Sorore Nuptias

21.6K 2.1K 13
                                    

Sister's wedding

"Adikmu kan menikah hari Sabtu. Kamu sudah harus di Jogja sejak hari Kamis ya," ujar Ibu di telepon saat Zaid sedang bersiap ke kantor BrandPlus. 

"Iya, Bu," balas Zaid sekenanya.

"Nanti kamu dan Risa menginap di hotel saja. Di rumah pasti ramai oleh saudara-saudara kita," Ibu melanjutkan. Kata-katanya membuat jantung Zaid mencelos. Ibu masih belum tahu dia dan Risa sudah bercerai sejak empat bulan yang lalu. 

"Oke," Zaid menjawab pelan.

"Jangan lupa seragamnya dibawa pulang. Ibu sudah bilang sama Risa juga. Dia katanya suka warnanya," 

"Begitu?" Zaid terkejut. Kain seragam yang seharusnya dijahit sudah sampai sebulan yang lalu. Kain itu tidak pernah Risa terima dan sekarang teronggok begitu saja di kamar yang dulu dipakai Risa. Entah bagaimana Ibu bisa menganggap bahwa Risa menyukai warna kain itu. Risa tidak pernah melihat benda tersebut.

"Kabari Ibu kalau kamu sudah sampai di Jogja. Hati-hati di jalan ya," 

"Iya, Bu," Zaid lega ketika telepon akhirnya ditutup. Sehingga ia tidak perlu berbohong lagi. Risa tidak akan pernah datang ke pernikahan Kiki.


***

Zaid berjalan pelan memasuki rumahnya. Memegang erat ransel dengan pandangan menyapu rumahnya yang sekarang terbilang ramai. Ia datang sendirian, tentu. Berbagai skenario sudah ia rencanakan untuk dikatakan jika ada orang yang bertanya kenapa ia datang sendirian. 

"Zaid?"

Zaid mendongak. Bagus sekali. Orang pertama yang menyambutnya adalah ibunya sendiri.

"Bu," Zaid mengulurkan tangan dan mencium tangan ibunya.

"Risa mana?" Ibu melongok ke kanan dank e kiri. 

"Risa...tidak bisa hadir, Bu. Ada urusan di kantor yang tidak bisa ia tinggal," Zaid berusaha tersenyum.

"Kok gitu? Memangnya di kantor gak ada orang lain? Ini kan pernikahan adik iparnya. Harusnya dia bisa datang dong," Ibu merengut. Sebelum sempat Zaid mencegah, Ibu sudah menelepon Risa. 

Dalam hati Zaid berharap Risa tidak akan menunjukkan tanda-tanda bahwa Zaid baru saja berbohong.

"Risa," panggil Ibu. 

Zaid langsung merasa cemas.

"Kamu kok gak bisa datang ke nikahan Kiki, Nak?" tanya Ibu dengan lembut. 

"Iya Bu. Maaf sekali. Beberapa hari ini ada bos dari luar negeri yang datang. Jadi Risa gak bisa tinggal," Terdengar suara Risa menjawab.

"Hari H-nya bisa nyusul ke Jogja kan?" 

Ibu dan Zaid sama-sama menunggu jawaban apa yang akan terlontar dari mulut Risa. Risa tidak langsung menjawab dan itu membuat Zaid semakin khawatir.

"Risa mau, Bu. Kebayanya juga sudah dijahit. Tapi sekali lagi Risa mohon maaf karena Risa gak bisa hadir. Ada kunjungan ke salah satu cabang dan gak bisa diwakilkan karena tim Risa yang lain juga sedang cuti atau bertugas juga. Maaf ya Bu," jawaban Risa menimbulkan kelegaan di hati Zaid. 

"Sayang sekali ya. Ibu berharap kamu bisa datang supaya kita semua bisa kumpul sekeluarga. Tapi kalau sudah begini, mau bagaimana lagi. Lain kali kamu ajukan cuti lebih dulu daripada yang lain ya Ris. Biar bagaimanapun keluarga seharusnya tetap nomor satu," Ibu menjelaskan panjang lebar. Menggeleng. Terlihat kecewa namun terpaksa memaklumi.

"Iya Bu. Sekali lagi maafkan Risa ya," 

"Ya. Jaga kesehatan di sana ya Nak," Ibu berpesan terakhir kalinya sebelum menutup telepon dan kembali berpaling ke putra sulungnya. "Sana masuk kamu istirahat. Di kamar kamu saja. Nanti ibu bilang yang tempatin kamar kamu supaya pindah,"

The Liars - Trilogi Zaid Risa 1 - END (WATTPAD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang