The Ticket

42 4 0
                                        

An original-fiction brought by hinatchoo

.

Fumi mendesah kala menatap almameter sekolah yang bersarang di tas semenjak tiga hari lalu. Memutar bola mata jenuh, ia mengempaskan diri ke kursi kayu dengan keras.

Ia butuh keberanian untuk mengatasi adrenalin yang membuncah kala bertemu dengan si pemilik jas. Tempo hari, kegagalannya diakibatkan karena Min Kyeongjun tengah terlelap, dan Fumi tak punya cukup nyali untuk mengganggunya.

Masalahnya, sekarang sudah empat puluh delapan jam lebih beberapa menit sejak ia memutuskan menyimpan kembali 'tiket berharga'-nya. Jika ditunda terus, bisa-bisa Kyeongjun dihukum karena tak mengenakan seragam lengkap.

"Shit," umpatnya pelan.

Berbekal keyakinan penuh dan oksigen yang mengisi paru-parunya, ia meninggalkan kelas dengan mantap sambil memeluk jas beraroma maskulin itu.

Fumi melewati koridor, menyembunyikan wajah di balik jas tiap bertemu dengan senior berwajah ketus. Hatinya mencelos ketika tiba di depan ruang Kyeongjun.

"Cari siapa?"

Deg!

Takut-takut ia menjawab, "Min Kyeongjun Sunbae."

Gadis di hadapannya menyatukan alis. Wajah senior itu terlihat lebih dewasa, serta tubuhnya lebih jangkung beberapa senti dari Fumi.

"Mau apa cari Kyeongjun?"

Walau dia menanyakannya diiringi kurva sempurna menghias wajah, Fumi tetap bergidik ngeri. Gadis Choosaku itu mengambil langkah mundur yang tak kentara.

Belum sempat Fumi menjawab, pemuda yang dimaksud sudah hadir di antara mereka. Kyeongjun mengucapkan terima kasih singkat pada sang gadis lantas memusatkan atensi ke dwimanik Fumi.

"Terima kasih, Sunbae!" serunya sembari membungkukkan badan. Pergelangan tangan itu terulur: menyerahkan jas.

"Yo, sama-sama. Lain kali pilih tempat yang bagus kalau mau menangis."

Bahkan dengan ruang pandang yang hanya mampu melihat sneakers hitam Kyeongjun, degup jantung Fumi masih tidak terkendali kala sentuhan lembut mengacak surai gelapnya. Dara itu membungkuk sekali lagi lantas berlari memunggungi Kyeongjunㅡtak peduli sekonyol apa posturnya dari belakang.

Badai denyut nadi masih belum berakhir walau Fumi sudah sampai di halaman belakang sekolah. Ia mendudukkan pantat di bangku taman seraya meletakkan telapak tangannya ke dada.

Ya Tuhan.

Keputusannya menunda pengembalian jas Kyeongjun benar-benar tidak salah.

-end.

Fronting [Discontinued]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang