BAB 14 - "Each one prays to god according to his own light"

9 4 0
                                        


Waktu berjalan kembali, Vino dan Intan kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan mempelajari segala hal tentang Gunung Semeru. Nugie dan Ahmad mencari perlengkapan untuk pendakian tim mereka hingga ke Kota Surabaya. Di sana mereka berdua sudah disambut hangat oleh Mas Firman yang memang kebetulan dia bertempat tinggal di Surabaya.

Di rumah Mas Firman, mereka bertiga saling berkoordinasi dan saling memberikan info yang memang mereka perlukan nantinya. "Ini list perlengkapan yang harus kita siapkan dan kita bawa nanti," kata Mas Firman pada Nugie dan Ahmad dengan menyerahkan secarik kertas putih bergaris.

"Banyak juga ya ternyata," seru Ahmad.

"Ya seperti itulah, karena ini menyangkut kebutuhan tim dan perlengkapan safety kita nanti," kata Mas Firman.

"Ada lengkap kayaknya mas." Jawab Nugie singkat.

"Kalian sudah punya yang mana aja? Temen-temen yang lain gimana?" tanya Mas Firman lagi pada keduanya.

"Udah ada semua, mungkin tinggal tenda aja yang belum ada. Kemungkinan kita nanti ada 6 orang yang pasti ikut," jawab Nugie lagi.

"Yang satunya siapa Nug?" tanya Mas Firman.

"Mungkin Audry temen Vino, ikut. Katanya sih dia serius mau ikut," kata Nugie.

Hening sebentar, Mas Firman menggaruk kepalanya yang berambut keriting tak beraturan, rambut yang lebih mirip sapu ijuk yang direbonding. Diapun melihat kembali catatan-catatan kecilnya. "Kita butuh satu tenda lagi, kapasitas 2 orang buat Audry dan Intan nanti!" serunya.

Pada keputusan terakhir mereka memastikan untuk membeli perlengkapan untuk kebuTuhan tim, karena untuk kebuTuhan personal semua sudah tersedia. 1 minggu sebelum waktu keberangkatan mereka semua berkumpul untuk memastikan hal-hal yang perlu dilakukan dan yang tidak perlu dilakukan. Mas Firman mulai berkelakar dengan perut buncitnya, "Vino, kamu pasti bisa!" serunya.

"Ya iyalah Mas, ini aja udah turun 5 kilo," katanya membanggakan dirinya sendiri dengan memegang perut gembulnya.

"Wihh... keren banget kamu. Bisa juga ya kamu ternyata," kata Nugie menggoda.

Vino bangkit dari kursinya lantas dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan berkata, "Semua ini demi Mahameru. Mahameru kami akan berdiri di atas puncakmu. Tempatmu berdiri dengan gagah saat ini."

Kontan saja semua yang hadir saat itu tertawa terbahak-bahak mendengar Vino berkata sok puitis di depan rekan-rekannya. Semangat Mahameru terbawa dan merasuk ke dalam hati Vino dengan kelakar konyolnya yang tidak normal.

"Jalur keberangkatan nanti kita ada beberapa opsi. Pertama lewat Senduro di Lota Lumajang, ini jalur yang jarang sekali dilewati oleh pendaki umumnya karena jalan di sana tidak terlalu bagus, yang kedua lewat Malang, tumpang. Jalur konvensional dan yang paling normal di lalui itu nanti dari Tumpang!" kata Mas Firman.

Hening, Vino masih termangu di tempat duduknya. "Tumpang jauh enggak Mas?" tanya Vino tiba-tiba.

"Jauh kalau kita jalan kaki!" kata Mas Firman sambil tertawa.

Akhirnya mereka sepakat dan memutuskan untuk berangkat lewat Tumpang. Tim dibagi menjadi dua, Mas Firman dengan rekannya berangkat dari Malang setelah tim kedua dari Banyuwangi datang. Tim kedua yang terdiri dari Vino, Nugie, Ahmad, Intan dan Audry berangkat dari kota Banyuwangi menuju kota Malang dengan kereta api di Sabtu pagi di tanggal 14 Agustus 2004.

Pagi itu di Stasiun Karangasem Banyuwangi yang terasa begitu dingin menusuk. 5 orang yang terdiri dari Nugie, Ahmad, Vino, Intan dan Audry bersiap di sana. Tampak tas carrier kapasitas 80 liter melekat erat di punggung masing-masing, hanya Intan dan Audry yang membawa carrier yang berukuran lebih kecil dari rekan-rekan prianya. Tak terasa bel tanda kehadiran kereta api Tawangalun jurusan Banyuwangi ke Kota Malang sudah hadir di hadapan mereka. Kereta tua yang biasanya penuh sesak oleh para penumpang dan pedagang yang hendak pergi menuju Kota Malang terlihat masih gagah perkasa dengan gerbong-gerbong tuanya.

NUGIECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang