Bagian 2
Know your enemy
"Selamat sore," Risa menyapa kepada penerima tamu restoran bintang lima tersebut.Si penerima tamu menerima sapaan Risa dengan senyum lebar dan tulus terpampang di wajahnya. "Selamat sore. Untuk berapa orang?"
"Er, saya kesini bukan untuk makan. Tapi saya mau bertemu dengan pemilik restorannya. Boy Villandra. Apakah beliau ada?" Risa masih tersenyum.
Kedatangannya kesini terbilang mendadak dan tidak diketahui siapapun. Zaid sekalipun.
"Pak Boy ada. Apakah sudah bikin janji sebelumnya?"
"Maaf. Tapi belum. Bisakah saya bertemu dengan beliau. Risa, calon istri Zaid ingin bertemu." Risa mengeluarkan jurus pamungkasnya. Berharap dengan menyebutkan nama Zaid, Boy mau menemuinya meskipun belum ada janji.
"Oh Pak Zaid. Baik. Tunggu sebentar saya coba hubungi bagian dalam dulu ya. Silakan menunggu di sebelah sini, Mbak,"
Risa mengangguk lalu duduk di ruang tunggu. Sementara si resepsionis terlihat menelepon dan berbincang sebentar. Risa memperhatikan interior restoran ini yang tampak begitu elegan namun sederhana.
"Mbak Risa," panggil resepsionis itu. Membuat Risa langsung bangkit. "Pak Boy baru akan selesai sekitar setengah jam lagi dan dia punya waktu satu jam sebelum mulai mempersiapkan hidangan untuk makan malam. Apakah cukup?"
"Oh gak masalah. Berarti Pak Boy bisa saya temui?"
Resepsionis itu tersenyum dan mengangguk. "Beliau mempersilakan Mbak untuk menunggu di kantornya. Nanti beliau akan menyusul setengah jam lagi. Rekan saya akan mengantar Mbak,"
Tidak lama kemudian dari dalam muncullah seorang pramusaji. Dia mengangguk dan tersenyum kepada Risa. Memberi isyarat agar mengikutinya.
"Silakan, Mbak,""Baik, terima kasih banyak," Risa mengangguk kepada si resepsionis dan mengikuti pramusaji.
Mereka terus berjalan menaiki tangga ke lantai dua. Di lantai ini suasana lebih tenang, tidak seramai di bawah dimana panggung utama dan tempat duduk VIP tersedia. Risa melihat bahwa lantai dua ini lebih seperti kantor. Dengan satu ruangan khusus yang Risa yakini pasti milik Boy.
"Silakan menunggu di dalam," Pramusaji tadi membukakan pintu.
"Terima kasih," ujar Risa.
Ia memperhatikan sekilas isi ruangan tersebut. Ada meja besar dan kursi berpunggung tinggi di bagian tengah. Di belakang terdapat lemari berisi buku-buku. Di bagian depan meja, terdapat sofa hitam panjang. Di sisi-sisi dinding yang lain terdapat pakaian-pakaian Boy dan foto-foto dia bersama orang-orang ternama.
Risa tidak mau terlihat begitu kepingin tahu. Maka untuk mengisi waktu menunggu Boy, Risa memilih memainkan game di smartphone. Game mengenai masak memasak. Hanya untuk menyesuaikan situasi.
"Suatu kehormatan bisa dikunjungi calon istri dari Zaid Sudharma," ujar sebuah suara.
Risa terlonjak dari kursinya. Cepat-cepat ia berdiri dan menyimpan ponsel ke dalam saku. "Selamat sore. Maaf saya mengganggu,"
Boy Villandra tersenyum. Dia lebih berwibawa daripada yang sering Risa lihat di TV. Perawakannya tegap dan senyumnya ramah. Dia berjalan mendekati Risa dan mengulurkan tangannya. "Boy,"
"Risa,"
"Silakan duduk," Boy mempersilakan. Sementara dia sendiri menarik kursi lain dan duduk tepat di hadapan Risa. Bukan di kursi berpunggung tinggi seperti dugaan Risa sebelumnya. "Jadi?"
"Aku tidak tahu apa Zaid sudah bercerita atau belum," Risa berkata to the point.
"Mengenai?"
"Mengenai aku dan dia akan menikah," Risa berkata cepat.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Liars - Trilogi Zaid Risa 1 - END (WATTPAD)
Chick-LitZaid adalah seorang public figure yang cukup dikenal di ibukota. Sedangkan Risa hanyalah karyawan swasta biasa yang lama kelamaan jatuh cinta kepada sosok Zaid. Zaid yang mulanya terasa begitu jauh namun lama kelamaan dekat dengan dirinya layaknya s...