Et Abiit

23.6K 2.3K 48
                                    

And she's gone

Risa memasuki apartemennya dengan Zaid, menenteng tas ransel dan satu tas berisi oleh-oleh yang ia minta orang cabang untuk belikan. Zaid masih di belakang, menyalakan lampu dan menyimpan beberapa barang. Risa baru saja akan membuka kamarnya ketika terdengar suara Zaid..

"Risa,"

"Ya, Mas?" Risa menoleh. 

"Mulai hari ini kita tidur di kamar yang sama," kata Zaid tegas. Namun masih ada senyum di wajahnya.

"Mas Zaid yakin?" Tangan Risa terkulai di samping tubuhnya. 

"Iya. Kamu denger kan tadi malam aku bilang apa?" Zaid menghampiri Risa dan tersenyum.

"Aku dengar," ujar Risa pelan. 

"Nah kalau gitu..."

"Aku tetap simpan barang-barangku di kamar ini. Aku juga masih mau mandi dan beres-beres. Nanti aku tidur di kamar Mas Zaid. Oke?" 

Zaid tidak langsung mengiyakan. Namun menyadari bahwa alasan Risa masuk akal, Zaid setuju. "Ya sudah. Nanti langsung masuk ya,"

"Iya" 

Zaid memasuki kamarnya lebih dulu. Biasanya, dia akan menutup pintu tersebut. Namun kali ini dia membiarkan pintu itu terbuka. Seakan mempersilakan Risa untuk masuk dan menganggap kamar itu seperti kamarnya sendiri. Risa menghela nafas. Ia tidak mau niatnya untuk move on terganggu begitu saja. Zaid selalu jadi orang yang baik di mata Risa. Tidak diragukan ini pun hal yang sama.

Risa memilih untuk membongkar barang-barangnya. Menyimpan beberapa ke lemari, beberapa ke keranjang cucian, beberapa ke tempat khusus untuk dibawa ke kantor. Setelah itu Risa segera mandi dan mengenakan celana pendek serta kaos. Ragu-ragu, Risa menghampiri kamar Zaid. 

Pintu itu didorong perlahan oleh Risa. Namun langsung terbuka lebar. Menampakkan Zaid yang sedang duduk di tempat tidur sambil membaca. Ketika disadarinya Risa berdiri di ambang pintu, Zaid menaruh bukunya dan melambai, meminta Risa mendekat. Risa tersenyum dan menutup pintu di belakangnya. Berjalan sepelan mungkin menghampiri sisi tempat tidur lain yang tidak ditempati Zaid.

"Kita tidur?" tanya Zaid begitu Risa menyelusup ke balik selimut. 

"Iya, tidur," Risa menjawab, tersenyum dan menempelkan kepalanya di dada Zaid.

Untuk saat-saat terakhir, pikir Risa.

***

"Gugatan cerainya sudah masuk ke Pengadilan Agama. Nanti surat pengajuan cerainya bisa dikirim atau Mbak ambil sendiri. Untuk undangan sidang perceraian akan dikirim langsung ke pihak-pihak terkait," ujar si pengacara melalui telepon. Di satu siang beberapa hari setelah Risa kembali dari Semarang. 

"Saya ambil sendiri saja surat pengajuan cerainya, Pak," gumam Risa.

"Kapan, Mbak?" 

"Sore ini juga," Risa menjawab dengan mantap.

"Oke. Saya tunggu kalau begitu," 

Telepon dimatikan. Risa bersandar di kursinya, menyangga dagu dengan tangannya. Tidak ada kata untuk kembali.


***

"Hai," 

Sapaan Zaid menyambut Risa begitu ia membuka pintu apartemen. Refleks Risa memegang map yang disimpan di dalam tas. Map berisi surat pengajuan cerai.

"Hai," Risa membalas sapaan Zaid. "Abis beli makanan?" 

"Nope. Yes. Yes. Tadi ada yang ulang tahun di kantor. Aku pikir sekalian beli buat kita juga di rumah. Kamu sudah makan?" Zaid mengulurkan kotak pizza yang masih utuh ke hadapan Risa.

"Belum," Risa menggeleng. "Tapi sebanyak ini bisa kita abisin berdua?" 

"Kalau gak abis, kita panaskan lagi buat besok," Zaid tertawa. "Sana kamu simpen tas dulu. Setelah itu kita makan."

The Liars - Trilogi Zaid Risa 1 - END (WATTPAD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang