23 - Minyak Kayu Putih

499K 31.5K 7K
                                        

Jika ada yang bertanya tentang bahagia, aku hanya perlu melihatnya.

- Ametta Rinjani-

- Ametta Rinjani-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Senyum Metta selalu berkembang ketika berhubungan dengan Raga. Walaupun hanya dengan melihat mobil cowok itu yang baru saja tiba di halaman apartemennya.

"Lo pernah ke dufan gak?" Tanya Raga siang itu saat jam istirahat pertama di taman belakang perpus.

"Belum pernah ke sana sih. Taman bermain buat anak kecil gitu kan?"

Raga mengangguk. Tetap mengarahkan matanya ke arah buku. "Mau kesana?"

Tanpa menunggu roti yang ada di mulutnya tertelan, Metta langsung mengangguk. Baginya, tidak peduli ke mana tujuannya, karena mendapat ajakan dari Raga secara langsung adalah hal langka.

Saat mobil itu berhenti di lobi, Metta langsung menghampiri. Tas selempang yang ia kenakan bergoyang mengikuti langkah terburu-burunya dan ikut berhenti ketika matanya menemukan seseorang tengah duduk di kursi depan.

Matanya melotot. Metta maju dan mengetuk kaca mobil tidak sabaran. "Ngapain lo di sini?" Tanyanya.

"Kakak yang ngapain pake ikut-ikutan acara orang?" Balas anak itu tak kalah sewot. "Kayak gak punya kerjaan lain aja."

Mulut Metta terbuka. Ia menatap Raga dengan mata meminta penjelasan.

"Jangan ribut. Masuk,"

Sonya melipat tangannya dengan dagu terangkat untuk Metta. "Tau nih. Udah dijemput, lama lagi. Keburu sore tauk,"

"Gue mau duduk di depan, minggir lo."

"Enak aja," Sonya menurunkan kaca mobil lebih lebar. "Sejak kapan kursi depan jadi punya kakak? Ini udah jadi wilayah kekuasaaku. Cuma aku yang boleh duduk di samping Bang Raga,"

"Eh ini anak kecil. Pindah gak?! Gue pites amburadul lo!"

Raga yang sepertinya tau tidak akan berakhir kekeras kepalaan keduanya memilih turun. Ia membuka pintu penumpang di belakang untuk Metta.

"Gak mau, gue mau di depan. Adek lo aja suruh ke belakang." Ucap Metta bersidekap.

"Sama aja percumanya. Kepala dia gak lebih keras dari kepala lo."

"Kalo gitu gue juga gak mau,"

"Lo bocah?"

"Enggak!"

"Yaudah masuk,"

Tanpa mengindahkan wajah cemberutnya, Raga menarik Metta masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi belakanh dengan perasaan dongkolnya.

"Nanti-nanti abang gak usah ajak dia aja. Orangnya kayak anak kecil, susah diatur." Ucap Sonya.

Raga tersenyum kecil seraya melirik ke kaca spion.

SIN [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang