#0.1 Surat Y/N

1.1K 183 31
                                        

Hubaekje, 932

Aku terbangun di malam hari dan kesulitan untuk kembali ke alam mimpi.

Orabeoni, Jisoo Orabeoni.

Hari ini Aboji menyampaikan suatu hal padaku. Dia berkata, "Uri gongju. Kau sudah tumbuh dengan begitu cantik dan penuh akan kebahagiaan. Tetapi maafkan Aboji yang tua ini. Kau dengan hidup ini, istana ini, sesungguhnya bukanlah takdirmu pada awalnya. Aku bukan ayah kandungmu, begitu pula Orabeoni-orabeonimu bukanlah kakak laki-laki kandungmu yang sesungguhnya. Mianhada, uri gongju."

Aku tidak mengerti. Mengapa dia tidak memanggil dengan namaku, melainkan uri gongju, disaat dia menyampaikan hal seperti itu? Tetapi, aneh. Aneh karena aku tidak terkejut. Seolah di dalam hatipun aku sudah menanti kebenaran yang akhirnya disampaikan oleh Aboji.

Apakah mungkin karena aku memang sudah sadar kalau aku begitu berbeda dengan Orabeoni? Molla.

Aku hanya merasa kecewa. Kecewa kalau ternyata aku tidak bisa memiliki Orabeoni sebagai kakak laki-lakiku yang sesungguhnya. Nyatanya, di satu titik akan tiba saatnya ketika kita akan hidup sebagai orang asing. Aku marah karena itu.

Orabeoni, Jisoo orabeoni.

Apakah tidak hanya Aboji? Apakah kau juga mengetahuinya?

Meski kau tahu, aku tetap akan menganggapmu tidak tahu. Aku tidak mau jadi terlihat menyedihkan dihadapanmu. Karena dengan sisa waktu yang ku miliki denganmu, aku ingin terus tersenyum. Aku ingin kau akan selalu mengingat bahwa kau pernah memiliki adik yang begitu ceria sepertiku. Kau tidak boleh melupakanku. Aku tidak akan memaafkanmu.

Orabeoni, aku tidak tahu kau sudah mengetahui ini atau belum. Tetapi aku hanya memiliki Jisoo orabeoni. Aku tidak punya siapapun lagi. Hanya Jisoo orabeoni.

Dan permintaan Aboji selanjutnya membuatku menangis. Aboji memintaku untuk menjaga jarakku denganmu. Dia tidak ingin kau terlalu dekat denganku. Dia ingin ketika saatnya aku memang harus pergi, kau tidak akan menahanku.

Ottokhae? Aku tidak bisa melakukannya. Karena aku hanya memiliki Jisoo orabeoni. Hanya Jisoo orabeoni.

Geuraeseo, mianhae, orabeoni.

Aku tidak akan memenuhi keinginan Aboji. Aku akan terus muncul dihadapanmu, berjalan disampingmu, begitu dekat hingga tidak ada celah untukmu melupakanku. Maafkan aku yang egois.

Jisoo orabeoni, menulis surat yang tak akan terkirim di bawah sinar bulan ini membuatku gila. Gila karena kini aku jadi mengucap harapan pada Tuhan.

Kau percaya pada takdir? Aku percaya. Oleh karena itu aku berdoa agar takdir akan berkata lain untukmu dan aku. Kalau saja kehidupan kembali memilih kita untuk bertemu lagi di tempat yang berbeda, waktu yang berbeda, aku ingin ini tidak terjadi. Bertemu denganmu dengan seperti ini. Aku tidak ingin terjebak di dalam situasi ini.

Andwae. Ini benar-benar tidak boleh terjadi.

Karena kalau takdir Maha Baik, aku menginginkannya untuk menciptakanku sebagai sebenar-benarnya adikmu. Kalaupun takdir tidak mengijinkannya... Ani, meski takdir menolaknya, dengan sepenuh hati yang kumiliki aku memohon agar Tuhan selalu menarikmu padaku.

Nae orabeoni. Pastikan kita bertemu lagi ya! Jangan lupakan aku. Berjanjilah untuk tersenyum ketika takdir kembali menemukanmu dan aku.

Jisoo orabeoni, jal ja.

Y/n

Ancient Heart [SEVENTEEN IMAGINE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang