Bab 14 : Jangan berdiam diri.

138 16 5
                                    

Pagi ini, Dini kembali tak berangkat ke kantor. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan kantor yang selama 2 tahun ini sudah memberinya uang untuk hidup. Memang, sulit untuk kembali mendapatkan pekerjaan. Tapi, sudah ia putuskan untuk berhenti dengan berbagai pertimbangan. Dini menghela nafas panjang. Memikirkan hal itu membuatnya stress.

Teng... Teng... Teng...

Suara bel masuk membuyarkan lamunan Dini. Ia arahkan pandangannya ke Nazriel yang saat ini berlari masuk ke dalam kelasnya. Anak-anak lain juga berhamburan masuk kedalam kelas. Dini menoleh sesaat setelah mendengar suara langkah kaki yang begitu dekat.

"Orys," gumam Dini pelan. "Kamu nggak ke kantor?" tanyanya.

"Aku harus ke kampus dulu hari ini. Baru aku ke kantor. Tapi, sebelum ke kampus, aku putuskan untuk menemuimu dulu." ucap Orys dengan raut wajah yang serius.

Dini bangkit dari duduknya. Mensejajarkan posisinya dengan Mahasiswi cantik itu. Raut wajahnya menunjukan berbagai macam pertanyaan.

"Aku menyukainya! Feno!" ucap Orys dengan tegas. "Maafkan aku, tapi aku nggak mau kamu memilikinya." sambungnya dengan tatapan mata yang lurus menatap wanita yang lebih tua darinya itu.

Plak....

Sebuah tamparan yang tak begitu keras, tapi juga tak bisa dibilang pelan, mendarat dipipi Orys dan membuatnya sedikit memerah. Sedangkan Orys yang mendapat perlakuan seperti itu hanya diam, tak sedikit pun berniat untuk membalas tamparan menyakitkan itu.

"Pertama, kamu melarangnya untuk menerimaku. Lalu, kemarin kamu bilang aku nggak memikirkan perasaan Nazriel. Sekarang, kamu nggak mau aku memiliki Feno?"

"Maaf, aku hanya ingin memperjuangkan perasaanku. Nggak peduli bagaimana akhirnya nanti."

"Dan kamu mengorbankanku, dan Nazriel juga?"

"Aku sempat berpikir untuk mundur. Tapi, aku nggak mau perasaan ini terbuang sia-sia. Maafkan aku." ucap Orys lalu menundukkan kepalanya.

Dini membalikkan badannya, membelakangi Orys. Matanya mulai terasa memanas. Ingin mengeluarkan butiran-butiran air bening dari matanya.

"Kalau tau akhirnya akan begini. Aku akan berharap kamu nggak pernah muncul dikehidupan Feno." lirih Dini. "Sekarang aku minta kamu pergi! Aku nggak mau melihatmu lagi!" Dini berucap dengan tegas.

Orys menganggukan kepalanya. "Maafkan aku," ucapnya. Sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat itu.

***

Sebelum berangkat ke kantor, Daren menyempatkan diri untuk mampir ke toko bunga milik Retha. Sejak SMA, ia memang sudah biasa membeli bunga ditempat itu. Jadi, saat Retha ikut liburan ke Bali kemarin, bisa berbicara banyak hal karna memang sudah saling kenal. Daren juga hadir di acara pernikahan Retha dengan Darel waktu itu. Ya, suami Retha memang memiliki nama hampir sama dengannya. Tapi, maaf-maaf saja, baginya, tak ada yang bisa mengalahkan ketampanannya.

Daren melepas helm hitam yang menutupi kepalanya. Sedikit ia goyangkan kepalanya, membuat rambut depannya bergoyang. Berkaca sejenak di kaca spion motornya, ia rapikan juga rambutnya, lalu beranjak dari motornya dan melangkah masuk ke dalam toko bunga yang semakin besar itu. Nama tokonya pun berubah menjadi Aran Florist sejak anak pertama Retha dan Darel lahir.

"Daren," sapa Retha dengan senyuman manis. Tak lama setelah sapaan itu terdengar, suami Retha memunculkan wujudnya dan juga melemparkan senyum. Digendongannya terlihat Aran tengah menyandarkan kepala dibahu Darel.

"Loh, nggak kerja?" Daren memberikan pertanyaan yang ia tujukan untuk Darel.

"Nggak." jawab Darel. "Aran sakit dan nggak mau ditinggal." sambungnya.

Our DaysTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang