#8 [Jisoo POV]

1K 201 30
                                        

Ting! Ting! Ting!

Bunyi sendu lonceng bergema di udara. Begitu hening, bahkan tak satupun burung yang bernyanyi, ataupun daun yang berisik, semua begitu hening. Seolah-olah semestapun ikut berduka.

Aku menatap kosong api yang berkobar di antara derasnya salju yang turun. Bahkan saljupun tak mampu menghentikannya untuk tidak melebur menjadi abu. Seperti aku yang tidak bisa berbuat apapun untuk menyelematkannya.

"Annyeonghigyese—" SHOOT! "—yo." BRUK!

Sset! Aku sontak memalingkan wajahku begitu ingatan itu kembali terputar di dalam benakku. Tidak kurang dari lima jam yang lalu dia masih bisa tersenyum. Masih melambaikan tangannya padaku. Masih bernyawa.

Apa aku telah memutuskan hal yang salah?

Apa memang tak seharusnya ku membiarkan dia pergi?

Apa aku yang telah membunuhnya?

Majayo. Sejak awal aku dipilih menjadi wangseja, hidupnya sudah berakhir. Ani. Karena aku yang begitu transparan. Karena aku yang tidak mampu menahan perasaanku. Dia mati karenaku.

Sejak awal memang aku... aku tidak bisa menyelamatkannya.

"Sa...sarang...hae..."

"Hahhh..." sekuat tenaga ku menahan air mataku. "Y/n-ah..."bisikku lirih.

Aku yang seperti ini tak pantas dicintainya. Tetapi dia tetap memilih mengucapkannya. Menjadi kata terakhir yang akan selalu menjadi alasan untukku menyesal dan merasa hampa.

"Jisoo."

Aku terlonjak di tempatku begitu Aboji menepuk pundakku pelan.

"Pyeha."sapaku nyaris tak bersuara lalu menundukkan badanku sejenak padanya.

"Mianhae..."ucapnya pelan.

Aku tidak tahu apakah aku mampu melihat ketulusan Aboji dalam menyampaikan dukanya. Selama ini aku menganggapnya begitu sepenuh hati menyayangi Y/n, namun apa yang diucapkannya padaku terkait Y/n merusak seluruh kesanku padanya. Dia sama saja seperti para Hyung lainnya. Menganggap Y/n anak asing yang suatu saat harus ditendang keluar dari istana. Dibesarkan untuk menjadi alat politik yang mampu diperjual-belikan.

Dan kini dia memerlihatkan perasaan dukanya padaku? Entahlah. Apa yang dia lakukan malah membuatku merasa begitu marah. Hanya karena matanya yang terlihat sembab, aku mampu menahan amarah ini.

"Jangan terlihat seperti itu."ucap Gongchan hyung yang kini berdiri di sampingku menggantikan tempat Aboji. "Kau terlihat begitu rapuh."

"Apalagi yang akan mereka ambil kalau sudah tidak ada lagi yang tersisa dariku?"

"Kau yakin tak ada lagi hal yang mampu menyakitimu?"

"Kenapa kau bertingkah seolah kau tahu segalanya?"tanyaku dengan menatap matanya.

"Karena aku memang tahu."

"Pengetahuanmu ini membuatku penasaran, Hyungnim."

"Penasaran, hmm?" Gongchan hyung tampak setengah tersenyum padaku. "Curiga maksudmu?"

Ancient Heart [SEVENTEEN IMAGINE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang