#9 [Jisoo POV]

1K 191 62
                                        

Aku memakaikan kembali jubahku yang sempat terjatuh karena hembusan angin malam bersalju.

Aku tahu seharusnya aku tidak berada di sini. Namun aku tidak memiliki pilihan lain.

"Wangsejaaa, ampuni akuuu!"

Aku sontak menarik ujung jubahku yang hendak diraih oleh tangan tahanan yang mencoba untuk mendekatiku dari balik jeruji sel.

"Wangseja..."

"Wangsejanim!"

"Jisoo wangsejaniiim!"

Aku segera memercepat langkahku. Wajah-wajah samar mereka yang terkena sorot cahaya lentera yang ku bawa, membuatku tidak nyaman. Aku tidak akan mungkin menginjakkan kakiku di deretan sel-sel ini kalau tidak karena Jeonghan.

Akhirnya ku tiba pada sel yang terletak di ujung penjara yang buntu. Entah mengapa, langkahku berubah lemas dan bergetar begitu berhenti tepat di depan sel yang tidak diterangi oleh cahaya obor. Ini sel terburuk yang ada di penjara. Sel yang khusus hanya diperuntukkan untuk para kriminal dengan dosa-dosa terkeji.

Dengan gerakan ragu, ku mengarahkan lenteraku ke dalam sel itu hingga cahaya menerangi seisi sel.

"Yoon Jeonghan."

Dia tak bergeming. Hanya diam menatap tanah kotor tempatnya duduk dengan kaku.

"Yoon Jeonghan!"panggilku lagi dengan lebih keras.

Tetap dia tidak menoleh padaku. Seolah-olah aku hanya memanggil angin, tak terjawab.

"YOON JEONGHAN!"

"Haha...hahahaha...hahahahahahaaha...HAHAHAHAHAHA..." Entah apa yang membuatnya tertawa dengan begitu keras. Jeonghan tertawa keras hingga ia menghapus air matanya, seolah-olah dia menertawakan hal yang begitu lucu. Dan aku tidak bisa melihat hal itu.

Setelah tawanya mulai mereda, kini ia mengangkat wajahnya untuk menatapku. "Selamat malam, wangsejanim."

"Aku tidak datang ke sini untuk mendapat sapaanmu."

"Ah, ye. Kau datang untuk mengetahui apakah aku membunuh adikmu."

BUM! PRAK! Lentera di tanganku sontak terjatuh dan pecah, begitu tanganku dengan kalut memegang erat jeruji sel. "JANGAN BERKATA LAYAKNYA ITU HANYA HAL SEPELE!!!"

Cahaya lentera yang menghilang kini membuatku hanya mampu melihat wajah Jeonghan melalui sorot redup cahaya bulan yang masuk melalui sekat-sekat sel. Begitu halusnya cahaya bulan, membuatku mengira-ngira apakah Jeonghan tersenyum seperti orang yang bahagia atau meringis seperti orang yang kesakitan. Aku tak mampu melihatnya.

"Apa yang kau harapkan dengan datang ke sini? Mengetahui kebenaran?" Meski tak mampu melihat wajahnya dengan jelas, kini aku yakin Jeonghan berbicara sambil tersenyum. "Apa kau masih bisa melihat kebenaran, hah, Jisoo wangsejanim?"

"Mengapa kau tega...mengapa kau tega melakukannya?!!!"

"Aku tidak perlu menjawabnya."

"YOON JEONGHAN!"

"AKU TIDAK MEMBUNUHNYA!"

Aku terhenyak oleh bentakannya yang serak. Ia berseru seperti orang yang kesakitan. Mendengarnya seperti itu aku menjadi ragu dengan tuduhannya.

Ancient Heart [SEVENTEEN IMAGINE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang