#5 [Jeonghan POV]

1.2K 215 20
                                        

"Apa ini?"

Juho hanya diam. Matanya menatap lurus botol yang kini berada dalam genggamanku.

Aku berdecak pelan. Botol dengan lapisan tanah liat yang tebal dan warna hitam misterius macam ini pasti hanya satu jawabannya. Racun. Isinya pasti racun.

"Aboji tidak bisa memberikan ini sendiri padaku?"

Juho tetap diam. Melihatnya seperti ini membuatku jadi lelah sendiri. Dia ini patung atau apa?

"Katakan padaku, Juho-ya."ucapku sambil menunjuk kursi kosong di depanku, memintanya untuk duduk. "Apa aku memang harus membunuh wangseja?"

Untuk pertama kalinya hari ini Juho mencuri lihat kearahku, meski hanya sekilas. "Kalau Tuan memintanya."

"'Tuan memintanya', huh?" Aku tertawa mendengar jawabannya. "Aku ini anaknya, bukan pesuruhnya. Haruskah aku tetap melakukannya?"

Aku menghela napas pelan. "Haruskah aku membunuh sahabatku?"

Juho tampak menunduk mendengar pertanyaanku yang tampak membuatnya cukup tidak nyaman. "Tuan memintanya karena ingin membuatmu menjadi raja, bukan? Membuat klan Yoon berjaya."

"Tapi aku tidak mau jadi raja."sahutku.

"Demi Yoon."

Aku mendengus keras. Balasan Juho membuat suasana hatiku jadi buruk. Harusnya aku tidak aneh kalau Juho akan membela apapun yang Aboji inginkan secara mati-matian. Dia ini hutang nyawa pada keluargaku. Apalagi dia begitu sakit melihat Doojoon hyung diasingkan. Sedikit banyak dia pasti membenci keluarga kerajaan sama halnya seperti Aboji ingin membinasakan mereka.

"Seharusnya kau yang menjadi anak Aboji."

Juho tampak menegang mendengar pernyataanku. Dia mengusap tangannya dengan tidak nyaman. "Jangan katakan hal seperti itu."

"Ka."ucapku pada akhirnya.

Tidak tahan kalau harus berlama-lama lagi menghabiskan orang yang tidak jauh berbeda dengan Aboji dan para klan Yoon lainnya. Mereka semua begitu sama, hingga masih membuatku takut apakah sifat yang jahat dan licik mereka memang ada pada diriku. Sifat yang sedang tertidur dan akan muncul ke permukaan di saat yang tidak akan ku sangka.

"Ye." Juho segera berdiri lalu membungkukkan badannya padaku. "Selamat beristirahat."

Sepeninggalan Juho, aku kembali menghembuskan napas lelah. Mataku menatap pasrah melihat botol racun yang masih berada dalam genggamanku. "Dasar Aboji gila—" DUK! "Eh?"

Aku segera menoleh ke arah jendela kamarku. Siapa yang melemparkan batu ke jendela kamarku? Di siang bolong begini lagi?

Krieeet! "Siapa?"

"Pssst! Yoon Jeonghan!"

Mataku segera mencari sumber suara yang memanggilku. Hingga akhirnya berhenti pada seseorang yang berdiri dengan topi dan jubah hitam. "Sia...pa...?"

"Ya! Aku! Hong Jisoo!"

Aku sontak melotot melihat siapa yang berdiri di balik tembok kediamanku. "Yaaa! Kau sudah gila?!"

"Cepat keluar!"serunya sambil melirik kesana-kemari. "Aku tidak bisa lama-lama seperti ini."

"Arasseo!"

"Apa kau sudah gila berjalan-jalan sendirian seperti ini?"tanyaku tak sabar begitu sampai di salah satu tepian sungai yang sepi.

Ancient Heart [SEVENTEEN IMAGINE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang