Her Brother

30 4 0
                                        

Ashortstory by hinatchoo

Yuusuke mendecih pelan. Sudah kesekian kalinya ia melontarkan kata kasar lantaran keadaan jalanan yang tak sesuai ekspektasi.

"Ahjusshi," serunya sambil membuka jendela. Pria paruh baya yang kebetulan berada di samping mobilnya pun mengalihkan perhatian dari volume kendaraan di jalan raya. "Ada apa sampai macet begini?"

"Kecelakaan, katanya."

Setelah mengucapkan terima kasih singkat, pemuda itu mengumpat. Langit sore yang mulai kehilangan pancaran surya menambah kegelisahannya.

Ia memainkan ponsel dan berusaha menghubungi adik semata wayangnya lagi. Naas, sambungan telepon itu harus terputus tanpa jawaban.

Bagaimana kalau Fumi diculik?

Terdengar hiperbola, memang, namun Yuusuke tidak bisa tenang saat sang adik berlama-lama di luar pengawasannya. Fumi memang kuatㅡdalam artian dia bisa menumbangkan lima pria sekaligus dalam keadaan primaㅡnamun Fumi hanyalah gadis biasa. Terlebih, putri bungsu Choosaku itu seorang yang ceroboh.

Desahan napas lega mendominasi atmosfer mobil saat Yuusuke meloloskan diri dari kemacetan. Diinjaknya pedal gas sedalam mungkin, abai akan resiko tertilang oleh petugas pengatur lalu lintas.

"Ck, akhirnya." Bangunan sekolah Fumi sudah mulai terlihat saat matahari meninggalkan peraduan. Yuusuke menajamkan penglihatan sembari mencari lokasi adiknya yang belum bisa ia pastikan.


Oh, shit man!


Yuusuke menepikan kendaraannya lantas turun dan menyusuri trotoar. Ia berhenti tepat di lokasi pemandangan yang sedari tadi mengganggu: tempat pemberhentian bus.

"Fumi, ayo pulang," kata Yuusuke dingin. Ia melempar tatapan menusuk pada pria yang kini berdiri di samping adiknya, tengah tersenyum tanpa dosa. Walau sebersit, Yuusuke menyadari tatap kebingungan dalam iris kelam Kyeongjun.

"Yuu-niichan, ini Kyeongㅡ"

Yuusuke memutar dwimaniknya. Bahkan untuk mendengar nama Kyeongjun saja ia malas. "Aku sudah tahu. Fumi, ayo pulang. Sekarang." Tanpa ragu ia menarik lengan si gadis lalu mendorongnya ke mobil tanpa berminat memandang sosok tegap itu lagi.

Yuusuke mengenal dia sebagai Min Kyeongjun: biang kerok kenapa adiknya menghancurkan kamar. Akting si bungsu Choosaku memang bagus, berdalih frustrasi karena banyaknya tugas. Namun Yuusuke sudah terlatih untuk membedakan kebohongan yang tercermin di iris hazel Fumi.

"Nii-chan!"

Alih-alih merespon, Yuusuke menajamkan pandangannya ke jalanan. "Apa?"


"Tadi apa-apaan?" protes Fumi. Dara itu mencubit keras lengan Yuusuke, agaknya ingin mencuri sebagian fokus sang kakak. "Aku malu, tahu!"

"Oh, kau punya malu?" Yuusuke tidak berpaling, malah sengaja menambah kecepatan. Mau tak mau Fumi menjerit kala badannya terlempar ke belakang karena pengaruh gaya yang terlalu mendadak. "Sudah kubilang jauh-jauh dari dia."

"Tapiㅡ"

"Kau masih bisa cari yang lain," potong Yuusuke enteng. Ia melirik sekilas Fumi yang tengah mengikat surai cokelat gelapnya.

"Nii-chan selalu begitu." Fumi memajukan bibirnya. Ia mengalihkan pandang dari Yuusuke yang masih memantapkan perhatian pada rute jalan.

"Aku tidak minat berdebat, tutup mulutmu. He's so lucky because I didn't punch him right on his face."

"Dia akan menangkismu," sahut Fumi.

Yuusuke terkekeh. "Kalau begitu aku akan membunuhnya."

"Nii-chan!"

"Berhenti berteriak, aku nyaris tuli. Kau lupakan saja dia. Tidak ada pria yang benar-benar baik kecuali kalau ada maunya," ujar Yuusuke. Ia mengacak rambut Fumi dengan sebelah lengan yang terbebas dari setir. "Ngomong-ngomong, buku novelmu ketemu?"

"Kyeongjun Sunbae yang membawanya," jawab Fumi asal. Ia mendecakkan lidah saat ekor mata sang kakak menatapnya tidak suka. "Aku cukup tahu diri untuk menjauhinya. Lagipula dia sudah punya pacar. Dan sebagai catatan, aku bukan anak kecil lagi, Tuan Sok Dewasa."

Kali ini giliran Yuusuke yang menggeram dalam hati. Dia mengutuk Kyeongjun dan segala pesonanya. Walau Fumi bilang dia tak apa, namun Yuusuke paham betul bahwa sang adik mencoba keras berdamai dengan trauma demi mendekati si 'idola'. Yang ada, Kyeongjun malah menyakiti Fumi, dan Yuusuke benci itu.

Sialan.


Tanpa sadar, Yuusuke memukul layar speedometer-nya.

Min Kyeongjun benar-benar pantas untuk dihadiahi satu buah tendangan.

-end

Fronting [Discontinued]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang