Jealous?
Hari pernikahan mereka yang keempat dan Risa merasa dia dan Zaid hanya dua orang yang kebetulan tinggal di tempat yang sama. Lagipula apa yang diharapkan Risa sih? Dia sudah tahu dia Cuma jadi istri pura-pura. Zaid tak akan jatuh cinta dalam semalam kepadanya. Hanya karena dia sudah berjanji akan menjadi suami Risa.
Risa menghela nafas lalu mengecilkan suara TV. Gorden yang menutupi jendela besar di ruang tamu mereka dibuka lebar-lebar oleh Risa. Ia memandang keluar ke pemandangan yang menunjukkan wilayah Episentrum. Memperhatikan mobil-mobil yang masih lalu lalang saja.Tut. Cklek.
Risa menoleh. Akhirnya Zaid pulang.
"Hai," Risa menyapa lebih dulu. Menghampiri suaminya yang baru tiba. Risa mengelurukan tangan.
"Eh?" Zaid tidak mengerti.
Risa dengan sabar menarik tas Zaid dan membawanya ke kamar. Zaid terpana sendiri melihat itu.
"Kamu belum tidur?" tanya Zaid sembari mengikuti Risa masuk ke dalam kamar. Di sana, Risa menaruh tas Zaid dengan rapi di meja dan menyiapkan pakaian tidur Zaid.
"Belum. Kan nunggu Mas Zaid pulang dulu," Risa mengangsurkan setumpuk pakaian untuk Zaid.
"Sampai selarut ini?" Zaid menggeleng tak percaya. Sudah hampir tengah malam.
Risa menanggapi dengan mengangkat bahu. "Boy apa kabar?"
"Dia baik-baik saja. Acaranya lancar di Paris. Ah dia belikan kamu tumbler Starbucks. Setelah aku bilang kalau kamu koleksi. Ada di tasku,"
"Betul?" Mata Risa berbinar dan melebar.
Zaid mengangguk. Sambil mengapit pakaian yang disiapkan Risa, Zaid menghampiri tasnya. "Ini,"
"Waaah," Risa menatap benda tersebut dengan takjub. Senang karena mendapatkan sesuatu yang ia sukai sebagai kejutan. "Terima kasih banyak! Tolong sampaikan terima kasihku untuk Boy ya."
Melihat Risa yang bersikap layaknya anak kecil, Zaid merasa tersentuh. "Iya nanti kusampaikan."
"Kalau begitu, aku tidur duluan ya Mas karena Mas Zaid sudah sampai di rumah. Selamat istirahat!" Risa melambaikan tangan yang memegang tumbler lalu keluar dari kamar Zaid. Masuk ke kamarnya sendiri sambil menimang benda yang dibawa Boy dari Eropa.
***
"Jangan kayak anak kecil gitu," Zaid menarik rambut Risa yang diikat kuncir kuda agar kembali mendekat kepadanya."Apanya yang kayak anak kecil?" Risa berbalik, tangan kanannya memegang rambut yang sedikit perih saat ditarik Zaid.
"Makannya. Jangan sambil jalan-jalan. Sini duduk," Kali ini Zaid menarik tangan Risa dan membuatnya duduk di bangku yang kosong.
Risa menurut dan duduk di samping Zaid. Melanjutkan memakan aromanis besar yang sudah lama dia inginkan. Baru sekarang dipenuhi setelah Zaid mengajaknya ke Farmhouse Lembang. Besok Zaid sudah kembali bekerja setelah mereka berdua sama-sama libur. Kemarin Zaid masih sibuk bekerja atau bertemu Boy. Selama itu Risa mengisi waktu dengan mengerjakan bisnis online shop, merapikan rumah, menunggu Zaid pulang.
"Rame banget ya," Risa memandang ke kanan dan ke kiri. Tangannya masih memegang aromanis yang mulai meleleh.
"NAmanya juga lagi musim liburan, Ris," ujar Zaid. Tangannya terulur kea rah Risa dan ikut mencomos aromanis yang besar.
"Tapi makasih ya Mas mau macet-macetan dari Jakarta ke sini," Risa memberikan senyum termanisnya pada Zaid.
"Iya," Zaid mengacak rambut Risa. "Nanti begitu sampai di rumah, pijet kaki aku ya. Pegel nih,"
"Siap! Pijat doang mah kecil," Risa mengangkat-angkat jempol yang tidak sibuk memegang aromanis.
"Kalau aku gak mengajak kamu menikah, Ris, apa rencana hidup kamu sebenarnya?" Zaid tiba-tiba mengajak mengobrol mengenai sesuatu yang serius.
"Aku mau cari kerjaan lain. Karena S2 aku juga sudah rampung. Tahun ini rencanaku cari kerjaan lain yang jabatannya lebih tinggi. Aku juga ingin berangkat umroh dengan Mama dan Papa. Selain itu ya menikah. Memang menikah masuk ke targetku tahun ini. Dengan sekarang ternyata aku sudah menikah, berarti aku bia coret salah satu targetku kan?"
"Biarpun kamu menikah bukan dengan orang yang kamu cinta, Ris?"
Risa diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Zaid. Dia malah berdiri dan membuang sisa aromanis ke tempat sampah. Setelah itu dia duduk kembali di samping Zaid.
"Aku cinta kamu kok Mas. Memangnya kamu gak sadar ya?"
***
"She told me that she love me," kata Zaid saat makan siang dengan Boy sebelum ia berangkat ke kantor PTV untuk siaran. Setelah Risa mengatakan hal itu, Zaid memilih untuk tersenyum saja dan mengajak Risa mencari makan siang. Padahal sepanjang sisa hari ini Zaid banyak memikirkan berbagai hal di benaknya. Terutama mengenai Risa yang baru menyatakan perasaannya."So? Does it bother your tought?"
Zaid ingn menjawab tidak tapi ia tahu kata-kata Risa itu sangat mengganggu pikirannya.
"Ya," jawab Zaid dengan pelan.
"Kenapa?" Boy bertanya dengan nada yang dingin.
Zaid menatap Boy sambil bersandar di kursinya. "Aku berharap dia tidak pernah jatuh cinta kepadaku karena dia tahu aku tidak menyukai perempuan. Dengan demikian hubungan pernikahan kami bisa berjalan dengan biasa saja. Hanya dua orang yang kebetulan tinggal satu atap, mencatatkan nama mereka sebagai suami istri, tapi tidak pernah memiliki perasaan lebih terhadap satu sama lain. Kalau dia bilang dia menyukai aku, semuanya akan lebih sulit, Boy. Dia bisa tenggelam dan sedih dalam perasaannya karena dia tahu aku tidak akan pernah membalas perasaan dia. Aku juga akan merasa bersalah karena memanfaatkan perasaan dia untuk kepentingan diriku sendiri."
"Bukannya memang sejak awal kamu memanfaatkan dia untuk kepentinganmu?" Boy menyeringai.
"Ah," Zaid mengerang. "Oke lah kita anggap seperti itu. Tapi pada dasarnya, dia tahu kan bahwa aku tidak pernah bisa mencintai dia."
"Saranku, sebaiknya kamu pura-pura tidak tahu tentang perasaan Risa. Anggaplah hubungan kaian seperti sebelum Risa mengatakan perasaannya. Jalani hubungan kalian sebagaimana yang kalian tentukan di awal pernikahan. Kamu, lupakan bahwa ada orang lain yang menyukai kamu. Bahkan istrimu sendiri. Kamu punya pacar lain yang benar-benar kamu cintai kan?" Boy mengulurkan tangannya dan memegang tangan Zaid.
"Ya, I love you Boy," Zaid tersenyum dan mendekatkan dirinya kepada Boy.
***
Risa memeluk dua kantong berisi kopi dan makanan dari Starbucks. Dia tahu sore ini Zaid akan siaran berita seperti biasa. Hari pertama bekerja kembali setelah Zaid menikah. Setelah membeli penganan tersebut, Risa memesan Uber untuk mengantar dirinya ke kantor PTV. Perjalanan yang tidak terbilang jauh dari apartemen Zaid di Aston Rasuna menuju kantor PTV yang juga berada di daerah Kuningan. Niat Risa adalah memberikan ini sebelum Zaid siaran dan setelah itu ia akan menunggu Zaid di ruang tamu. Setelah itu mereka akan pulang bersama dan makan malam di suatu tempat.Begitu turun dari Uber, Risa tersenyum pada petugas security yang berjaga dan berjalan pelan ke dalam gedung. Zaid belum Risa kabari tentang kunjungannya kali ini. Namun Risa hampir hapal jam datang Zaid ke kantor sehingga dia bsa memperkirakan kapan Zaid datang dan punya waktu untuk bertemu dengannya lebih dulu. Sebelum Zaid berganti pakaian dan mempelajari materi yang akan dia bacakan nanti.
Sambil terus memasang senyum di wajahnya, Risa mendadak ingin menoleh ke belakang. Entah apa yang mendorong dirinya untuk melakukan hal itu. Dia berbalik dan terus menatap ke area drop off. Tepat saat sebuah mobil berwarna silver berhenti. Pintu penumpang terbuka dan Zaid turun dari mobil tersebut. Pintu kembali ditutup namun jendela terbuka. Saat itu Risa melihat bahwa Boy yang mengantar Zaid hingga ke PTV. Mereka saling melempar senyum. Tak lama kemudian jendela mobil kembali tertutup dan mobil itu pun melaju.
Risa bisa merasakan dirinya terbakar api cemburu. Ia tidak suka melihat hal itu. Melihat Zaid saling melempar senyum dengan Boy.
Di sisi lain, siapalah Risa sehingga memiliki hak untuk cemburu akan hubungan Zaid dan Boy?
Zaid berbalik dan mulai memasuki gedung PTV. Dia langsung bisa melihat Risa sedang menatapnya. Zaid tersenyum dan melambai.
Risa kembali mengenakan topeng yang selalu digunakannya selama menjadi istri Zaid. Balas tersenyum dan mengangkat barang yang dibawanya. Sehingga ketika Zaid menghampirinya, Zaid tidak tahu Risa baru saja merasa sangat cemburu.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
The Liars - Trilogi Zaid Risa 1 - END (WATTPAD)
ChickLitZaid adalah seorang public figure yang cukup dikenal di ibukota. Sedangkan Risa hanyalah karyawan swasta biasa yang lama kelamaan jatuh cinta kepada sosok Zaid. Zaid yang mulanya terasa begitu jauh namun lama kelamaan dekat dengan dirinya layaknya s...