Keesokan harinya, "Mas, bangun-bangun!" Vino menggoyang-goyangkan tubuh Mas Firman. Cuaca dingin pagi itu membuat Mas Firman enggan bangun dari tempatnya tidur. Ia hanya menggerakkan badannya sebentar lalu tidur lagi.
Vino melihat jam tangannya, dia terkejut ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Ia segera keluar sebentar untuk melihat keadaan di luar tenda. Nampak beberapa pendaki sudah mulai melipat perbekalan dan tendanya masing-masing. Sementara itu dari arah lain dia melihat Audry dan Intan sedang me-repacking perlengkapan yang akan dibawa bersama Andre dan Nugie.
"Udah bangun No?" tanya Audry. Intan menimpali, "Tadi aku sudah bangunin kamu, tapi kamunya gak mau bangun juga."
"Iya nih, badan pegel-pegel. Cuaca dingin banget di sini!" ujarnya menggigil.
Termometer digital sudah menunjukkan suhu -1 derajat celsius pagi itu. Frozzen ice terlihat di beberapa titik tenda mereka masing-masing. Sambil melihat buliran es tadi Vino berujar sendiri, "Gila, makanya dingin banget."
"Tan...," panggil Vino sambil menunjukkan buliran es yang dia ambil dari atas tendanya, "Ini...," tunjuknya.
Intan memegang buliran es yang ditunjukkan oleh Vino. "Gila, ada es di sini. Pantas aja dingin banget," ia sedikit terperanjat saat melihat beberapa butiran es sudah menghiasi beberapa titik di dekat tendanya.
"Minus 1 derajat celsius. Ini namanya di dalam kulkas. Mana banyak kabut di sini," gerutu Vino lagi.
Waktu berlalu dengan cepat, pukul tujuh pagi rombongan mulai bersiap melanjutkan perjalanan tanpa sarapan terlebih dahulu. Di depan tanjakan cinta, Vino berhenti mendadak di depan Mas Firman. Mas Firman pun sontak menabraknya, "Kenapa?" tanyanya kesal.
"Tinggi ya Mas?" kata Vino sambil menoleh ke Mas Firman. Nampak wajah ragu mulai menyelimutinya. Dia melihat lagi ke atas, lalu menarik napas dalam-dalam, "Puncak masih jauh ya mas?" tanyanya lagi.
Kembali Mas Firman tersenyum dan berujar pelan, "Kamu bisa. Ayo kita lanjutkan."
"Mas...," panggilnya.
"Ada apa lagi?" tanya Mas Firman sedikit kesal karena pertanyaan Vino selalu saja berulang-ulang.
"Kita harus lewat sini? Sekarang? Apa enggak ada jalan yang lebih bagus lagi? Atau jalan yang bisa dilewati motor atau apalah yang gampang," tanya Vino lagi dengan wajah yang mulai merasa tidak yakin dengan jalan yang harus dia tempuh saat ini.
"Ini jalan satu-satunya ke arah gunung Semeru," kata Mas Firman singkat.
"Kira- kira kuat enggak ya?" tanyanya lagi yang mulai tidak percaya diri dengan tanjakan yang ada di depannya.
"Tau deh, paling-paling kalau enggak kuat kamu jadi tong yang menggelinding dari atas terus nyemplung ke air dingin itu," goda Nugie.
Vino melihat Nugie dengan sinis, dengan memiringkan wajah serta mengernyitkan dahi, seakan-akan dia tidak percaya kalau dia mirip sekali dengan sebuah tong yang jatuh menggelinding dari atas tanjakan cinta ini. Kemudian dia melirik Mas Firman yang sedang menatap tingginya tanjakan cinta, "Mas, udah berapa kali ke sini?" tanyanya lagi pada Mas Gembul.
"Ini untuk yang ketiga kalinya aku ke Gunung Semeru, jadi tanjakan ini adalah tanjakan yang sudah aku lalui sebanyak tiga kali," ujarnya singkat sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Beneran?" tanyanya lagi yang masih tidak percaya dengan ucapan Mas Firman.
"Iya," jawab Mas Firman.
"Kok kuat?" tanyanya lagi.
Mas Firman mendekati Vino, kemudian dia memegang kedua bahunya seraya berkata, "Aku kuat dan bisa, kamu juga pasti bisa!" Sontak saja Vino memaparkan senyuman yang seakan dia memiliki teman seperjuangan yang bisa melewati tanjakan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
NUGIE
Storie d'AmorePerempuan, cinta dan Purnama adalah sebuah kesatuan yang tak terpisahkan diantara kisah romantisme sang demonstran. _______________________________________ NOVEL ini pernah diterbitkan dengan judul "ACTA ES FABULA di Surakarta ; ISBN : 978-602-6915...
