"Tanyakan saja sendiri, aku ingin memasak makanan, ada yang ingin membantuku?" Jongdae dan Kyungsoo berdiri. "Kita buat untuk rame-rame."
°•.•°•.•°•.•°•.•°•.•°•.•°•.•°•.
"Bagaimana kabar kalian semua?" Mereka mengangguk. "Sudah hampir lima bulan lamanya kita tidak bertemu, aku benar-benar merindukan sahabt-sahabatku!"
"Chanyeol, bagaimana hubunganmu dengan Baekhyun?" Tanya Sehun sedikit menyindir.
"Kau, mentang-mentang anakmu sudah tiga, lihat saja, anak ku akan lebih banyak darimu!"
"Tidak! Tentusaja anakku!"
Seisi ruangan itu diam, memperhatikan mereka berdua mulai berdebat. Luhan dan Baekhyun menunduk. Berani-beraninya suami Luhan dan Baekhyun berkata seperti itu.
Untung saja anak-anak kelompok itu sudah tertidur pulas, mereka jadi tidak akan bangun.
"Hentikan, jangan membuat keributan," Minseok yang paling tua mengingatkan kepada mereka berdua. "Jika kalian ribut, kalian akan membangunkan anak-anak kita."
"Jika Kim Junseok dan Kim Junna terbangun, kalian berdua akan kutelanjangi disini!" Ucap Jongin sambil meminum soju dalam gelas kecil.
"Jika Kim Sefang terbangun, kalian berdua akan ku mutilasi," ucap Junmyeon dan mendapatkan tatapan tajam dari Yixing.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika Wu Zijie terbangun?" Tanya Sehun.
"Jangan tanya padaku, tanya pada Eomma mereka!" Ucap Yifan mengangkat kedua tangannya.
"Aku akan menghajarmu!" Ancam Tao.
"Dan aku akan memasangkan mu Video hantu!" Balas Baekhyun yang tidak terima jika Chanyeol dihajar.
"Kau tidak membela ku?" Luhan mengerutkan keningnya. "Aku ingin dihajar."
"Hajar saja, Tao. Aku mendukungmu!" Ucap Luhan mengepalkan tangannya.
"Ya ya ya!!!" Luhan membekap mulut Sehun. "Berisik!"
"Kalau kalian? Pasangan Funky?"
"Aku akan memanduli kalian berdua jika Kim Monseu menangis!" Sehun dan Chanyeol termenung sebentar.
"Mian, Chan."
"Mian, Albino!"
"Awas saja jika kau bertemu dengan ku di kantor," ucap Sehun mengepalkan kedua tangannya bermaksud bercanda.
Seisi ruangan hanya menggeleng, sifat Sehun dan Chanyeol tidak pernah berubah, selalu saja ke anak-anakkan.
"Sudahlah, kalian akan pulang kapan?" Tanya Luhan sembari merapikan botol-botol soju yang kosong.
"Kau mengusir kami?" Tanya Minseok.
"Aniyo, bukan begitu, maksudku apa kalian tidak cemas? Besok anak-anak kalian harus sekolah bukan?" Mereka semua diam, merenungkan perkataan Luhan.
"Baiklah, aku dan Wu Zijie ku harus pulang," ucap Zitao lalu menarik lengan Yifan. "Biar aku saja yang menyetir, kau terlihat sangat mabuk!" Zitao beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar Sunhye, setelah keluar Zitao segera mengajak Yifan untuk berdiri. "Annyeong!"
Perlahan, setiap menit maupun detik, sepasang-sepasang suami-istri dengan anaknya keluar. Entah anak mereka terbangun atau tertidur. Sehun dan Luhan kini hanya berdua saja di ruang tengah.
"Kau ingin ku bantu?" Tanya Sehun. Luhan menggeleng. "Kau terlihat lelah."
"Kau juga terlihat lelah, tidurlah. Sepulang kerja kau hanya tidur selama beberapa menit, besok kita harus melakukan aktivitas seperti biasa."
"Kau juga pasti lelah, Sayang," Luhan menghampiri Sehun dan mencium bibirnya, mengecupnya lalu tersenyum.
"Aku masih bisa santai-santai ketika pekerjaan ku selesai," Sehun mengalah, ia mengecup kening Luhan lembut.
"Baiklah, tapi jika kau tidak kuat, kau tidak perlu melakukannya hari ini," Sehun melirik jam dindingnya dan beranjak dari sofa. "Lu, besok aku akan pulang cepat." Luhan mengangguk. "Siapkan makanan kesukaanku, lalu kita dan anak-anak semua akan liburan selama dua hari."
"Terserah kau saja, pentingkanlah dulu kesehatanmu," Luhan sangatlah dewasa dalam hal ini, membuat Sehun merasakan beribu-ribu darah yang mendidih dan hati yang sedang bermekaran.
"Aku mencintaimu."
"Nado," Luhan mencium pipi kanan Sehun, membuat Sehun tersenyum.
Luhan tersenyum dalam hati, ia begitu kagum dengan sosok Sehun.
Dari awal pertemuannya Luhan selalu menganggap Sehun adalah sosok yang ke anak-anakkan, sombong, suka merendahakan dan dingin. Namun, setelah kejadian selama kurang-lebih tigabelas tahun yang lalu, membuat mereka menjadi sepasang kekasih.
Luhan kini menyadari sesuatu dari dalam diri Sehun, meskipun sikap itu sudah pernah ia tunjukan, namun Luhan selalu mengangguminya. Sikap Kerja keras dan sangat menyayangi keluarga. Luhan semakin mencintai Sehun.
Begitupun dengan Sehun, ia menidurkan dirinya disamping ranjang sambil tangannya menyentuh bingkai foto miliknya di nakas.
Terdapat foto dua Namja sedang bergandengan tangan. Sehun mengangkat bibirnya, tersenyum. Ia ingat bagaimana pertemuannya dengan Luhan untuk yang pertama kali, ia ingat bagaimana Luhan diculik oleh anak-anak Bangtan, ia juga ingat bagaimana Luhan akan marah padanya jika Sehun sangat suka meledeknya.
Kejadian itu terulang di memorinya, kini ia tidak perlu khawatir. Semua ke khawatirannya yang dulu sudah dibayar lunas oleh yang Mahakuasa.
Sehun sering kali khawatir Luhan akan meninggalkannya, entah dengan cara apa. Sehun takut kedua orangtua Luhan dan Sehun tidak saling merestui, namun Sehun mendapat restu dari orangtuanya dan juga orangtua Luhan.
Tapi kini semuanya memang benar-benar lunas dibayar oleh Mahakuasa. Ia membayarnya dengan abstrak, sesuatu yang tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah untuk di definisikan.
Cinta
Sehun tersenyum dengan lebar hingga deretan gigi putihnya terlihat. Ia menaruh bingkai foto itu kembali dan tidur.
Sebelum memejakkan mata, ia sangat berharap, "terimakasih, aku sangat berterimakasih." Sebelum akhirnya Sehun tertidur sambil tersenyum.
Luhan sedikit tersenyum ketika tahu suaminya sudah tertidur, suara dengkuran Sehun terdengar ketika Luhan masuk kamar mereka.
"Tidurlah dengan nyenyak, Yeobo!" Luhan mengecup kening Sehun dan merebahkan dirinya disamping Sehun. "Aku mencintaimu, selamanya."
°•.•°•.•°•.•°•.•°•.•°•.•°•.•°•.•°•.
END. Bener2 end disini.
Maaf aku nggak bisa buat sequel nya karna sibuk, tapi cek work ku,
Bagi penggemar Chanbaek, cek workku.
Intinya cek:v
Vote.
Comment.
Xoxo, IzanaMilord
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Him! ✔
FanfictionCinta tidak memandang fisik. "Aku ini seorang Pria!"__ Luhan "Aku tidak peduli! Aku hanya menyukaimu!"__ Sehun WARN!! BOYXBOY!!
