3. Flopia!

32.2K 2.8K 503
                                        

Flopia menutup kedua telinganya begitu mendengar suara pertengkaran dari kedua orang tuanya yang terjadi di meja makan. Dulu keluarganya sangat harmonis, namun kini semua telah berubah semenjak Papanya menjabat menjadi wakil rakyat di daerah.

Papanya lebih suka marah-marah dan jarang sekali pulang ke rumah. Sampai akhirnya, 6 bulan yang lalu Flopia tahu jawaban dari perubahan itu. Tanpa sengaja Flopia membuka handphone saat Papanya mandi. Detik itu juga hati Flopia hancur melebur saat membaca pesan sms dari seorang wanita simpanan Papanya.

Flopia sama sekali tidak menyangka jika Papa yang dia puja dan dia sayangi begitu tega menduakan Mamanya. Ikatan janji suci itu telah dinodai. Pernikahan yang sudah dibangun selama dua puluh tahun pun hancur begitu saja.

"Katakan apa yang menjadi kekuranganku sebagai istri? Aku memberimu anak. Aku bahkan rela berhenti bekerja agar bisa menjadi istri yang baik untukmu dan anak-anak kita. Tapi kenapa? Kenapa kamu tega menyakiti dan menduakan aku?!" Bentak Mama Flopia dengan berurai air mata.

"Jangan pernah membentakku Lusi!" Balas pria itu geram dengan melempar piring-piring kaca yang berisi masakan istrinya ke lantai rumah.

"Memangnya kenapa?! Aku juga berhak untuk marah Tama!"

Plak!

Tama menampar pipi Lusi di depan anak perempuannya. "Ini yang tidak aku suka darimu. Kamu selalu melawan ucapanku. Dengar Lusi, aku akan menikahi Vina. Karena dia sedang hamil dan mengandung anak lelakiku. Terserah kamu setuju atau tidak, aku akan tetap menikahinya."

Lusi tersenyum miris. Wanita paruh baya itu menatap suami yang pernah ia cintai. "Hanya karena aku tidak bisa memberikanmu anak lelaki, kau berselingkuh?" Wanita mengangguk paham dan menegakkan kepalanya. "Baiklah, ceraikan aku terlebih dahulu Tama. Setelah itu kamu bebas menikahi Vina."

"Ya. Tanpa kamu suruh pun aku memang akan menceraikanmu, tapi jangan harap kamu akan mendapatkan uang dariku lagi."

Lusi mengangguk lemah. "Tidak masalah. Aku tidak akan menuntut itu. Tapi ingat, Flopia adalah putri kandungmu. Kamu yang harus menanggung semua biaya hidupnya."

"Tentu, asal dia mau ikut tinggal bersamaku."

Flopia menggebrak meja makan dengan kedua tangannya. Dia berdiri dan menatap Papanya dengan mata memerah. "Flo benar-benar kecewa sama Papa. Entah setan apa yang udah merasuki pikiran Papa, sampai Papa tega menghancurkan keluarga sendiri. Seharusnya Papa bersyukur telah menikah dan memiliki anak, bukankah anak itu anugerah dari Tuhan? Betapa berdosanya Papa karena sudah menyakiti hati istri dan anak Papa sendiri."

"Jangan menasehati Papa Flo. Ini urusan rumah tangga Papa dan Mama, kamu tidak akan mengerti."

"Papa yang tidak mengerti! Kenapa Papa sanggup berselingkuh dengan wanita muda yang usianya hampir sama dengan putri Papa sendiri!"

"Cukup Flo! Papa tidak mau mendengar apapun lagi." Bentak Tama memperingatkan putrinya.

Namun Flopia tidak peduli. Dia tetap membuka suara untuk menuangkan emosi yang ada dalam dirinya. "Bukankah dulu Papa menikahi Mama karena cinta? Lalu kemana perginya cinta itu? Kenapa cinta Papa bisa kandas setelah 20 tahun lebih membina rumah tangga?"

"Cukup Flopia! Papa bilang cukup!"

Flopia menarik tangan kanan Mamanya dan menunjukkan ke arah Tama. "Papa lihat ini... apa Papa lupa? Kalau Papalah yang sudah menghiasi jari manis Mama dengan cincin, mengikatnya dengan kalimat janji suci pada Tuhan? Lalu bagaimana bisa Papa menghianatinya? Bukan hanya menghianati cinta Papa kepada Mama, tetapi mengingkari janji Papa kepada Tuhan!"

Plak!

Tamparan tajam mendarat di pipi kanan Flopia. Dia jatuh terduduk di kursi meja makan itu. Bukan karena kerasnya pukulan dari Tama tadi, tapi karena energi yang sebelumnya begitu besar tiba-tiba habis tersedot oleh amarahnya sendiri.

Hello, Flopia!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang