Kehidupannya serba komplek, seakan semua masalah selalu menyelingi perjalanan kehidupan pribadinya. Ia yang selalu menentang arus kepemerintahan yang baginya adalah suatu hal yang harus dan wajib ia lakukan sebagai muda-mudi yang berani sampai ia sendiri lupa akan urusan pribadinya yang sebenarnya menarik bagi sebagian wanita yang mengagumi diamnya. Iapun akhirnya bertemu seseorang yang membuatnya merasa menjadi manusia yang tak biasa. Dia bernama Dewi, perempuan yang dia temui beberapa waktu yang lalu, dikarenakan seringnya ia mengirimkan tulisan-tulisannya di tempat Dewi bekerja di salah satu koran lokal. Nugie menyadari ada sesuatu yang lain pada Dewi. Dia menyadari apa yang terjadi sebenarnya saat itu. Seringkali ia menyempatkan waktu untuk berjalan bersama dengan Dewi. Seperti saat malam itu, setelah menonton sebuah tayangan di bioskop, mereka berdua berjalan bersama menyusuri pinggiran trotoar jalanan malam kota Banyuwangi. Malampun nampak terlihat mesra bagi keduanya.
"Filmya tadi bagus ya!" seru Dewi dengan wajah riangnya.
"Kamu suka film ternyata." kata Nugie dengan kedua tangan yang berada di dalam kedua saku jaketnya. Wajahnya tak terlihat muram, ada senyum bahagia yang terpancar dari sudut bibirnya.
"Iya. Dulu aku punya cita-cita punya film sendiri. Tapi sampai sekarang masih belum bisa buat sama sekali," ujarnya dengan masih tetap memasang wajah riangnya.
"Oh ya, kapan-kapan kita nonton lagi ya. Mau kan aku ajak nonton lagi?" tanyanya mengharap jawaban "iya" darinya.
Dewi tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Mau!"
Mereka saling menatap tanpa berkedip, Dewi berusaha menerjemahkan tatapan itu. Dia ingin berkata, "Aku ingin bersama kamu. Seperti saat sekarang ini." Akan tetapi niat itu dia urungkan. Nugie lantas tersenyum hangat saat ia bertatapan dengan Dewi.
"Mau jagung rebus?" tanya Nugie mengagetkan.
Dewi melihat ke sekeliling, "Boleh," jawabnya centil.
Mereka berdua benar-benar menikmati kebersamaan di waktu malam itu. Menonton dan memakan jagung rebus di pinggir jalan adalah sesuatu hal yang menyenangkan bagi mereka berdua. Entahlah, apakah itu yang dinamakan cinta atau hal lain yang tidak bisa dipahami manusia. Mereka belum sepenuhnya bisa memahaminya. Kedekatan itu membuat Nugie semakin tahu apa arti keindahan puisi-puisi yang ia buat selama ini, walau ada sedikit rasa gamang yang tidak dia mengerti.
Semuanya terasa berbeda. Seakan segala sesuatunya terasa begitu indah. Malampun seakan menjadi begitu puitis bagi Nugie. Ia sedikit melupakan penatnya kehidupan yang selama ini selalu menjadi beban pikirannya. Lewat cinta yang sederhana itulah ia yakin bahwa cinta adalah anugerah yang sangat luar biasa. Sementara di lain waktu, Intan menemui Vino di sebuah warung mie ayam di daerah Pecinan untuk membicarakan beberapa hal yang sudah terjadi, baik demonstrasi yang sudah dilakukan Nugie dan juga tentang permasalahannya dengan Yoga, kekasihnya. Namun tanpa diketahui, ternyata Intan sudah dibuntuti oleh orang suruhan Yoga, hingga di tempat ini. Mereka berdua masih belum menyadari kedatangan mereka.
"No..." panggilnya.
"Ada apa?" jawab Vino.
"Aku capek dengan semua ini. Aku udah enggak tau lagi harus cerita ke siapa. Keluargaku berulangkali mendapat ancaman dari Yoga. Aku enggak tau lagi harus berbuat apa. Aku sudah enggak pengen hidup lagi," keluhnya pada sahabatnya dengan derai air mata yang kembali menetes perlahan.
Vino membetulkan kacamatanya, lalu memegang kedua tangan Intan, "Tan, kamu lihat aku sekarang!" sambil sesenggukan Intan menatap Vino yang berada di depannya.
"Kamu masih ada aku, ada Nugie. Kamu enggak sendirian di sini," ujarnya berusaha menenangkan. Mereka berduapun tidak menyadari bahwa Yoga berjalan ke arah mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
NUGIE
RomancePerempuan, cinta dan Purnama adalah sebuah kesatuan yang tak terpisahkan diantara kisah romantisme sang demonstran. _______________________________________ NOVEL ini pernah diterbitkan dengan judul "ACTA ES FABULA di Surakarta ; ISBN : 978-602-6915...
