Aku membuka surat yang Jeonghan berikan melalui pengawal Bum.
"Esok hari.
Ketika matahari baru ingin terbangun, aku akan menunggu di ujung pintu belakang istana."
Besok pagi. Begitu cepat. Terlalu cepat.
Aku meraih kepalaku yang tiba-tiba terasa begitu berat dan pening. Besok pagi? Aku tahu ini yang diinginkan oleh Y/n. Dia bahkan memohon dengan raut wajah paling menyedihkan yang pernah ku lihat nyata padanya. Aku tidak bisa melawan permohonannya dengan memenangkan keinginanku untuk menahannya di sini.
"Haaah..." "Hari yang lelah wangsejanim?"
Sset! Aku segera menoleh dengan awas ke arah pintu ruanganku. Berdiri di sana Gongchan hyung dengan sebuah lentera kosong di dalam pelukannya.
Kini dia berjalan masuk dengan tatapan yang diedarkannya pada seluruh sudut ruanganku. "Sederhana."ucapnya.
Aku memilih untuk diam, tidak berniatan sedikitpun untuk menimpali komentar kosongnya.
"Ruangan kerja wangseja tidak bisa terlihat se-sederhana ini."ucapnya lagi. Lalu Gongchan hyung mengambil tempat duduk kosong yang berada tepat di depan mejaku.
Dia tampak tersenyum lebar padaku. "Oraenmanieyo, uri dongsaeng."
Aku menundukkan kepalaku sejenak padanya. "Oraenmanida, Hyungnim."
Untuk berberapa saat Gongchan hyung hanya mengamatiku dalam hening, tanpa melepaskan senyum lebar yang ia tampilkan pada bibirnya.
"Apa yang Aboji lihat darimu?"
Pertanyaan ini. Pertanyan pembuka yang aku yakin akan berujung pada permintaan untuk mengibahkan takhta-ku padanya. Inilah kekuatan Gongchan hyung. Berbicara. Bernegosiasi. Dan dia pasti berharap dia mampu menggunakannya untuk melangkahiku.
"Sesuatu yang mungkin tak mampu para Hyung lihat."jawabku.
"A~ah..." Gongchan hyung tampak tertawa kecil mendengar jawabanku. "Majayo. Aku tak mampu melihatnya."
Aku hanya membalasnya dengan senyuman sopan. Gongchan hyung tidak pernah tampak penuh emosi layaknya Youngbae hyung, ataupun sangat pendiam dan penuh dengan gengsi layaknya Junho hyung. Dia tampak sederhana dan begitu lembut. Seluruh wanita di seantero Hubaekje sangat mengidolakannya. Namun kelembutannya itu juga yang kadang membuat para keluarga bangsawan salah paham padanya. Dia selalu dianggap tidak cukup tegas untuk mampu mengisi jajaran jenderal di Hubaekje.
"Kalau kau jadi raja, aku dapat apa?"
Dapat apa? Apa memang yang seharusnya ku berikan pada Gongchan hyung? Pertanyaannya terasa seperti teka-teki. Jika jawabanku salah, maka dia tidak akan segan-segan bertindak. "Memang apa yang Hyung inginkan?"
"Apa ya..."ucapnya menggantung. Dia tampak mengelus dagunya. "Aku ingin berkuasa tetapi menjadi raja bukan gayaku. Menurutmu?"
Jebakan. Bohong sekali kalau dia bilang menjadi raja bukanlah gayanya. Meski dia terlihat tenang, dia berhasil memiliki tempat pengakuan untuknya di luar Hubaekje. Kemampuan negosiasinya berhasil membuat para pedagang Hugoguryeo dan Silla takluk terhadapnya, hingga dia mampu mendapatkan kebutuhan-kebutuhan yang langka di pasaran.
"Kau sama pantasnya dengan para Hyung untuk menggantikan Pyeha."
Gongchan hyung tersenyum mendengar tanggapanku. "Tapi Pyeha memilihmu."
"Ye."
"Katakan Jisoo. Apa kau benar-benar ingin menjadi raja?"
"Pyeha sudah menunjukku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ancient Heart [SEVENTEEN IMAGINE]
FanfictionJoshua x You x Jeonghan Hong Jisoo adalah pangeran Hubaekje yang terlahir kembali di tahun 2017 dengan dendam akan masa lalu. Mampukah Jisoo mengembalikan kehidupan yang seharusnya milikmu dan menyelesaikan semuanya di kesempatan kedua dari Tuhan? A...
![Ancient Heart [SEVENTEEN IMAGINE]](https://img.wattpad.com/cover/99454661-64-k49840.jpg)