It's (not) fine.

715 92 8
                                        

Jongin's POV. 


I'm loss of words. 


Berulang kali aku mengacak acak rambutku sembari mengutuk diriku sendiri. Tak ada yang membuatku lebih baik dari ini. Aku melarikan diriku ke atap gedung ini. Memutuskan untuk kabur dari 1-2 pelajaran untuk menghilangkan ingatanku akan tadi. Tapi lagi-lagi aku berakhir dengan airmata. Sial. Se-cengeng inikah seorang Kim Jongin? 


Soojung akan bahagia. Soojung akan bahagia dengan Sehun. Soojung pasti akan selalu bahagia dengan Sehun. 


Aku rasa aku hanya perlu membiasakan diriku mulai hari ini. Tapi kemudian aku ingat bahwa aku pasti akan bertemu Soojung di dalam dorm. Adakah alasan terbaik untukku tetap disitu? 


** 

Soojung POV.


Tak pernah kubayangkan sebelumnya menjadi seorang kekasih dari Oh Sehun. Diantara seluruh gadis gadis yang menyukainya, ia memilihku. Tapi anehnya, kenapa hatiku tidak berdebar seperti yang seharusnya? 

"Kau yakin kau tidak ingin aku mengantarmu sampai ke dorm mu?" tanya Sehun yang tak dapat berhenti mengenggam tanganku 

"Tidak.. Tidak perlu. Selamat malam" ujarku sambil tersenyum manis kearahnya dan pergi meninggalkannya

Aku berjalan di dalam lorong yang gelap menuju kamarku. Aku melihat sudah ada sepatu Jongin di luar pintu. Dia sudah ada didalam sepertinya. Aku membuka pintuku perlahan, karna aku tidak tahu apakah dia sudah tidur atau belum. Setelah masuk, aku menutup pintu dengan rapat, aku melihat sesosok Jongin yang sudah menutupi seluruh badannya dengan selimut. Dia sudah tidur. Entah kenapa sisi dari diriku berharap dia tidak mengetahui tentang apa yang baru kulalui hari ini. 

"Jongin?" ujarku pelan 

Kuperhatikan sejenak, sepertinya memang sudah tidur. Baiklah. 

"Semoga aku tidak menganggumu" ujarku sambil tersenyum kecil, menahan pilu yang tak jelas darimana datangnya. 


Jongin's POV.


Aku tidak tidur semalaman. Aku hanya tak siap menatap wajahnya, untuk sementara. Tapi tidak didukung dengan fakta bahwa kita satu kamar, yang malah membuatku tersiksa. Semua yang menyangkut tentang Soojung terlalu menyakitkan untuk sekarang. 

Sudah pukul 3:45 dan dia masih tertidur pulas di ranjangnya. Bahkan ia tak terusik sedikitpun dengan suara percikan air saat aku mandi. Sebegitu indahnyakah harimu kemarin, Jung Soojung? Sudahlah, aku tak akan menganggu bahagiamu. Kau berhak mendapatkannya. 

Aku dengan pelan pelan keluar dari kamar, menutup pintu dengan sangat perlahan. Aku juga memperhatikan bunyi langkahku, agar tak ada yang curiga dengan keberadaanku. Aku pergi dari dorm menuju ke gedung utama. Terlalu pagi? Memang. Tapi semakin lama aku berada disana, aku bisa gila dengan ingatanku kemarin. Kini aku tersesat antara apakah aku ingin di Cafetaria atau pergi ke Lapangan Indoor. Seingatku, Lapangan Indoor sekolah ini tak pernah dikunci, mungkin aku bisa berdiam diri sementara disana, ataukah aku harus naik ke puncak, sambil menikmati matahari terbit nanti? I'm too clueless to think. Pilihanku akhirnya pergi ke Cafetaria untuk membeli Ramyeon cup dan kubawa sampai puncak gedung. Aku duduk bersila sambil menikmati udara dingin yang sedikit menusuk tulang, tapi tidak apa-apa. 

Roomates With Contracts [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang