#2 [Jisoo POV]

2.1K 274 43
                                        

"Akh! Heol! Daebak! Bir di Hubaekje memang yang terbaik!"seru Jeonghan untuk tegukan ketiga-nya.

Aku hanya diam memandanginya. Perjalanannya kali ini membuatnya pulang dengan terlihat semakin kurus. Apakah dia tidak disambut dengan baik di kota yang dikunjunginya kemarin? "Yoon Jeonghan—"

"Jeonghan-sshi! Apa kau membawa pesananku?"

Hmm? Pesanan? Aku menoleh pada Y/n yang kini dengan mata bulat-nya menatap Jeonghan penuh harap. Kapan mereka berkomunikasi tanpa aku? Jadi Y/n tahu ke kota mana Jeonghan pergi?

"Pastinya!" Kini Jeonghan merogoh kantong jubahnya. Lalu ia mengeluarkan sebuah gulungan perkamen dan menyerahkannya pada Y/n.

"Kau tahu? Dia tidak sepelit yang orang lain katakan tentang mendapatkan tanda tangannya. Lagipula tidak sesulit itu juga menemukannya di Silla."

"Silla? Kau ke Silla?"

Jeonghan kini beralih padaku. "Eung. Ke negeri Silla yang terhormat."

"Dan kau pulang seperti ini dari Silla? Terakhir kali kau pulang dari Silla kau tidak tampak—" "Ganteng? Arayo. Wanita-wanita di Silla juga semakin banyak yang berbisik genit ketika aku lewat di depan mereka."

"Eh? Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti!"

Jeonghan mengerti maksudku. Dari tatapannya padaku aku tahu ada yang ingin dia ceritakan. Hal yang mungkin tidak terdengar begitu menyenangkan untuk disampaikan di depan Y/n.

"Bukan apa-apa."jawabku pelan pada Y/n.

"Aaah... aku ingin sekali bisa pergi berkelana seperti Jeonghan-sshi. Pasti menyenangkan sekali bisa pergi ke berbagai kota di seluruh tiga kerajaan. Bertemu banyak orang."

"Kau bisa melakukannya setelah menikah dengan Jeonghan."

"Hmm?" Jeonghan tampak menaikkan alisnya sebelah padaku. "Memang Y/n akan mungkin menikah denganku? Bukannya Y/n akan dinikahkan dengan salah satu dari kau atau para saudaramu? Untuk menjaga darah kalian tetap murni."

"Tidak."jawabku pelan. "Y/n tidak akan menikah denganku ataupun para Hyung. Dia akan menikah denganmu."

"Pyeha tidak akan membiarkan seorang putrinya menikah dengan seorang Yoon."

"Pyeha akan memaksamu."

Jeonghan menatapku lekat. Entah apakah dia suka atau tidak dengan jawabanku. Yang pasti dia terlihat bingung dan kesal secara bersamaan. "Jisoo-ya, kau tahu bagaimana hubungan para Yoon dengan Pyeha—" "Annyeoooong! Annyeonghasimnikkaaaa?!!! Tidak bermaksud memotong pembicaraan kalian, tapi percayalah bahwa perempuan yang kalian bicarakan itu ada lho di sini!"

Aku dan Jeonghan dengan bersamaan segera menatap Y/n yang melambaikan tangannya pada kami. Matanya memandangku dan Jeonghan dengan begitu kesal. "Aku tidak mengerti apa masalah kalian denganku. Tapi aku ini masih punya hati. Jangan seenaknya membicarakan masa depanku seperti itu! Apalagi tentang jodohku!"

Aku tersenyum tipis padanya. "Kau tahu kau tidak bisa memilih, Y/n-ah."

"Arayo! Setidaknya jangan mendebatkan hal itu didepanku. Apalagi berkata seolah-olah sebenarnya ada pilihan untuk jodohku. Pilihan yang tetap saja bukan di bawah kuasaku. Meski jelas-jelas itu tentang hidupku!"

Jeonghan kini beralih menatapku. Tatapan yang seolah berkata, 'Dia itu adikmu. Uruslah dia. Pembicaraan ini terlalu rumit untukku.'

Ancient Heart [SEVENTEEN IMAGINE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang