Sore ini, Stephany sampai rumah sore hari. Dan belum melihat maminya.
"bii" panggil Stephany pada bibinya.
Dengan lemas ia melemparkan tubuhnya ke sofa. Bibi datang dengan serbet yang selalu ada di bahunya. "iya non, kenapa?" Tanya bibi
Stephany melirik bibinya "mami pergi?"
"emm.. iya non, barusan aja nyonya pergi"
"sama papi?"
"bukan," bibi mengingat "kayaknya.. temen nya, non"
"oh. Yaudah, makasih bi"
"iya," menatap Stephany "non mau di buatin minum?"
"ngga usah bi, nanti aku ambil sendiri aja kalo udah haus"
"iya non, bibi ke belakang dulu ya"
"iya biiii" Jawab Stephany meledek bibinya
--oo
Di kamar, Mark lee selalu memikirkan kejadian tadi. Kejadian, dimana Stephany memeluk punggungnya dan menangis dengan bebas di pundaknya.
"kasian," ucapnya sambil memainkan dasi yang sudah di lepas "gue baru tau, kalo dia di kasarin sama Jeno" berjalan ke jendela kamarnya.
"gua kira cewek kaya dia, nindas cowok" menyalakan putung rokoknya.
--oo
Di kamar nya Stephany menutup dirinya dengan selimut. Berharap bisa memejamkan mata dan kemudian melupkan kejadian buruk hari ini..
Mark yang sedang merokok di kamarnya, di kejutkan oleh ketukan pintu dari luar, dan suara yang tak lain adalah suara ibunya.
"Marrk?" panggil mama Mark dari luar kamar "kamu di dalem kan sayang?"
'mami? Mampus anjiiir' Dengan Cepat, Mark membuang putung rokoknya ke bawah "ya, mam. Kenapa?" suara Mark terbata karna terburu-buru.
BRUK! Suara kaki Mark yang membentur ujung meja belajarnya
'aaahh apes' memegang lututnya yang terbentur meja
"Mark? Kamu, lagi apa sayang?" Tanya mama Mark
Untung, tadi sebelum Mark berfikir untuk merokok, ia mengunci pintu kamarnya. Mark bergegas mengambil pewangi ruangan, dan membuang bau asap rokok di kamarnya, "beresin buku mah" memegang lutunya. "ahh.. sialan ni meja" memukul meja
"mama boleh masuk?"
Setelah merasa bahwa udara kamarnya bersih dari asap rokok. Mark membuka pintu kamarnya "boleh." Senyum "mah.."
Mama Mark memperhatikan putranya "kamu, tumben banget malem-malem beresin buku?"
"mama, anaknya rajin di komentarin" keluh Mark
"engga kok" Mama tersenyum sambil mengelus rambut Mark. Menuntun anak nya duduk di kasur "mama mau tanya, tapi Mark jawab mama jujur ya"
"nanya aja kali mah, formal banget"
"kamu, sebenernya keberatan ngga sih, kalo mama jodohin kamu sama Stephany?"
Pertanyaan mama Mark membuatnya bingung. Kebingungan, antara mau, dan tidak mau. Mau, karna sebelumnya Mark memang sudah menyukai Stephany, jauh sebelum ia tau bahwa akan ada perjodohan ini. Dan tidak mau, karna ia masih merasa bahwa Jeno adalah hambatan terbesarnya.
"mark?" mama memeluk Mark "gpp kok, kalo kamu ngga mau. Mama bisa batalin acara ini," ucapnya mengiba "yaa.. walaupun, urusan bisnis keluarga akan sedikit hancur"
