His Smile
An original-fiction by carameltsuga
.
Mentari sudah kembali ke peraduannya ketika Fumi menginjakkan kaki di halte. Sembari itu, jemarinya sibuk mengulang pergerakan sama pada layar datarnya, berusaha menghubungi sang kakak. Tapi, yang didapatinya hanya nada sambung tak berkesudahan.
Dasar kakak sialan! rutuknya dalam hati. Membayangkan kakinya sanggup menendangi tungkai si kakak sekeras mungkin. Di saat seperti ini Yuusuke malah tidak bisa dihubungi. Padahal pagi tadi Yuusuke sendiri yang bilang akan menjemputnya.
Fumi akhirnya menyerah. Mendengus lantas menyembunyikan ponselnya kembali ke dalam saku. Ia ingin segera pulang dan bertemu dengan bantal-guling-kasur kesayangannya. Jadi ia putuskan untuk mengabaikan ultimatum sang kakak pagi tadi.
Bus yang hendak ditumpanginya datang lima menit kemudian. Tapi, sebuah suara menginterupsi tepat sebelum ia naik.
"Fumi!"
Itu Min Kyeongjun. Dengan ransel hitamnya yang disampirkan di salah satu bahu, rambut yang sedikit berantakan khas Kyeongjun, dan senyum -yang kata orang- bak malaikat. Pemuda itu melambaikan tangan padanya.
Jantung Fumi praktis berdetak lebih cepat. Tapi kemudian Fumi mengangkat tangan, melambai pada pemuda itu tanda bahwa ia harus segera masuk ke dalam bus jika tak ingin tertinggal. Padahal ia berharap bisa mengobrol lebih dengan Kyeongjun.
Harapannya boleh jadi terkabul. Karena sejenak kemudian ia mendapati Kyeongjun duduk di sampingnya, ikut menumpangi bus yang sama.
"Mau pulang?"
Fumi menahan senyumnya agar tidak terlalu lebar, tak ingin Kyeongjun tahu hatinya tengah melonjak senang. Ia lantas mengangguk. "Sunbae? Bukannya Sunbae bawa motor?"
Fumi pikir Kyeongjun akan menjawab sama; bahwa pemuda itu juga bergegas pulang. Tapi, kemudian ia mendapati Kyeongjun menggeleng, sedikit mengangkat bahu. "Arah rumahku sebaliknya. Aku ingin berjalan-jalan sedikit. Dan aku tidak membawa motor hari ini."
"Besok final lomba, kan?" Kyeongjun bertanya lagi ketika Fumi hanya merespon kalimat terakhirnya dengan bergumam.
"Mm. Sunbae bermain di tim lagi?"
"Tentu saja. Kau?"
Dan sela waktu dalam bus mereka habiskan dengan mengobrol kecil. Meski Fumi lebih banyak menarik napas diam-diam karena desir aneh yang ia rasakan.
"Berhenti di mana?" tanya Kyeongjun akhirnya ketika bus sudah berhenti untuk ke-sekian kalinya.
"Halte depan."
Lalu hening. Jujur saja Fumi tak ingin turun. Terlebih saat Kyeongjun berada dalam jarak yang begitu dekat dengannya. Tapi apa boleh buat ketimbang harus menghadapi omelan sang kakak kalau-kalau ia terlambat pulang.
Bus mulai melambat, halte di depan terlihat dan Fumi sudah menyampirkan tasnya kembali ke pundak. Para penumpang yang ingin turun bergegas, menanti pintu terbuka. Fumi berniat melangkah, tapi, kemudian sadar tangannya tahu-tahu terjerat dalam genggam si pemuda.
Fumi lantas tersentak. Tidak ada lagi senyum lebar menyebalkan atau senyum percaya diri di wajah pemuda itu. Raut Kyeongjun terlihat berbeda meski tetap menyunggingkan garis lengkung tipis. Karena yang Fumi lihat justru senyum sarat akan luka dan perih. Mungkin berlebihan. Namun, hanya itu yang dapat ia simpulkan.
"Bisa kau temani aku? Hari ini saja. Aku janji akan mengantarmu pulang."
.fin

KAMU SEDANG MEMBACA
Fronting [Discontinued]
Teen FictionChoosaku Fumi, gadis dari Jepang, termasuk satu dari sekian orang yang mengagumi sosok Min Kyeongjun. Fumi awalnya tidak terpikir untuk mendekati Kyeongjun. Hanya saja ia terus-menerus ditempatkan oleh takdir pada ketidak-sengajaan bertemu dengan pe...