Chapter 14

1.2K 144 3
                                    


__ooOOOoo__

==Author Side==

Masih di ruangan putih nan dingin dibalik jeruji besi, seorang Namja terlihat tidur dengan polosnya. Ia tertidur, tapi apa benar ia sudah masuk ke dalam alam mimpinya? Suara kegelisahan Namja disebelahnya turut mewarnai pendengaran dan mengganggu tidur Namja itu. Di balik wajah polos nan seram itu, tersimpan perasaan yang berkecamuk.

'Dia tengah berfikir'

Namja itu terus berusaha acuh mengenai suara kegelisahan Namja yang paling dekat dengannya, dia -Tao- mencoba memasukki alam mimpi walau sebenarnya sangat sulit. Tao terus menutup mata dengan lengan sebagai bantal, tak luput kulitnya turut merasakan betapa dingin lantai tempat ia mencoba tidur saat ini. Begitu Namja yang didekatnya - Kris - mulai ikut berbaring, dia -Tao - membuka bola mata indah untuk melihat keadaan sang ketua Wild. Ekspresi wajah Kacau, sedih, bimbang dan bingung, terukir jelas di wajah Kris. Tao mengerti betul bagaimana Kris mengingat mereka sangat dekat, bahkan jauh sebelum Wild terbentuk. Begitu Kris mencoba bangkit kembali, Tao mulai memejamkan mata dan berusahaa untuk terlihat seperti Namja yang tertidur polos.

"Tao tak ingin merepotkan Kris lebih dari ini"

Samar-samar dalam imajinasi Tao, terlihat jelas bagaimana kehidupannya sebelum ini. Kehidupan keluarga yang berbeda dari mereka pada umumnya, hingga ia sempat terpuruk dalam penderitaan yang cukup lama dan sangat membekas. Tanpa adanya pengalih, mungkin Tao sudah seperti orang linglung yang tak tau apapun. Tapi, karna kemunculan sosok Kris - Wu Yi Fan - semua berubah, apa lagi saat ia bertemu dengan Kai - Kim Jong In - dan Taehyung yang membentuk sebuah kelompok bernama Wild. Kehidupan Tao yang kelam berubah menjadi penuh kesenangan dan tantangan.

'Wild mengubah Kehidupan Tao menjadi lebih Baik'

==Flashback==

==Tao POV==

Pernahkah terlintas dalam benakmu saat melihat kedua orangtuamu duduk tersenyum di sofa berwarna merah klasik sembari menegak secangkir coffee membawakan berita buruk? Wajah cerah dengan senyum merekah menggambarkan wajah yang bahagia namun mereka mengatakan hal terburuk sepanjang hidupku. Mama terlihat meneguk coffee itu perlahan sedangkan Baba hanya diam.

"Tao" Panggil Mama padaku

"Usiamu sekarang menginjak 15 Tahun benar?" tanya Mama

"Ya"

"Kau juga sudah menerima bukti kelulusan sebagai siswa menengah pertama dan bersiap masuk kesekolah menengah atas bukan? Berarti Mama dan Baba bisa mengatakan semuanya padamu. Apa kau siap?"

"mengatakan apa Mama, Baba?" terlihat Mama mendeham pelan sedangkan Baba membenarkan posisi duduknya.

"Mama dan Baba sudah tak bisa berkumpul bersama, mungkin dalam waktu dekat kami akan berpisah" Ucap Mama lembut, yang ada difikiranku pertama kali adalah perpisahan sementara namun..

"Mama dan Baba akan bercerai, Mama akan menetap disini sedangkan Baba akan pindah ke Seoul" Baba mulai membuka suara, "kau boleh memilih untuk ikut dengan siapa, Baba atau Mama?"

Sebuah pertanyaan sederhana dan membutuhkan jawaban yang cukup rumit, bagaimana bisa aku memilih untuk ikut dengan siapa? Baba di Seoul sedangkan Mama di Qingdao, jarak yang cukup jauh untuk bisa bertemu dengan keduanya. Bisa saja saat aku memilih salah satunya, maka aku tak akan pernah bisa bertemu dengan yang satunya. Tak akan mudah untuk bertemu salah satu dari mereka jika sudah terpisah. Jarak, waktu, tempat dan suasana akan berbeda jika bertemu ataupun sekedar melihat.

Tale Of MelodiesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang