#10 [Jisoo POV]

1K 194 34
                                        

"Jisoo-ya."

Gongchan hyung tidak merendahkan busur panahnya, melainkan berbalik padaku dengan anak panah baru yang mengarah tepat ke jantungku.

Tidak satupun helaan napas kubiarkan melambatkan lariku.

"Aku tidak berada di pihakmu." Ia berkata.

"Larilah."

Aku tidak mengerti mengapa aku masih berjuang untuk hidup sementara semua orang yang berarti untukku telah mati. Tak satupun tersisa. Meski kematian pengawal Bum terlalu hina untuk disesali, namun aku tak dapat membohongi perasaan tidak nyaman yang menggelitik hatiku karena kepergiannya.

Aku tidak mampu melindungi Y/n. Aku pun gagal melindungi Jeonghan. Apa aku masih mampu bertahan? Aku sudah kehilangan kepercayaan diri meski hanya untuk melindungi diriku sendiri.

"Wangsejanim."

Langkahku terhenti oleh orang yang tak pernah ku sangka akan muncul kembali di hadapanku.

"Kita tidak punya banyak waktu."

"Seung...Seungho hyung?"

Terakhir kali aku melihatnya adalah lima tahun yang lalu, bersama dengan Yoon Doojoon yang diasingkan. Aboji tidak pernah mengatakan padaku alasan mengapa Seungho hyung ikut diasingkan. Yang aku ingat hanyalah sahabat dari Gongchan hyung ini ikut menghilang tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.

"Wae—" "Bukan saatnya untuk menjelaskan apapun padamu. Kita harus segera pergi."

"Ne!"ucapku.

Aku yang begitu sulit percaya entah mengapa mampu percaya sepenuhnya apabila itu Seungho hyung. Atau mungkin aku sudah begitu takut. Begitu takutnya sendiri hingga tidak mampu menahan tanganku yang tak hentinya bergetar di sisiku.

Seungho hyung berjalan didepanku dengan langkah yang terburu-buru namun waspada. "Kita akan melalui pintu utama istana. Di sana kuda untukmu sudah ku siapkan. Kita harus segera keluar dari tembok istana."

"Pintu utama? Bukankah pintu utama akan dipenuhi oleh para pengawal?"

Seungho hyung menggelengkan kepalanya cepat. "Mereka sudah terlalu sibuk untuk menangani pasukan Junho wangja. Pintu utama akan kosong."

Junho wangja... Ternyata hari ini memang bukan hanya sekedar hari eksekusi Jeonghan. Pengakuan pengawal Bum yang begitu siap untuk mengorbankan nyawanya tadi merupakan permulaan dari pemberontakan.

Kini ku sadar bahwa Pyeha begitu keliru untuk menghawatirkan pergerakan klan Yoon. Para darah dagingnya sendirilah yang seharusnya ia cemaskan. Akhirnyapun para Hyung-ku yang akan saling berebut kekuasaan.

"Kalau kita berhasil keluar dari istana, akan kemana kita pergi, Hyung?"

"Silla."

"Silla? Kenapa tidak Hugoguryeo—" SSET! SHOOT!

BRUK! Kematian. Lagi-lagi kematian terjadi tepat di depan mataku.

"Ppali, wangsejanim!"seru Seungho hyung yang kini segera menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya yang begitu cepat.

Ancient Heart [SEVENTEEN IMAGINE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang