Die Nuptiarum

21K 2.1K 29
                                    

Wedding Day

"Mas Zaid, bangun! Bisa-bisanya hari besar gini pake tidur nyenyak," Kiki menggoyangkan lengan kakaknya yang tidur di sofa. Di hari pernikahannya, Bapak, Ibu, Kiki, dan Fira semua datang ke Jakarta dan menginap di apartemen Zaid. Karena hanya ada dua kamar tidur, Bapak dan Ibu tidur di kamar utama, Kiki dan Fira di kamar tamu, sehingga terpaksa Zaid tidur di sofa.

"Hah? Jam berapa ini?" Zaid membuka matanya perlahan lalu menutupnya kembali. Berbalik ke sebelah kanan menghadap sofa.

"Jam empat! Buruan bangun dan mandi. Nanti ke Bogor kena macet," Kiki mendorong lagi badan kakaknya agar segera bangun.

"Iya iya," Zaid meregangkan tubuhnya dan duduk di pinggir sofa. Mengusap wajah beberapa kali supaya benar-benar sadar.

"Emangnya Mas Zaid gak ngerasa deg-degan ya mau nikah?" Kiki bertanya sambil berkacak pinggang menatap kakaknya yang super cuek ini.

"Nikah?" Zaid menggumam. "Hah ya ampun!"

Kiki terpana saat Zaid tiba-tiba bangkit dari sofa dan berlari menuju kamar mandi. Rambut Kiki bahkan terasa beterbangan karena Zaid bergerak terlalu cepat. Melihat tingkah kakaknya ini Kiki hanya geleng-geleng.

Zaid keluar dari kamar mandi hanya dalam waktu lima menit. Dia sudah tampil begitu segar meski wajahnya sekarang terlihat gugup.

"Ini jasnya," Ibu menyodorkan pakaian yang akan digunakan oleh Zaid pada acara akad hari ini.

"Bu," Zaid bergumam seiring menerima pakaian tersebut.

"Apa?" Ibu tersenyum melihat putra sulungnya yang terlihat berbeda dari biasanya. Bahkan lebih gugup dari saat dia akan maju ujian kuliah dulu.

"Doakan Zaid,"

"Ibu pasti doakan," Ibu menyentuh wajah putranya dan mencium keningnya.

"Banyak berdoa. Kamu pasti bisa,"
Zaid memejamkan matanya dan mengangguk. Meskipun dia tahu bahwa hari ini dia akan menikah dengan Risa tanpa cinta di dalamnya, Zaid tetap merasa bahwa ia akan memikul tanggung jawab besar dan ini bukan sesuatu yang main-main. Ia berdoa, semoga ia dapat memberikan apa yang Risa inginkan. Kebahagiaan.

***

"Geulis, Ris, geulis," kata Hana berkali-kali. Memperhatikan Risa yang mengenakan make up tipis dan gaun sederhana. Hasil meniru desain gaun Vera Wang.

"Hehehe. Nuhun," Risa tersenyum kepada kakak iparnya. Sekarang Risa masih berada di dalam mobil yang diparkir di depan gedung KUA. Ayah, ibu, dan kakaknya menunggu di luar. Di dalam, Risa bersama Hana dan Rasyid, keponakannya.

"Deg-degan gak?"

"Iya atuh Teh,"

"Banyak berdoa aja. Semoga Zaid lancar kesininya. Semoga lancar prosesi di dalamnya. Semoga pernikahan kalian diberkahi," ujar Hana dengan lembut.

"Aamiin," Risa mengangguk dan tersenyum. Untuk menghilangkan kegugupannya, Risa berusaha mengajak Rasyid bermain. Keponakannya yang berpipi gembil ini tertawa-tawa.

Tok tok.

Risa dan Hana menoleh, membukakan jendela untuk Gani yang melongok ke dalam.

"Keluar Ris. Itu Zaid sudah datang,"
Risa langsung menelan ludah. Ia benar-benar akan menikah. Menikah demi Zaid agar tidak menjadi penghalang bagi adiknya. Menikah dengan seseorang demi menutupi kesukaannya terhadap sesama jenis. Risa memejamkan matanya. Meyakinkan diri apakah benar hal yang sedang ia lakukan saat ini.

Perlahan Risa membuka matanya dan turun dari mobil melalui pintu yang sudah dibuka lebih dulu oleh Hana. Dengan mantap Risa berdiri di samping mobil, memandang ke arah rombongan yang juga baru tiba. Di sana Risa bisa melihat pujaan hatinya berdiri gugup. Tetap tampan dan gagah. Namun gugup. Pemandangan ini menimbulkan rasa hangat dalam diri Risa dan perlahan ia tersenyum.

The Liars - Trilogi Zaid Risa 1 - END (WATTPAD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang