"Happy Birthday!"
Feno hampir saja terjatuh karna terkejut. Bagaimana tidak, ia sedang fokus mencari data di lantai dua yang memang jarang ditempati kecuali untuk rapat atau ada tamu-tamu penting, dan tiba-tiba dikejutkan dengan suara yang tak bisa dibilang pelan.
Feno menoleh ke belakang dan tersenyum. Hari ini, adalah hari lahirnya yang ke-24 tahun. Senyuman lebar terbentuk ketika dua sudut bibirnya tertarik ke atas. Raut bahagia sekaligus tak percaya terpancar jelas diwajah pemuda berkulit kuning langsat itu.
Orys yang diminta untuk memegang kuenya perlahan maju ke depan hingga berada tepat dihadapan Feno. Diiringi lagu 'Happy Birthday' yang dinyanyikan teman-temannya.
"Tiup lilinnya. Tiup lilinnya. Tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga."
"Make a wish dulu." ujar Zara.
Feno memejamkan matanya erat-erat. Menyampaikan keinginannya dari dalam hati, tanpa suara. Setelah dirasanya cukup, kelopak matanya kembali terbuka. Feno bersiap untuk meniup lilinnya, tapi lilinnya sudah lebih dulu mati karna ditiup Daren.
"Daren!" protes yang lain.
"Please! Aku juga pengen tiup lilin." ucap Daren dengan ekspresi ngeselinnya.
Sontak itu membuat teman-temannya gemas-gemas kesal. Bahkan Orys sampai tertawa terbahak-bahak karna tingkah rusuh Daren.
"Ayo dong potong kuenya!" ucap Daren lagi tak sabar.
Feno mengambil alih pisau yang ada didekat kue. Dipotongnya dengan hati-hati kuenya, lalu ia letakkan diatas piring kecil yang memang sudah disediakan. Lagi-lagi Daren membuat rusuh, piring kecil yang baru dipegang Feno ia sambar dan langsung ia makan kuenya tanpa meminta izin dulu. Feno hanya bisa melongo melihat apa yang dilakukan Daren.
"Dareeennnnn!!!" Indah memukul lengan Daren kuat.
"Aww.. sakit Ndah." protes Daren.
"Ya itu potongan kue pertama. Main kamu sambar aja." marah Indah.
"Asal kalian tau, ya. Aku itu selalu yang pertama buat Feno." ucap Daren dengan ekspresi yang dibuat-buat.
"Hish! Geli tau nggak." sahut Feno yang bergidik ngeri. Tapi, ia tau itu hanyalah candaan. Ia sudah paham seperti apa sifat temannya yang paling konyol itu.
"Makin banyak yang salah jalan nih." ujar Aira menanggapi perkataan Daren.
"Yang penting bebebh Gian nggak." Zara berucap manja dengan kepala yang menempel pada lengan Gian. Gian segera menjauh dan membuat Zara hampir terjatuh.
"Ayo dong serius!" pinta Indah. "Kasihan Orys tau. Kan Feno mau kasih potongan pertamanya buat Orys."
"Eh?" ucap Feno dan Orys bersamaan. Keduanya saling tatap, detik kemudian mengalihkan pandangan masing-masing.
"Udah, kelamaan. Ambil-ambil aja kalau mau makan. Sebentar lagi makanan deliverynya juga datang." ucap Daren.
"Kalian pesan makanan juga?" tanya Feno tak menyangka teman-temannya benar-benar total mempersiapkan kejutan untuknya.
"Yap!" jawab Zara. "Pakai uang kamu. Semua ini pakai uang kamu. Jadi, tunggu nota tagihannya, ya." sambungnya yang disetujui semuanya.
"HEEEE?" Seketika Feno langsung lemas.
***
"Besok adalah hari Valentine, kamu mau kasih coklat ke siapa?" tanya Daren seraya membereskan meja kerjanya.
Feno menoleh sejenak, "Entah." jawab Feno singkat.
"Orys." ucap Daren membuat Feno terdiam, menghentikan kegiatannya membereskan meja kerjanya sendiri. Sejurus kemudian, Feno mengarahkan pandangannya ke Daren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Days
Teen Fiction#19 General, 01/08/2018 'Dia.... tertawa.' batin Orys. Sungguh, Orys tak menyangka Feno bisa tertawa. Tidak-tidak, semua manusia memang bisa tertawa. Tapi, untuk ukuran orang seperti Feno, rasanya itu sangat sedikit sulit. Tapi, hari ini, ia melihat...
