Interogation session
"Aku bilang apa sama Papamu?" Zaid kembali menoleh kepada Risa yang duduk di sampingnya dalam perjalanan menuju rumah Risa di Bogor."Bilang bahwa Mas mau menikahi putri satu-satunya," Risa mengulang jawaban dengan sabar.
"Oke. Iya oke," Zaid kembali mengangguk.
"Mas udah nanya itu sepuluh kali. Dari perjalanan kita masih di Kalibata sampai sekarang sudah masuk Bogor." Risa menggeleng.
"Grogi, Ris. Belum pernah,"
Kali ini Risa menanggapi dengan memutar bola matanya. "Coba aja Mas tiru cara pacarnya Kiki waktu lamaran,"
"Waktu itu yang ngomong orang tuanya Yudhis. Yudhisnya diam aja," Zaid memandang Risa lagi, tersenyum samar.
"Oh gitu ya," Risa baru tahu. "Ya udah pokoknya anggap aja Mas ngomong sama aku,"
"Waktu aku ngomong sama kamu kan pake maksa, Ris. Pake cerita juga bahwa aku gak suka perempuan. Sama Papamu aku harus ngomong gitu juga?" Zaid kembali menoleh kepada Risa. Ia tampak frustasi.
"Eh jangan. Nanti Papa malah gak ngijinin,"
"Nah itu," Saat lampu merah, Zaid menghentikan mobilnya dan menatap Risa. "Jadi?"
"Ngomong aja apapun yang Mas Zaid pikirkan. Bicarakan dari hati Mas. Biasanya apapun yang dari hati pasti akan sampai ke hati," kata Risa sambil tersenyum.
"Ngomong gampang ya," Zaid menggaruk rambutnya.
Risa tertawa, tangannya terulur merapikan rambut Zaid yang berantakan.
"Semua hal juga kalau teori mah gampang Mas. Cuma prakteknya aja yang susah." Zaid memandang Risa yang tertawa dan penuh perhatian merapikan rambutnya.
"Kalau Mas Zaid berubah pikiran, kita bisa putar balik dan gak jadi nikah lho,"
"Jangan! Itu lebih parah. Oke. Aku pasti bisa,"
"Mas Zaid pasti bisa," Risa tersenyum lagi dan mengepalkan tangannya.
Kali ini Zaid benar-benar tersenyum.
Zaid hampir saja mundur. Kembali masuk ke mobil begitu melihat siapa yang menyambutnya begitu mereka berdua sampai di rumah Risa."Itu Papa kamu Ris?" bisik Zaid. Matanya melirik bagian depan rumah. Dimana ada dua orang laki-laki tampak mengobrol sambil memandang sangkar burung.
Risa tertawa geli. "Yang pakai peci dan sarung, iya. Yang tinggi gede sebelahnya, itu Aa. Kakak aku,"
"Dua-duanya tinggi gede, Ris," bisik Zaid lagi. Apalagi ayah Risa memelihara kumis tebal dan ekspresinya terlihat galak di mata Zaid.
"Mas ah," Risa tertawa. "Kayak Mas Zaid gak tinggi aja,"
"Gak segede mereka. Kalau aku salah dikit kayaknya aku masuk IGD,"
"Mereka gak sejahat itu. Yuk masuk," Risa merangkul lengan Zaid dan keduanya memasuki rumah setelah Risa membuka pagar. "Pa, Aa,"
"Neng," sapa Papanya. Diikuti kakak Risa yang juga menoleh.
"Siapa?" tanya kakaknya. Pertanyaan ini membuat Zaid menelan ludah.
"Papa, Aa Gani, ini Zaid. Pacar Risa," Risa mengenalkan Zaid yang sepertinya kehilangan ketegaran.
"Halo, Pak, A," sapa Zaid ragu-ragu. Mengulurkan tangan untuk mencium tangan ayahnya Risa dan menjabat tangan Gani. "Saya Zaid."
"Kayak sering lihat wajahnya ya," sahut Gani.
"Dia pembawa berita di PTV, A. Kalau Aa suka nonton ya pasti tahu," jawab Risa.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Liars - Trilogi Zaid Risa 1 - END (WATTPAD)
ChickLitZaid adalah seorang public figure yang cukup dikenal di ibukota. Sedangkan Risa hanyalah karyawan swasta biasa yang lama kelamaan jatuh cinta kepada sosok Zaid. Zaid yang mulanya terasa begitu jauh namun lama kelamaan dekat dengan dirinya layaknya s...