Dark Past

1.5K 205 5
                                        

A / N ;

Budayakan untuk meninggalkan jejak di setiap part! Caranya? Klik bintang di pojok kiri bawah ya readers ㅎㅎ

/ / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / /

Jongin POV.

Ini alasanku membenci hari Senin. Selalu terselip kesialan kesialan didalamnya. Atau justru memang hidupku selalu sial? Atau memang jalanku dengan hidup yang berselipkan kesialan? Ah, persetan dengan pemikiran ini.

Aku menyapu pandanganku ke setiap koridor kelas. Aku bahkan tak tahu dimana kelasku. Kesialan pertama yang kualami di hari pertama sekolah. Arlojiku sudah menunjukkan pukul 07.00 KST. Ya Tuhan.

"Hei! Kau!" ujar seseorang dibelakangku

Aku menolehkan kepalaku kebelakang. Ah tidak, jangan dia lagi. Pria tua yang menjaga pintu gerbang saat aku terlambat.

"Dimana kelasmu, Tuan Muda?" tanya nya sopan
"Mana kutahu" ujarku jujur

Pria tua itu cukup terkejut mendengar perkataanku barusan. Memangnya apa yang salah dengan ucapanku?

"Tuan Muda, kau memang benar benar harus memperbaiki sikapmu" ujarnya masih sopan
"Tidak ada yang salah dengan sikapku" ujarku sedikit ketus

Pria tua itu hanya menggelengkan kepalanya, "Bagaimana bisa anak muda sekarang tidak punya prinsip hidup. Apa jadinya kau kalau kau tidak punya prinsip hidup?"
"Apa hubungannya perilaku ku dengan prinsip hidupku? Kau bahkan tak tahu apa apa tentang prinsip hidupku!" ujarku sedikit sewot
"Tuan Muda, lihat dirimu. Begitu berantakan, begitu acuh, begitu naif. Kuyakin semua orang punya prinsip hidup, sama seperti layaknya kau. Tapi dilihat dari sikapmu saja, aku meragukannya" jelas Pria tua ini
"Ingat baik-baik Tuan Muda. Perilakumu menggambarkan prinsip hidupmu. Kau begitu acuh terhadap dirimu sendiri, apa kau masih ingin mengatakan kau memiliki prinsip hidup?"

Kata kata yang dilontarkannya begitu menampar diriku. Sedikit demi sedikit ucapannya merasuk kedalam pikiranku. Mindset ku memang aku ingin menjadi orang bebas. Hidup sebebas apa yang aku inginkan. Ya benar, aku terlalu acuh terhadap diriku sendiri. Dan bahkan aku belum mendapatkan bayanganku untuk menata hidupku. Semua masih begitu abu-abu untukku. Sejak aku dikirim kembali ke Seoul, pikiranku kacau balau. Aku bahkan memberontak. Baik terhadap diriku sendiri, atau terhadap orang lain. Mungkin sifat tempramental dan keras kepalaku ini yang membuat orang tuaku mengirimku kembali ke Seoul. Mereka mungkin sudah menyerah terhadapku, sementara aku sudah menyerah terhadap diriku sejak saat itu.

"Aku ini guru konseling" ujar pria tua itu
"Ekspresimu berubah, Jongin-ssi" ujarnya lagi
"Mau membicara-"
"Tidak perlu." ujarku dingin setelah memotong perkataannya

Aku memutuskan untuk menggerakkan kakiku untuk meninggalkan pria tua itu. Pikiranku kosong. Aku tak dapat berpikir apa-apa. Sangat tidak mungkin untukku jika aku harus ke kelasku, karna pikiranku kacau saat ini. Dan memutuskan untuk ke toilet, hanya untuk bersembunyi.

Kebetulan toilet ini sedang sepi. Aku memasukki salah satu biliknya, tak lupa mengunci pintunya. Aku mengistirahatkan tulang ekorku tepat di atas kloset. Lagi lagi aku harus merenung seperti orang gila. Seperti aku yang dulu.

"Mrs. Kim, anakmu berulah lagi" ujar Kepala Sekolah sembari menatap tajam diriku
Ibuku hanya menghela nafas kecil, "Kali ini apa ulahnya?"
"Dia mencoret-coret mobilku" jelas Kepala Sekolah tenang
"Boleh saya tahu apa Jongin punya masalah dirumah?" tanya Guru Konseling
"Ti..tidak" ujar Ibuku tergagu
"Dia sudah membuat lebih dari 5 kekacauan di sekolah ini, Mrs. Kim. Dan kita sama sama tahu itu bukan?" ujar Kepala Sekolah
"Kumohon, aku janji anakku akan berubah. Beri dia kesempatan lagi" mohon Ibuku
"Kuharap aku bisa. Tapi keluhan mengenai anakmu dari wali murid yang berurusan dengan anakmu sudah terlalu banyak. Ini dapat memengaruhi reputasi sekolah" jelas Kepala Sekolah

Roomates With Contracts [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang