Amorem Boni Omnia

22.6K 2.2K 124
                                    


Not every kindness is love

Zaid baru pertama kali merasakan ditampar perempuan. Bahkan saat ia putus dengan pacarnya dulu (oh ya dia pernah berpacaran dengan perempuan), mantan-mantan pacarnya tidak pernah menamparnya. Mereka hanya menangis, memohon kesempatan lain, dan setelah Zaid menolak, mereka akan menangis-nangis lalu pergi.

Sedangkan saat ini, ketika Zaid meminta seorang perempuan menikah dengannya, yang ia terima adalah sebuah tamparan di pipi. Begitu kencang dan membuat banyak orang menoleh kepadanya. Pipi Zaid langsung berdenyut perih. Ia menyentuh pipinya dan berusaha memandang Risa. Risa sendiri terlihat kaget, tangan yang ia pakai menampar Zaid masih tergantung di udara. Tak lama kemudian Risa balik kanan dan menjauhi Zaid.

Hal pertama yang dilakukan Zaid adalah menanggapi orang-orang yang penasaran akan dirinya.

"Cuma sedikit salah paham. Semua baik-baik saja. Maaf mengganggu. Silakan kembali ke urusannya masing-masing," Zaid tersenyum. Menyadari bahwa tidak ada keributan lanjutan, semua orang mengabaikan Zaid. Membuat Zaid lega dan ia bergegas mencari Risa.

Kaki Zaid melangkah cepat menyusuri setiap sudut tempat resepsi ini. Namun ia tidak kunjung menemukan seseorang dengan gaun hijau muda. Zaid berpikir bahwa Risa mungkin pulang. Cepat ia berlari keluar.

Risa sedang berdiri memandangi deretan mobil sambil memegang tangannya.

"Risa," panggil Zaid.

Risa menoleh. Begitu melihat Zaid, dia mundur selangkah.

"Ris," sapa Zaid lagi.

"Maaf," seru Risa, mundur beberapa langkah. "Aku gak bermaksud menampar Mas Zaid. Tapi karena aku sempat marah sama Mas Zaid, waktu Mas Zaid mengabaikan aku dulu. Lalu sekarang tiba-tiba minta aku menikah dengan Mas Zaid begitu mudahnya. Jadi aku..."

"Gak apa-apa Ris. Aku yang salah," Zaid berjalan mendekat. Bersyukur karena Risa tidak mundur lagi. "Maafkan aku buat kamu kaget."

Risa diam saja. Ia menatap Zaid dengan penuh tanda tanya.

"Aku meminta kamu menikah dengan aku. Aku gak main-main, Ris," Zaid memilih untuk berkata langsung ke topik masalahnya. Ia membuat keputusan sebagai jalan keluar dari masalahnya.

"Kenapa?"

"Apa?"

"Kenapa tiba-tiba? Mas Zaid gak pernah benar-benar suka aku kan?"

Zaid terkejut dengan kepolosan Risa. Ia memang selalu menganggap Risa sebagai fans-nya. Fans yang harus ia jaga baik-baik agar ia tidak kehilangan pemujanya.

"Ada...sesuatu, Ris," kata Zaid pelan.

"Apa?"

Zaid menatap Risa lekat-lekat. Apakah ia harus jujur pada Risa sekarang?

"Akan aku jelaskan nanti. Tapi aku butuh kamu bersedia...."

Risa menggeleng. Mulai berjalan menjauhi Zaid. "Aku bukan orang bodoh. Aku juga bukan budakmu, Mas, yang bisa kamu perintahkan apapun. Aku gak mau melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas,"

"Akan kujelaskan. Tapi tidak disini," kata Zaid dengan nada suara lebih mendesak dan tegas namun tetap pelan.

"Lalu?" Risa mengernyit.

"Besok. Kita bertemu dan akan kujelaskan segala sesuatunya," Zaid menggenggam tangan Risa. Membuat Risa menatap Zaid dan tangannya bergantian dengan tatapan bingung.

"Aku berharap Mas Zaid gak akan bohong lagi. Tapi kalau kali ini Mas Zaid memenuhi janjinya, aku bisa menyimpulkan bahwa kamu tipe orang yang akan melakukan sesuatu kalau hal itu menguntungkan buatmu,"

The Liars - Trilogi Zaid Risa 1 - END (WATTPAD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang