BAB 9 - "Look at the situation from all angles, and you will become more open"

17 5 2
                                        


Beberapa menit berlalu, setelah Intan memberitahukan alamat tempat mereka bertemu, Vino dan Nugie segera bergegas menuju tempat itu. Di dalam mobil mereka berdua tidak banyak bicara, mereka masih berusaha memikirkan ada apa? Apa yang terjadi? Pikiran-pikiran itu masih saja menggelayuti otak mereka berdua.

Vino memandangi Nugie dengan heran, "Nug..." panggilnya.

"Ada apa?" sahut Nugie.

"Menurut kamu ada yang aneh enggak malam ini?" tanya Vino.

"Ada," jawabnya singkat tanpa melihat Vino.

"Ada apa dengan Intan ya?" tanya Vino lagi.

"Enggak tau. Mungkin masih ada hubungannya sama kamu kemarin." perkataan itu membuat Vino kembali melihat rekannya tanpa banyak bicara.

Pada kesempatan yang sama, di rumah Nugie, kedua orangtuanya tampaknya sedang memperbincangkannya, "Pak, aku khawatir sama Nugie," kata ibunya cemas.

Setelah suaminya menyeruput tehnya, kemudian ia pun bertanya pada istrinya itu, "Kenapa lagi toh Bu? Nugie itu kan sudah dewasa. Ngapain kita harus khawatir?"

"Mas, apa kita enggak ingat kejadiannya Doel?" tanyanya mengingatkan. Mereka saling memandang, berusaha mengulik kejadian beberapa tahun silam lewat sebuah ingatan. Dimana Doel menjadi sasaran amukan beberapa orang yang tidak menyetujui caranya berdemonstrasi.

"Kenapa lagi toh Bu'? Yang lalu biarlah berlalu. Kita enggak usah ungkit-ungkit masalah itu lagi," jawab Ayahnya sedikit keras. Tentunya ingatan buruk tentang apa yang sudah Doel terima dulu masih terbayang dengan jelas oleh ayah Nugie. Bagaimana beberapa orang sempat menganiaya Doel karena sikap keras kepala dalam berorganisasi hingga demonstrasi yang sering ia lakukan dulunya. Ingatan ini tentunya akan diperparah jika Nugie banyak melakukan hal yang serupa dengan kakaknya. Hal inilah yang membuat ibunda Nugie merasa begitu risau dengan tindak tanduk Nugie belakangan ini. Ia merasa bahwa kejadian seperti yang dulunya sering Doel alami bisa terulang lagi. Bagaimana ingatannya berkata dengan sangat jelas malam itu. Tak nampak wajah tenang dari kedua orang tua Nugie. Rasa gamang yang terpancar kali ini.

"Mas, Nugie itu persis sama Kakaknya, watak mereka sama-sama keras kepala. Aku takut terjadi sesuatu Mas. Apalagi dia sekarang menjadi pendiri serikat buruh," kata Ibunya sambil memilin-milin daster lusuh yang ia kenakan malam itu.

Ayahnya hanya berdiam diri tanpa mau menjawab pernyataan Ibunya lagi. Walau sesekali dia memandang istrinya lewat sela-sela kacamata kuning emas yang ia kenakan, memandang wajah cemas yang membalut kulit senja wajah istrinya. Tidak ada kata-kata lagi dari mereka berdua.

Di tempat lain, Intan sudah menunggu kedua sahabatnya datang, dengan rambut yang terurai menutupi sebagian wajahnya. Di sebuah teras rumah kecil di pinggir jalan, Intan dengan sabar menunggu kedua sahabatnya datang. Tak berselang lama, kehadiran Nugie dan Vino disambut rasa suka cita yang terpancar dari wajah bulat telurnya. Matanya berbinar cerah.

Nugie dan Vino menghampiri dia yang sudah berada di dalam sebuah teras rumah tua. "Kenapa kamu di sini tan?" tanya Nugie berbisik.

"Udah cepet masuk ke dalam dulu, nanti aku jelasin," ajak Intan pada kedua sahabatnya.

Setelah itu di ruang tamu rumah tersebut, Intan menceritakan awal mula dia berada di sini, "No, kamu masih inget kasus tempo hari?" tanyanya tergesa.

Dia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya, alangkah terkejutnya Vino dan Nugie melihat wajah itu. "Tan...," kata Vino mendekat.

Intan mulai menitikan air matanya, Vino dan Nugie saling berpandangan. Wajahnya penuh dengan luka lebam yang menghiasi sebagian wajahnya, matanya membiru dan bengkak. "Tan..." panggil Vino lagi. "Kamu kenapa?" tanyanya. Vino sudah kehilangan kata-kata lagi saat melihat keadaan Intan yang sekarang

NUGIECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang