Choosaku Fumi, gadis dari Jepang, termasuk satu dari sekian orang yang mengagumi sosok Min Kyeongjun.
Fumi awalnya tidak terpikir untuk mendekati Kyeongjun. Hanya saja ia terus-menerus ditempatkan oleh takdir pada ketidak-sengajaan bertemu dengan pe...
Fumi tengah menyeruput green tea frappe saat menyadari sosok yang tak asing di antara keramaian. Malam minggu, mall selalu ramai. Tapi tetap saja, bertemu mereka berdua di luar ekspektasi. Sebelum memikirkan hal lain, gadis itu lekas menutup tudung hoodie biru mudanya dan beranjak pergi.
Duh, ia menjitak dahi. Tempo hari, disaksikannya momen si pemuda bersama gadis lain. Pun hari ini, ia menjumpai Kyeongjun merangkul pundak dara yang sama.
"Aduh," keluh gadis itu, mengutuk otaknya yang mulai liar. Sebagai pengalih atensi, ia putuskan membeli sekotak butter popcorn untuk menemani film yang akan diputar.
"Fumi?"
Demi Neptunus, Zeus, dan para dewa lain, haruskah ia mendengar bariton itu hari ini?
Gadis yang disebut Seonhee tersenyum kecil padanya sebelum menggumam sesuatu.
"Nona Choosaku."
Argh, paras ayu itu. Pantas saja Kyeongjun naksir.
"Sendirian?"
Fumi mengangguk singkat lantas buru-buru membayar pesanan. Dirajutnya langkah ke gedung teater agar tak bertemu pandang dengan sang jaka lagi.
"Sialan," umpat Fumi seraya mendudukkan diri di bantalan kursi empuk. Dia menyesal menolak ajakan sang kakak untuk pergi bersama. Jadilah, kendati masih lima menit sebelum film dimulai, giginya sudah mengolah butiran jagung panggang nan gurih.
Fumi sudah mati-matian menghindari Seonhee karena gadis itu paling dekat dengan Kyeongjun. Baiklah, Fumi memang menyukai Kyeongjun, tapi bukan dalam tahap kronis hingga ingin mendorong Seonhee menjauh. Kalau sehabis ini Seonhee menganggapnya anak yang cari masalah, bagaimana?
Fumi menepis segala pikiran buruk karena iklan pembuka sudah muncul di layar lebar. Diangkatnya kaki dalam posisi sila di atas kursi: tak mengacuhkan pandangan orang tentang posisi tanpa tata krama.
"Yah, fokus ke film saja," ungkapnya menyemangati diri sendiri.
Well, mungkin ketampanan Steve Rogers bisa membuatnya beralih pandang dari asumsi kurang ajar yang mendiami tengkoraknya.
×××
"She seems mad at me, anyway."
Kyeongjun mengerutkan dahi. Ia baru saja mengenyakkan diri di bantalan empuk kursi bioskop, dan gadis di hadapannya sudah menghujani dengan pandangan sangsi.
Alih-alih menanggapi, Kyeongjun justru tersenyum tipis. Dia menarik lengan kurus gadis itu, mendudukkannya dengan paksa.
"Dia bukan pacarku, tenanglah. Nikmati kencannya, mumpung 'si itu' tak datang."
"Tck!" Seonhee mendecih lantas menghunjam perut Kyeongjun dengan sikunya. "Wake up, Man. It's not even a date, so don't act like it is."
Mengabaikan frasa penuh penekanan dari Seonhee, Kyeongjun terkekeh. Tindakan Seonhee barusan tidak membawa efek besar bagi kesehatan abdomennya. "Yah, daripada kau digoda cowok lain?"
Seonhee mendesah. Malas berdebat, si dara merebut gelas cola dari kontrol Kyeongjun. Berniat menonton film dalam damai.
"Noona cemburu?"
Ekor mata Seonhee melirik Kyeongjun sebal. "Jangan mimpi."
-end.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.