Plan didn't work as well.

956 113 14
                                        

Sehun POV.

Semua sudah siap. Mobil, karangan bunga, boneka, dan setidaknya sedikit cemilan sudah siap. Tekadku bulat untuk hari ini, untuk mengajak Soojung pergi, berdua. Hanya kami berdua.

Tapi bodohnya aku selalu lupa untuk meminta nomornya. Kenapa harus selalu seperti ini? Ingin rasanya aku membenturkan kepalaku ke dinding. Aku sedikit gemetar, padahal aku tahu ini bukan pertama kalinya aku mengajak kencan seorang gadis.

Aku seperti seorang anjing yang kehilangan majikannya. Tunggu, apa majikan kata yang tepat? Tidak. Sepertinya tidak.

Kenapa aku begitu bodoh? Selama ini aku punya kesempatan untuk menanyakan dimana kamarnya, tapi entah kenapa hanya melihat manik matanya, membuatku hilang sepenuhnya didalam manik indah itu.

Mengapa orang yang sedang terlihat jatuh cinta bertingkah diluar akal sehat mereka?

Aku terus terusan membuang hela nafasku dengan kasar, berharap bahwa ada sedikit keajaiban.

"..kau ini cari siapa sih? "
"Itu, aku mencari-"

Aku diam sejenak setelah mendengar suara yang tak begitu asing. Tapi bukan suara Soojung. Seorang gadis yang, well, cukup manis dengan matanya yang membentuk bulan sabit saat ia tersenyum. Bibirnya sedikit tebal, namun terlihat manis.

"Aku.. Choi Jinri. Salam kenal! " ujarnya sambil menjulurkan tangannya dan tersenyum lebar padaku
"A-aah, aku-"
"Oh Sehun. Aku sudah mengenalmu" ujar gadis ini
"Well, aku tak tahu aku begitu terkenal di kalangan gadis gadis" ujarku sembari merendah
"Apa kau sedang tak sibuk? Mungkin kau mau menemaniku jalan jalan di sekitar sini?"

Well, mungkin bukan ide yang buruk.

"Baiklah" jawabku

###

Jongin POV.

Entah ini yang mungkin apa yang dirasakan ketika seorang insan tengah jatuh cinta.
Bahkan aku tak mampu berpikir dimana kiri, kanan, maupun atas ataupun bawah.
Semuanya terlihat berbeda,

Ketika kau datang, Jung Soojung.

Ia masih tertidur dengan lelapnya dipelukanku. Aku mulai terbiasa dengan keadaan kami yang seperti ini. Mungkin setelah aku pikir kembali, sebuah hal konyol ketika aku menganggap ia akan menjadi bencana untukku, ternyata sebaliknya. Ia membawa pelangi, untukku. Aku mulai bermimpi indah selama aku mendekapnya erat didalam kedua lenganku. Aku melupakan segala hal hal yang buruk didalam hidupku, hanya dengan memeluknya. Seakan dialah bagian yang selama ini aku cari, untuk menghilangkan kehampaan di dalam hidupku. Tapi seakan ada sesuatu yang menghalangiku untuk jatuh lebih dalam kepadanya, tapi apa itu?

Tanpa kusadari, ia bergerak pelan didalam pelukanku, sembari mengerdipkan kedua matanya perlahan

"Selamat pagi" ucapnya

Bahkan suaranya ketika bangun tidur adalah suara yang jauh lebih indah dari alarm ku.

"Selamat pagi, tidurmu nyenyak?" tanyaku membuka topik obrolan
"Ya.. Lumayan. Aku bahkan lupa terakhir kali aku bisa tidur se-nyenyak ini" jawabnya sembari menatap langit langit tempat tidur
"Berada dalam pelukanmu mungkin akan menjadi tempat favoritku" ujarnya lagi sembari tersenyum kecil padaku

Jantungku berdetak kencang setelah ia menyelesaikan ucapannya. Seharusnya aku tak pernah ragu dengan perasaanku.

Aku bergerak pelan, memposisikan diriku berada di atasnya tanpa membebani dirinya dengan bobot badanku, kutepis jarak antara keningku dan dirinya, dan memberanikan diriku untuk mengecup pelan bibirnya, sekali. Namun respon nya yang kilat dengan mengecup kembali bibirku membuatku sedikit kaget. Untuk menghindari bagian yang sangat ingin kuhindari, aku menarik diriku.

Roomates With Contracts [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang