Amantes Sunt Amentes

28.8K 2.4K 334
                                    

Lovers are lunatics

"Good morning, Mas Zaid. Have a great day!" Risa menggumam, mengucap ulang kalimat yang ia ketikkan melalui WhatsApp kepada Zaid. Sejak pertemuan pertama mereka, Zaid dan Risa bertukar nomor telepon. Untungnya Zaid sukarela memberi nomor teleponnya tanpa merasa curiga ataupun menolak terlebih dahulu. Risa tentu saja kegirangan. Ia jadi punya kesempatan untuk lebih dekat dengan idolanya ini.

Setelah mengirimkan pesan tersebut dan mendapatkan notifikasi centang dua biru, Risa menaruh ponselnya dan kemudian menatap kembali layar Televisi. Hari ini Zaid siaran pagi dan Risa sedang menatap idolanya ini sambil tersenyum sendiri.

"Udah gila emang lo ya," kata Tania sambil melewati Risa yang duduk menatap Zaid seperti tersihir. Kemarin, begitu sampai di apartemen, Risa langsung menceritakan pertemuannya dengan Zaid. Terutama bagaimana penampilan Zaid yang membuat Risa meleleh dan ingin memeluk dia.

"Apa ini yang namanya cinta?" kata Risa pelan.

"Cinta gigi lo. Ketemu aja baru sekali," Tania menggeleng dan lebih memilih menggunakan kaos kaki untuk berangkat bekerja.

"Tapi Tan, abisan dia tuh..."

"Ganteng banget. Badannya huggable. Iya lo udah ngomong gitu sekitar seratus empat puluh delapan kali dari kemarin. Ampe apal gue ya,"

Risa tertawa lagi. Dia sudah siap berangkat kerja sedari 30 menit lalu. Tapi karena ingin menonton siaran Zaid hingga selesai, rencana keberangkatannya jadi tertunda.

"Dasar fans gila. Awas lo baper ya," Tania menggoyahkan lamunan Risa. "Buruan yuk ah berangkat kerja."

"Iya iya. Ayok," Risa segera bangkit karena memang siaran Zaid sudah selesai. Keluar dari apartemen mereka dan berjalan menuju lift, ketika itu ponsel Risa bordering.

'Good morning , Risa. Have a nice day for you too.' Begitu isi balasan dari Zaid. Membuat Risa bersorak kegirangan dan Tania buru-buru menjauh.

***

"How's your morning, honey?"

Sapaan itu membuat Zaid tersenyum. Ia duduk sambil memandangi kekasih gelapnya yang seorang chef. Sepertinya sedang mencoba beberapa masakan sebelum restorannya buka mulai nanti siang.

"Good as always," Zaid menjawab dengan ceria. Kekasihnya lanjut memasak setelah melemparkan senyum juga. "Masak apa kali ini, Boy?"

"Hmm, Cuma coba mengutak atik sedikit kelebihan seafood di kulkas," Boy mengangkat wajan dan menunjukkan isinya ke arah Zaid.

"Boleh kucoba dong?"

"Kamu beruntung hari ini. Stafku akan datang terlambat jadi kamu bisa dapat kesempatan untuk mencoba masakan ini," jawab Boy sambil mengedipkan sebelah matanya.

Hal ini membuat mata Zaid langsung berbinar. Ia selalu senang mencoba masakan Boy, pria yang dipacarinya sejak setahun lalu.

"Gimana Bapak dan Ibu?" Tanya Boy setelah menaruh piring di hadapan Zaid. Masakannya terlihat begitu menggiurkan.

"Baik. Biasa aja. Nelepon sehari dua kali, nanya kabar biasa. Ingetin jangan lupa makan. Nanya kapan pulang," jawab Zaid sambil mengangkat bahu lalu mulai menikmati masakan Boy.

"Ada rencana pulang memang?"

"Sepertinya akhir pekan ini. Kamu mau ikut?" Zaid menawarkan dengan senyum jahil.

"Lalu aku dan kamu sama-sama dilempar keluar rumah karena anak sulungnya ketahuan gay?" Boy tertawa. Zaid juga ikut tertawa, lebih miris. "Tidak terima kasih. Lain kali kalau orang tua kamu sudah siap menerima bahwa putra kebanggaannya adalah penyuka sesama jenis, baru aku akan memunculkan diri di hadapan mereka."

The Liars - Trilogi Zaid Risa 1 - END (WATTPAD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang