BAB 17 - "Stand for what is right even if you are standing alone"

7 4 0
                                        

Keesokan paginya, setelah selesai sarapan pagi dengan nasi dan lauk sederhana pemberian keluarga Pak Kasimin, mereka semua bersiap untuk memulai perjalanan. Di pagi hari yang dingin itu, Mas Firman kembali memimpin rekan-rekannya untuk memanjatkan doa bersama agar diberikan kelancaran dalam perjalanan kali ini.

"Hati-hati di jalan!" seru Pak Kasimin melepas kepergian mereka bertujuh. "Jangan lupa dengan sampahnya!" tambahnya.

Dalam perjalanan awal itu, mereka mulai menyisir desa Ranupane. Disekitaran tempat mereka berjalan tampak ladang dari penduduk sekitar tertata dengan rapi, wajah-wajah ramah penduduk sekitar juga menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Senyuman yang jarang sekali ada dalam dunia perkotaan. Vino dan Ahmad terlihat begitu antusias sama sepeti Intan dan Audry. Mereka benar-benar terkesima dengan pemandangan itu. Pemandangan yang begitu mengindahkan hatinya.

Perjalanan pun dimulai setelah pintu masuk ke kawasan Semeru terlihat dari pos Ranupane menuju Lendengan Dowo, 2270 mdpl yang berjarak sekitar 60 menit perjalanan. Jalananpun masih terlihat landai, kanan kiri mereka banyak dijumpai pohon akasia yang mendampingi perjalanan mereka.

"Lendengan Dowo, 2270 meter di atas permukaan air laut," kata Mas Firman menunjukkan nama tempat mereka semua berdiri saat ini.

"Pohonnya gede-gede ya!" Intan takjub, perkataan dari bibirnya selalu mengungkapkan sesuatu yang jarang sekali ia lihat.

"Ini vegetasi alami di pegunungan," sahut Nugie yang sedari tadi berada di dekatnya. Intan meliriknya sambil tersenyum.

"Masih kuat semuanya? Kita harus atur ritme perjalanan kita nanti," mas Firman memeberikan arahan pada mereka semua.

Perjalananpun berlanjut, kurang lebih 30 menit kemudian, mereka sampai pada sebuah panorama tebing batu tinggi yang menjulang ratusan meter. Di sinilah watu rejeng berada, dengan ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut.

"Break," Vino berseru pada Mas Firman yang memimpin di depan. Ia membungkukkan badannya sejenak, sambil menghela nafas yang mulai tidak beraturan.

"Oke break, istirahat," kata Mas Fiman yang mendekat ke arah Vino berada. "Capek?" tanya Mas Firman.

"Iya Mas capek! Semeru masih jauh Mas?" tanyanya. Vino nampak kepayahan, berjalan dan membawa beban carrier  80 liter di punggung adalah pengalamannya yang pertama kali. Berbeda waktu dia mendaki Gunung Ijen dengan tas carrier yang memiliki ukuran paling kecil.

"Udah dekat," kata Mas Firman tersenyum. Peluhnya mulai mengucur deras diantara pelipis matanya.

"Berapa jam lagi Mas?" tanyanya lagi sembari melihat jam tangannya. Mas Firman menepuk-nepuk pundaknya dan berkata pelan, "Aku bisa, kamu pasti bisa!" kata Mas Firman sambil memegang perut gembulnya. Dan kembali Vino tersenyum, hatinya kembali terlecut semangat. Intan dan Audry kembali tertawa melihat pemandangan konyol itu.

Perjalanan kurang lebih sudah hampir sekitar 5 km dari pos Ranupane, memang suasana alam ini menyuguhkan eksotisme alam tersendiri, yang membuat perjalanan tidak begitu terasa melelahkan. "Enggak kebayang sulitnya medan di sini waktu Pak Kasimin muda dulu," ujar Ahmad sambil terengah-engah di tengah perjalanan. Nampak dari buliran keringat yang jatuh di antara dahi dan topi rimbanya.

Rombongan ini pun berulang kali berhenti sejenak untuk menghela napas. Vino masih terlihat terengah- engah, walau sebelum pendakian ini dia sudah berlatih fisik yang cukup. Audry dan Intan juga tampak sama menahan rasa lelah tubuhnya.

"Melewati hutan lebat, menyusuri jalan setapak, tas carrier seperti kita ini mana mungkin ada," tambah Vino yang masih terengah-engah dan kepayahan.

NUGIECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang