"Soal yang kemaren Mex bilang itu gimana?" Tanya Kevin ketika Raga sedang membalas pesan Sonya soal komik pesanannya kemaren. Anak itu tidak main-main soal list komik yang dia buat.
"Yang mana?" Sahutnya tanpa mengangkat wajah dari layar ponsel.
"Soal tanding sama Satya."
"Emang kenapa?"
"Lah pakek nanya," Kevin melihat ke sekitar. Memastikan jika tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka. Untung saja Wahyu dan Adnan sudah keluar terlebih dulu ketika bel istirahat berbunyi. "Satya bisa jadi ngabisin lo kali ini. Yakin gue."
Raga menyimpan ponselnya di kantong lalu menoleh ke arah Kevin yang duduk di atas meja di sebelahnya. "Kenapa lo jadi cemen gak jelas gini. Itu cuma Satya."
"Lo gak denger berita baru-baru ini kalo dia udah mati-matian latihan buat hadepin lo. Mex juga ngasih wanti-wanti kan buat jangan anggap remeh dia."
"Gue gak pernah anggap remeh semua lawan gue, Vin. Dan enggak juga kali ini. Lo terlalu berlebihan."
Kevin mengusap rambutnya. Tampak sekali cowok itu gusar karena melihat Raga yang terlalu santai. "Gue mungkin gak bakal kepikiran kayak gini kalo si Satya gak habis mukulin anak gangster sendirian kemarin malam. Dan dia menang. Itu udah jadi bukti nyata kalo kemampuan dia gak sama kaya tahun lalu."
Raga bangkit. Membawa sebuah buku di tangan kiri dan menepuk pundak Kevin dengan tangan yang lain. "Lo tenang aja. Gue bisa ngadepin dia."
"Gue percaya lo bisa ngadepin dia. Gue gak percaya sama Satya buat bisa ngadepin lo dengan jujur. Dia obses banget ngalahin lo sejak kekalahannya waktu itu."
Raga bisa mengingat kejadian tahun lalu yang cukup membekas. Saat dirinya menumbangkan seorang petinju kelas satu di Box yang langsung membawa Raga menjadi petinju kesayangan Mex. Menggantikan tempat Satya.
"Bukan cuma Satya yang berkembang disini. Lo pikir gue ngapain tiap hari?"
"Pacaran sama Metta?" Tebak Kevin. Membuat Raga harus memandangnya dengan kening berkerut.
"Kok jadi bawa bawa Metta?"
Kali ini, seulas senyuman hadir di bibir Kevin. Membuat Raga menyipitkan matanya karena mengerti maksud sahabatnya itu adalah untuk meledek dirinya.
"Lo mau gue tonjok?" Tawar Raga.
Kevin kemudian tertawa. "Yailah mentang-mentang jago tinju. Santai bro. Gue gak masalah apa apa soal lo jalan sama Metta. Hak lo buat pacaran sama siapa aja."
"Gue gak pacaran sama Metta."
Kevin mendengus. Menyadari penuh jika ucapan Raga itu sama sekali tidak berdasarkan kenyataam yang ada. Kevin terlalu mengenal Raga untuk bisa percaya di berikan sebuah kamusflase seperti itu.
"Pesen gue cuma satu. Usahain aja si Satya gak nonjok muka lo. Ribet entar."
Raga mendengus. Ia mengangkat bahu lalu berlalu dari sana. Ketika akan berbelok menuju perpustakaan langkahnya terhenti karena teringat sesuatu. Raga buru-buru berbalik dan mengambil lorong terdekat menuju kantin.
Ia mengambil langkah ke arah kantin yang paling sepi karena malas mengantri. Mengangguk singkat pada ibu kantin yang menyapanya. Raga melihat keranjang roti di tengah meja. Ia mengambil dua buah dengan rasa coklat dan stroberri.
"Berapa bu?"tanyanya.
"Dua puluh ribu."
Selesai membayar Raga kembali menapaki jalan menuju perpustakaan yang sepi. Berbelok di ujung lorong dan melewati jalan samping untuk sampai di taman belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SIN [Completed]
Fiksi Remaja(Sudah diterbitkan - Tersedia di toko buku) SEGERA DIFILMKAN. #1 in Teen Fiction, 25 Mei 2017 Ametta Rinjani Cewek paling cantik disekolah. Suka dugem, sombong, tidak peduli pada apapun selain dirinya sendiri. Memiliki predikat playgirl...
![SIN [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/75602829-64-k813253.jpg)