Response(s)

19 3 0
                                    

An orifict by hinatchoo

.

Fumi berharap waktu segera berlalu.

Walau detik terus bergerak, dia membeku. Dunia di sekeliling terasa memudar, pun dengan teriakan para siswi yang sedari tadi menusuk telinga.

Gadis itu sempat berpikir mungkin Kyeongjun mengerjainya. Barangkali dia apes dalam permainan truth or dare, dan ini adalah hukuman bagi si pemuda.

Setelah ini, setelah melaksanakan permainannya, Kyeongjun akan pergi.

Tapi kakak kelasnya diam. Berdiri di sana, dengan posisi sama. Mungkin baru lima sekon berlalu, namun Fumi merasa hampir menghabiskan separuh hidupnya.

"Ah." Fumi terkesiap seperti baru sadar dari lamunan. Di otaknya berkecamuk pertanyaan: apa gerangan maksud pemuda Min ini?

Kyeongjun terkekeh. Tawa itu ... manis sekaliㅡups. "Jawabanmu?"

Mendesah pasrah, Fumi mendorong sedikit tubuh Kyeongjun agar memberinya ruang untuk bernapas. Gadis itu lantas memasok banyak oksigen dalam paru-paru. Ini harus segera diselesaikan, aroma tubuh Kyeongjun tidak baik untuk tubuhnya.

"Memangnya boleh, Senpaㅡ eh, Sunbae."

Hei. Itu bukan kata-kata yang dia rencanakan.

Fumi menunduk. Menatap sneakers hitam-putih Kyeongjun sambil mengumpat pelan. Dia tidak sanggup menatap wajah Kyeongjun tanpa pingsan, namun nalurinya tahu si pemuda tengah tersenyum. Dirasakannya sentuhan lembut menghampiri pucuk kepala, lalu sekejap ia sadar.

Dengan anggukan pasti Kyeongjun, Fumi terkesiap. Gadis itu baru saja mengizinkan Min Kyeongjun untuk memasukiㅡatau memporak-porandakanㅡkehidupannya lebih jauh.

.

Fumi lepas dari kungkungan Kyeongjun dengan kepala berdenyut. Hingga esok pagi tiba, denyutan itu masih setia mencengkeram tengkorak. Mungkin Kyeongjun benar-benar berpengaruh buruk bagi kesehatannya.

"Kau baru ditembak?"

Kaget, Fumi terkesiap. Menyerngit heran saat sang kakak dengan santainya melahap roti bakar dan membaca koran tengah berbicara padanya. "Hah?"

"Aku harap itu bukan si Kyeong-siapalah-itu." Choosaku Yuusuke beranjak. Merapikan asal alat tulisnya sebelum melemparkan piranti itu ke tas ransel. "Tapi kelihatannya memang dia, ya?"

"Aku tidak mengerti apa yang Nii-chan bicarakan," seru Fumi, tanpa sadar mengeraskan suara. Ingatan sekilas tentang kejadian kemarin membuat wajahnya memanas.

Yuusuke meletakkan punggung tangannya ke dahi Fumi. "Apa dia begitu romantis sampai kau demam begini, heh?"

"Nii-chan!" teriak Fumi.

Fumi sudah tidak peduli tampangnya sekarang. Sakit kepala makin menjadi, namun kerlingan jahil Yuusuke membuatnya ingin menonjok pipi tirus si kakak.

"Kalau kau menerimanya, cepat putuskan." Yuusuke berjalan menuju pintu, berjongkok untuk membetulkan tali sepatunya. "Kalau kau belum menjawab, maka tolak."

"Apa?"

"Dia membuatmu sedikit banyak tertekan, 'kan? Bisnisku tidak begitu baik untuk mengganti bantalmu yang terus-terusan rusak," omel Yuusuke akhirnya.

Fumi menghela napas panjang. Yuusuke terdengar seperti ibunya sekarang.

"Aku baik saja. Cepat pergi dan selesaikan kuliah Nii-chan. Aku tidak berpikir bisa sekolah sekarang ...."

Tepat saat itu, penglihatan Fumi berputar. Ia hampir jatuh jika tidak memegang pinggiran meja. Kakinya yang kembali terkilir juga memperburuk keadaan.

"Aku akan lulus cepat, jadi kita bisa kembali ke Jepang. Kau juga tidak perlu berurusan dengan dia lagi." Lalu dia menghilang di balik pintu. Begitu saja.

"Yuu-niichan! Kau sialan!" jerit Fumi saat kakaknya pergi.

Dan, hening. Fumi kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Dia tidak mungkin melawan Yuusuke, tidak jika pemuda itu telah mengorbankan nyaris segalanya hanya demi Fumi. Lalu soal Kyeongjun ... Fumi tidak yakin.

Jantungnya masih berdebar keras. Lupa cara bernapas pun masih ia lakukan kala Kyeongjun beradu pandang dengannya.

Fumi menggeleng keras. Dia akan bilang pada Kyeongjun, walau kata-katanya kemarin bukanlah kebohongan. Toh, pada akhirnya dia akan kembali ke Osaka. Lebih baik kalau Kyeongjun tidak terlibat lebih jauh.

Lebih baik kalau Kyeongjun tidak sampai ... menyukainya. Menyukainya seperti Fumi menyukai Kyeongjun.

Fumi menghirup udara hingga paru-parunya penuh.

Kali ini, dia tidak akan lari.

-end.

Fronting [Discontinued]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang