An orifict by hinatchoo
.
Fumi kembali bersekolah setelah tiga hari menghabiskan waktu di ranjang. Demamnya ternyata parah. Gadis itu baru sanggup berdiri saat Yuusuke membujuknya (mungkin lebih tepat disebut mengancamnya) untuk minum obat.
Baru menginjakkan kaki di halaman sekolah, dia sudah sadar apa yang salah. Seragam lengkap yang digunakannya terlihat mencolok di antara kaus jersey dan celana olahraga aneka warna.
Damn.
Fumi berlari tunggang-langgang, mengabaikan pandang para siswa yang cekikikan melihat penampilannya. Fokus penuh ia tujukan pada lokasi pemberhentian: kelas.
Ruang itu sepi. Hanya ada beberapa tas tanpa pemilik serta bocah kutu buku yang menekuni lembar bersampul tebal di pojok ruangan. Pastilah ia tak tertarik dengan acara 'ramai' sejenis kompetisi olahraga.
Memanfaatkan keadaan, Fumi mengobrak-abrik isi tas cokelatnya. Berharap akan menemukanㅡpaling tidakㅡselembar celana olahraga yang bisa ia kenakan.
Mungkin waktu sudah berlalu dua menit kala Fumi mengangkat sesuatu diiringi desahan napas lega. Bocah kutu buku itu meliriknya sebal, namun Fumi tak ambil pusing. Lagipula dia tidak pernah ingat punya teman yang berkacamata setebal dia.
Si gadis Choosaku buru-buru merajut langkah menuju kamar mandi. Kenop pintu toilet sudah berputar setengah saat dia kembali menyadari sesuatu yang janggal.
Dia bahkan tidak punya apa pun untuk dipadukan dengan celana olahraga. Kemeja seragam? Jangan konyol.
Gadis itu keluar dari kamar mandi secepat dia masuk. Menggenggam celananya lantas mengeluh pada diri sendiri. Mungkin dia akan meminta maaf pada teman-temannya karena tidak bisa mengikuti estafet, atau lari jarak pendek, atau ... entahlah. Menemukan mereka adalah hal paling esensial sekarang.
"Salah kostum, Nona?"
Spontannya nyaris menempeleng rahang tajam si pemilik suara. Selain menghalangi jalan, bariton itu juga berniat mengejek penampilannya.
Melihat sepatunya saja sudah mampu membuat Fumi tertegun. Cepat-cepat ia mengambil langkah mundur.
Sebagai catatan, Fumi tidak ingat mulai kapan dia bisa mengenali sepatu Kyeongjun.
"Ehㅡano, Sunbae," sapanya kikuk. Menahan diri sekuat mungkin agar tidak berkelakuan di luar garis normal. "Sunbae tidak ikut lomba?"
Min Kyeongjun terkekeh. Tangannya terulur mengacak surai kecokelatan Fumi, menjadikan pertahanan yang dibuat gadis itu luluh seketika. Sekarang semua orang bisa melihat pipi Fumi dilumuri warna merah tomat. "Kau sendiri?"
"Aku ... ano, ehㅡ" Bola mata Fumi berputar mencari bantuan. "ㅡbaru sembuh."
Mendadak, Kyeongjun mendekatkan tubuhnya ke milik Fumi. Persis seperti kejadian penawaran (atau pengakuan?) tiga hari lalu, pemuda itu mencengkeram kedua bahu, menatap lurus iris hazel Fumi.
"Kau tidak terlihat sakit sekarang." Saat Fumi sadar, Kyeongjun sudah menempelkan punggung tangannya ke dahi. Pemuda itu melanjutkan, "Bahkan kau membawa celana olahraga."
Serangan temperatur tinggi mendadak mencumbu kulit wajah Fumi. Meninggalkan gadis itu membatu dengan wajah merah tomat, perpaduan sempurna antara malu dan gugup.
"E-eh? Tapi a-aku benar-benar .... "
Kyeongjun melepas hoodie abunya. Menyisakan jersey hitam putih membungkus tubuh, ia lantas memakaikan tudung pakaian tebal itu ke kepala Fumi. "Pakailah. Mungkin terlalu besar, tapi kau bisa melipat lengannya."
Udara membeku di sekeliling Fumi. Dia tak bergerak. Hanya melempar satu dua kedipan seperti orang tolol. Mungkin waktu ogah berjalan, atau kakinya yang terpaku permanen dengan bumi ....
"Aku pergi dulu. Sampai ketemu di lapangan futsal." Sentuhan hangat menyapa pucuk kepala Fumi lagi. Lalu, punggung lebar Kyeongjun berjalan di depannya.
Debar jantung Fumi masih terlampau keras bahkan saat sosok Kyeongjun hilang sepenuhnya. Gadis itu mengambil banyak oksigen dan menemukan aroma baru bercampur di antara partikel gas yang ia hirup.
Bau khas laki-laki datang dari hoodie yang tengah dipeluknya.
Gadis itu berbalik menuju toilet. Melupakan sejenak tentang niatnya menjauhi si pemuda Minㅡyang lagi-lagi membuatnya tak berkutik. Hal itu juga berlaku untuk rencana Yuusuke yang dibisikkan pada Fumi tempo hari ....
Ah, itu tidak penting sekarang.
Hari ini, walau hanya hari ini ... Fumi ingin bersenang-senang.
-end.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fronting [Discontinued]
Teen FictionChoosaku Fumi, gadis dari Jepang, termasuk satu dari sekian orang yang mengagumi sosok Min Kyeongjun. Fumi awalnya tidak terpikir untuk mendekati Kyeongjun. Hanya saja ia terus-menerus ditempatkan oleh takdir pada ketidak-sengajaan bertemu dengan pe...
![Fronting [Discontinued]](https://img.wattpad.com/cover/102512339-64-k218763.jpg)