Chasing Pavement

630 52 4
                                        


Jongin POV. 


Soojung sudah membuat keputusannya. Dan aku, seorang pengecut bernama Kim Jongin, lagi lagi, menghilangkan kesempatanku untuk merebutnya. Mungkin untuk laki laki lain yang seberuntung aku sudah berusaha mati-matian untuk merebut Jung Soojung sekarang. Tapi tidak, aku bukan orang yang seperti itu. Kalaupun aku ingin memilikinya, aku ingin memilikinya tanpa melalui sebuah cara yang licik. 


Ya, aku memang buta akan hal yang bernama cinta


Tapi memang cinta itu buta, iya kan? 


Bahkan cinta bisa menghilangkan akal sehatmu. Kau akan lebih mendengarkan kata hatimu, dibanding akal sehatmu. Dan tampaknya untuk sekarang, aku tidak bisa mendengarkan kata akal sehatku. Sepertinya aku terlalu terhipnotis. 


"Hari terakhir sekolah adalah 3 hari lagi, apa kau akan pulang ke rumah asalmu?" tanya Soojung 

Aku menggeleng, "Aku tinggal dengan tetanggaku, yang juga bagaikan kakak untukku" jawabku 

"Kenapa kau tidak ingin kembali ke rumah asalmu?" ujarnya lagi

"Aku tidak ingin terluka, atau luka luka lamaku terbuka kembali"


***************


Aku tidak begitu bersemangat untuk pelajaran hari ini. Semua pelajaran membosankan ada di hari ini. Aku menguap terus terusan selama pelajaran berlangsung.

"Kau tampak lelah" bisik Taemin pelan 

"Hmm" ujarku pelan sambil menutup mataku 

"Apakah ini tentang Princess lagi?" goda Taemin sambil menyikut lenganku

"Dude. shut the fuck off" ujarku sedikit gusar


**** 


Soojung POV.


"Saya harap sebelum libur sekolah kalian sudah mengirimkan tugas kalian yang bersifat soft copy ke email saya. Bahan untuk makalah sudah tersedia di website, kalian tinggal mengunduhnya. Selamat mengerjakan" ujar Donghae oppa didalam kelasku 


"Oh dan, Nona Soojung?" ujarnya tiba tiba sambil menatap kearahku. Aku membalas tatapannya dengan tatapan benci. Ia pasti mengerti betul kenapa aku tak menyukainya 


"Ikut ke ruanganku sebentar" ujarnya sambil keluar dari kelas dengan sok cool nya itu. 


'Dia pikir dia siapa' gumamku sebal dan mengekorinya menuju ruangannya. Ia tengah  duduk dengan sebuah cangkir kopi dengan uap yang mengepul, mungkin dia baru saja menyeduhnya.


"Duduk" titahnya

Akupunn mengikuti instruksinya dan menatapnya dengan tatapan geram, "Jangan pernah berpikir aku akan melunak denganmu"

Ia hanya tertawa kecil, "Aku tidak pernah memintamu untuk menyukaiku"

"Jauhi kakakku" ujarku semakin geram 

Roomates With Contracts [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang