasti gitu!" ucapnya berapi-api. Air mata sudah merebak di kedua pelupuknya.
"Kirana, yuk, ke butik dulu. Jangan di sini." Aku memegang tangannya, dan berjalan cepat ke butik.
Aku yakin, Kirana nggak akan tinggal diam dengan keputusanku. Palingan nanti dia lapor ke Bryan, minta dukungan untuk menghentikanku.
Benar saja, nggak sampai setengah jam, Bryan sudah berjalan cepat masuk ke ruangan kami. Kirana masih dalam aksi ngambeknya, duduk bersedekap, memonyogkan bibir sambil sesekali ngedumel nggak jelas.
Lucu ngegemesin, jadi pengen njitak. "Udah belum ngambeknya? Tuh, sekutumu datang," ujarku sambil duduk di sofa, menunggu detik-detik penghakiman dari mereka.
"Bry, Vanessa mau nyerah," lapor Kirana begitu Bryan duduk di sebelahku.
"Nah, kan ... memutarbalikkan fakta," protesku pelan.
"Ada apa, Sa? Tadi Kirana telepon, katanya kamu mulai gila. Terus terang, aku nggak paham," tanya Bryan, suaranya masih terdengar tenang.
Bagiku kelakuan Kirana sangat lucu, membuatku tertawa terbahak-bahak. "Gila? Wah, parah kamu, Na. Ngedoain aku jadi gila ya?"

KAMU SEDANG MEMBACA
ALTER EGO (TAMAT)
General FictionTuhan sangat ndak adil. Aku sudah kehilangan segalanya. Kebahagiaan, hidup tenteram, mahkota yang paling berharga, bahtera rumah tangga bahkan buah hatiku tercinta. Aku benci hidup ini. Benar-benar benci. Aku berada dalam dasar terbawah dari rotasi...