[5] Let's Break Up!

2K 250 64
                                        

Kau bodoh. Tapi, aku lebih bodoh karena mencintai orang bodoh sepertimu.

***

Sehun menundukkan kepalanya. Cairan bening itu terus merembes dari kedua onyxnya.

Jongin bilang namja itu takkan pernah mencintainya.

Takkan pernah.

"Hks" Satu isakan lolos dari bibir mungilnya.

Dadanya serasa sangat sesak sekarang. Ia akui ini memang salahnya. Sudah menjadi resikonya begini, karena ia lah yang membuat semuanya semakin rumit sejak awal.

Untung saja di dalam bus ini belum ada penumpang. Jadi, Sehun bisa dengan bebas menangisi Takdirnya yang menyedihkan ini.

Tapi, dugaannya ternyata salah. Karena, sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya dengan memberikan tatapan sendu.

Orang itu beranjak dari duduknya dan duduk di samping Sehun. Ia memeluk tubuh ringkih sahabatnya itu.

"Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang."

Sehun memeluk balik orang itu. "Ini terlalu menyakitkan, Baekhyun-ah."

***

"Benar kau tidak ingin cerita?" Tanya Baekhyun lembut.

"Maaf, Baekhyun-ah. Ini belum saatnya kau tahu----ah, semua orang tahu."

Sehun memandang Baekhyun sendu. "Lagi pula, dia tidak ingin orang lain tahu tentang hubungan ini." Ucapnya lirih.

Dahi Baekhyun mengerenyit mendengarnya. "Wae? Bukankah ia sangat beruntung bisa memilikumu, eoh?" Baekhyun bertanya dengan nada kesal.

Melihat sahabatnya tersakiti begini, membuatnya sakit juga.

"Suamimu benar-benar bodoh!" Umpat Baekhyun.

Hal itu membuat Sehun tersenyum miris. "Ya, dia memang bodoh."

"Tapi aku lebih bodoh, karena mencintai orang bodoh sepertinya."

Baekhyun mengelus punggung Sehun.

"Jika dia memang jodohmu, ku yakin dia akan sadar, Sehun."

Dan Sehun menjawab. "Semoga saja."

Sehun lalu menatap Baekhyun. "Kau tidak pulang dengan Chanyeol?" Tanyanya heran. Biasanya Baekhyun selalu pulang dengan kekasihnya itu.

Baekhyun menggeleng. "Aku sedang ingin naik bus. Dan ternyata ada kau, Sehun. Kita benar-benar ditakdirkan sebagai sepasang sahabat, eoh?" Ujarnya sembari tersenyum.

Mau tak mau Sehun ikut tersenyum juga.

"Hm"

***

Sehun merogoh handphone dari tasnya. Dan melihat walpaper hp nya.

Foto Jongin yang sedang tertidur.

Sehun terkekeh ketika mengingat perjuangannya yang mengendap-ngendap ketika mengambil foto itu semalam.

Benar-benar bodoh!

***

Sudah 3 bulan.

Dan Jongin semakin terlihat menghindar dari Sehun.

No handphone nya juga diganti. Dan jika di kantor, Jongin selalu sudah pulang ketika Sehun memasuki ruangannya.

Sehun benar-benar dibuat kalut oleh Jongin.

Namja milky skin itu sudah tidak sanggup menahannya lagi. Menahan rasa rindunya lebih lama lagi.

Maka, dengan segenap keberaniannya, ia pergi ke rumah Jongin.

***

Sehun berdiri di depan gerbang rumah Jongin.

Satpam penjaga berkata bahwa namja tan itu tidak ingin bertemu dengannya.

Sehun tersenyum miris. Jongin sangat membencinya, huh?

Dan beberapa saat kemudian---Sehun menghitung ia sudah menunggu selama satu jam lebih. Satpam penjaga menyuruhnya untuk masuk.

Sehun tersenyum simpul. Penantiannya membuahkan hasil.

***

Jongin menatap datar Sehun. "Ada apa?" Tanyanya.

Sehun tersenyum. "Akhirnya aku bertemu denganmu." Ujarnya senang.

Jongin memalingkan wajahnya. "Ada apa?" Tanyanya lagi.

"Kenapa berganti nomor telepon? Kita jarang bertemu Jongin, setidaknya kita berkomunikasi meski hanya lewat handphone." Ujar Sehun.

Jongin berdecih. "Untuk apa kita komunikasi, eoh?"

Sehun kembali tersenyum. Mengabaikan rasa ngilu di hatinya.

"Bukankah sepasang suami isteri harus saling berkomunikasi untuk menjaga keharmonisan?"

Mendengarnya, Jongin memandang Sehun dan tertawa mengejek.

"Haha, lucu sekali." Ujarnya.

"Kau seharusnya tidak melakukan sesuatu hal gila yang bisa membuat keharmonisan keluarga orang lain hancur."

Sehun tahu itu sindiran untuknya. "Ya, aku memang seharusnya tidak melakukan hal gila itu." Gumam Sehun.

Karena pada akhirnya, kau menghindar dariku.

"Hm. Kau memang parasit." Ujar Jongin.

Deg

Parasit, ya?

Parasit memang tidak pernah diinginkan keberadaanya.

Persis seperti Sehun saat ini.

"Menjadi yang tak diinginkan bukanlah hal baru bagiku." Ucap Sehun lirih.

"Selama hampir 10 bulan ini aku selalu berfikir. Kapan kau akan membalas perasaanku? Kapan kau akan menganggapku sebagai isterimu? Kenpa kau tidak bisa mencintaiku? Dan---dan kapan dunia akan mengetahui tentang hubungan kita?"

Sehun membalikan tubuhnya. Memunggungi Jongin.

Seketika, matanya memanas. Ia harus mengatakan ini.

"Benar. Aku adalah parasit. Dan seperti pepatah, bukankah parasit harus dibuang sebelum merusak sesuatu yang dihinggapinya?" Sehun menangis tanpa isakan.

Jongin memandang----sendu, ke punggung ringkih Sehun.

"Maka dari itu---" Sehun memejamkan matanya.

"Hiduplah dengan baik. Hiduplah berbahagia bersama Kyungsoo, karena---parasit ini kini sudah menyerah. Ia memutuskan untuk pergi."

Jongin terdiam. Ia tak tahu kenapa dadanya bisa sesesak ini.

"Mari kita berpisah, Jongin-ah."

***

-To be continued-

???

Apakah mereka memang harusnya berpisah? Atau jangan? Hehe

Chapter ini lebih pendek... sorry 😘😘😘 Chapter depan dipanjangin deh 😸😸😸

Voment guys 😘😘😘😍😍

IGNORAMUS - KAIHUNCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang