Keesokan paginya. Nugie tetap datang ke kantor lebih awal dari rekan-rekan kerjanya yang lain. Berbanding terbalik dengan Vino.
"Ahh... Terlambat lagi!" seru Vino dalam hati.
Dalam perasaan was-was itu, dia memasuki ruangan HRD-nya pelan-pelan. Dia menghela napas panjang saat akan membuka pintu itu.
"Terlambat lagi?" tanya seorang wanita mengagetkannya. Vino mematung.
"Kapan kamu bisa disiplin?" Vino menundukkan pandangannya setelah mendengar perkataan itu.
"Sekali lagi kamu terlambat, saya akan turunkan surat peringatan untuk kamu!" seru wanita tersebut memperingatkan.
"Iya Bu, lain kali saya tidak terlambat lagi," Vino memelas sambil tetap menunduk.
Wanita tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya, dengan tingkah laku Vino yang terkadang menjengkelkan. Walaupun Vino sering terlambat datang ke kantor, rekan-rekan kerja di kantornya senang dengan keberadaannya di sana. Dia terkenal sebagai pria yang humoris dan juga ramah. Jarang sekali ada perselisihan yang terjadi dalam kehidupan kerjanya.
Akhir pekan di tahun 2003 akhir, Nugie dan rekannya yang bernama Ahmad mendatangi sebuah universitas swasta di kota Banyuwangi untuk memenuhi undangan sebagai pembicara di sana. Mereka berdua bertemu langsung dengan beberapa mahasiswa yang tergabung dengan salah satu organisasi kepemudaan di universitas tersebut, serta beberapa dosen dan pengamat politik lokal. Disana, mereka memperbincangkan banyak hal mengenai masalah-masalah yang sering timbul di masyarakat belakangan ini, khususnya ketenagakerjaan dan isu-isu yang berkembang dalam dunia politik di Indonesia saat itu.
Forum perbincangan itu ternyata terlihat sangat menarik perhatian beberapa lembaga kepemudaan di wilayah Banyuwangi. Karena tema yang diangkat pada waktu itu adalah sebuah realita kehidupan yang ada di dalam masyarakat dalam sebuah karya sastra. Utamanya tentang pembahasan masalah ketenagakerjaan yang masih terlihat rancu untuk dibicarakan pada tahun-tahun reformasi ini. Semua orang yang menghadiri forum tersebut terlihat begitu antusias mendengarkan pembahasan tentang masalah ketenagakerjaan yang akhir-akhir ini marak sekali diperbincangkan setelah ada keputusan undang-undang ketenagakerjaan no. 13 tahun 2003 bergulir. Teori tentang paham kapitalis juga menjadi bahan perbincangan yang lain bagi mereka.
"Apa pendapat anda tentang masalah ideologi kapitalis yang sebenarnya sudah akan berkembang dewasa ini? Walau belum sepenuhnya berjalan?" salah seorang mahasiswa berkacamata bertanya pada Nugie.
Nugie mendengarkan pertanyaan itu dengan seksama. "Sebenarnya itu sesuatu yang sulit untuk dijawab, karena masalah ini masih menjadi pro-kontra di masa-masa sekarang," ia menggerak-gerakkan tangannya untuk memperjelas dan mempertegas apa yang ia katakan.
"Kita semua pasti tahu, untuk meningkatkan jumlah devisa negara melalui produksi ekspor ke luar negeri, kita perlu melakukan sesuatu, salah satunya yaitu menambah jumlah investor asing masuk ke Indonesia agar mereka mau menanamkan modalnya di negara kita. Yang otomatis ini bisa membantu perputaran roda perekonomian kita untuk berjalan lebih besar dan maju. Dalam hal ini akan sangat erat kaitannya dengan sektor pembangunan ekonomi yang akan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi ideal, imbasnya kesejahteraan masyarakat tercapai." ujarnya antusias. Beberapa mahasiswa nampak saling berbincang dengan rekan di sebelahnya setelah Nugie mulai menanggapi pertanyaan tadi.
Setelah meminum beberapa teguk air, Nugie melanjutkan kembali pembicaraannya. "Dari pemaparan itu semua, pasti akan ada sebuah sistem yang akan mendukung langkah-langkah tersebut. Salah satunya adalah outsourching yang sudah ada untuk tahun ini. Cara ini akan sangat membantu para pengusaha untuk meningkatkan efisiensi biaya dari pemotongan upah karyawan guna meningkatan kapasitas produksi dengan orientasi profit. Dalam perjalanannya nanti akan sangat bagus untuk iklim perekonomian negara kita," tuturnya lagi. Dia masih begitu antusias dalam menjelaskan gagasannya sambil memandangi satu per satu mereka semua orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
NUGIE
RomancePerempuan, cinta dan Purnama adalah sebuah kesatuan yang tak terpisahkan diantara kisah romantisme sang demonstran. _______________________________________ NOVEL ini pernah diterbitkan dengan judul "ACTA ES FABULA di Surakarta ; ISBN : 978-602-6915...
