Bab 03 : Fokus

135 17 0
                                    

Pagi kembali datang, menyambut para Karyawan ANTARA yang siap untuk kembali bekerja. Tempat parkir kendaraan khusus Karyawan juga terlihat sudah hampir penuh. Mungkin hanya tinggal beberapa orang lagi yang belum berangkat. Mengingat, masih ada waktu 15 menit lagi sebelum jam kerja dimulai.

Orys melangkahkan kakinya dengan sedikit terburu-buru. Mengambil ponselnya yang tadi ia tinggalkan di bangku yang ada di beranda kantor. Sungguh sangat ceroboh, beruntung belum ada orang lain yang lewat. Kalau tidak, mungkin ponselnya tidak akan pernah ia temukan. Yang paling ia takutkan adalah data yang tersimpan dalam ponselnya. Tapi, menurut para karyawan, jika hanya karyawan yang melihat itu, ponselnya pasti akan kembali. Tapi, jika orang luar, entahlah.

Orys menghela nafas lega. Mata Orys melirik sosok pria yang saat ini tengah memasuki area kantor dengan motor gede berwarna hitamnya. Jaket kulit hitam dan juga helm hitam. Ditambah celana kerjanya yang juga hitam, sepatu hitam pula dan jangan lupakan tas punggungnya yang juga di dominasi oleh warna hitam. Sungguh serba hitam, seperti orang yang akan melayat. Dari motornya, Orys bisa menebak siapa wajah yang ada dibalik helm itu.

Tak lama setelah motor itu berhenti, pria itu melepas helmnya dan sedikit membenarkan rambutnya. Dan benar saja, sesuai tebakannya, pria itu adalah si dingin Feno. Feno melepas kedua sarung tangannya secara bergantian dan menyelipkannya pada bagian kepala motor. Setelahnya mulai dilangkahkan kakinya menuju kantor.

"Om!"

Sebuah seruan atau lebih tepatnya panggilan membuat pandangan Orys beralih ke pemilik suara. Feno juga langsung menghentikan langkahnya. Senyum Feno juga terkembang begitu melihat anak kecil yang saat ini berada di goncengan wanita muda. Mungkin sekitar umur 25 atau 26 tahun. Dan sepertinya, wanita itu adalah ibu anak kecil itu.
Entah apa yang Orys pikirkan dan kenapa ia jadi melamun. Sampai-sampai ia tak menyadari kalau Feno ada di dekatnya.

"Kok, masih disini?" tanya Feno yang dengan anak kecil tadi dalam gendongannya.

"Ee.. tadi aku ambil hp ku yang tertinggal disini." jawab Orys sedikit gugup.

"Ayo, masuk!" ajak Feno lalu kembali melangkahkan kakinya. "Ayo dorong pintunya, om nggak bisa, nih." ucap Feno lagi, tapi kali ini yang ia ajak bicara adalah anak kecil berusia sekitar 5 sampai 6 tahun yang masih setia berada dalam gendongannya.

Orys menatap punggung Feno sejenak, detik berikutnya ia menyusul Feno masuk kedalam kantor. Seperti biasa, Orys duduk di dekat Aira yang memang paling dekat dengannya diantara yang lain.

"Duduk disini dulu. Om mau naruh jaket di belakang dulu, ya." ujar Feno dengan sedikit mengacak rambut anak kecil itu kemudian melangkahkan kakinya ke belakang sembari melepas jaket kulit hitam yang ia kenakan.

"Halo, Nazriel!" sapa Daren dengan senyuman lebar.

"Halo, om." jawab Nazriel-anak kecil yang tadi digendong Feno.

"Nazriel, sini, jangan disitu! Ganggu om Feno." seru wanita berusia 26 tahun, Dini, yang merupakan ibu dari Nazriel.

"Nggak mau. Aku mau disini." jawab Nazriel dengan kepala yang menggeleng.

"Nazriel, nggak boleh begitu." marah Dini.

"Nggak papa kok, mbak. Nazriel nggak ganggu, kok." sahut Feno yang baru saja muncul. Pandangan Feno tertuju pada Nazriel dengan senyum yang sedikit terkembang.

Derit suara kaki kursi yang bergesekan dengan lantai terdengar jelas diruangan yang saat ini terasa sunyi itu. Beberapa karyawan melirik ke arah sumber suara. Ada yang terus memandang kesana, ada pula yang kembali melanjutkan pekerjaannya.

Gian yang tadi beranjak dari duduknya, kini melangkahkan kakinya menghampiri Feno yang baru saja duduk dibangkunya. Dengan meletakkan Nazriel pada pangkuannya.

Our DaysTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang