Lisa menatap rumah dengan model minimalis. Sangat cantik untuk di sebut rumah Fauzan.
Tapi dia kan model,gak salah juga sih.
Fauzan mengajak Lisa untuk masuk ke dalam rumah. Lisa melihat sekeliling rumah yang cukup mewah.
"Zan,mama kamu mana?"Fauzan terdiam sebentar menimang jawaban apa yang harus ia berikan.
"Di America"jawabnya jujur.
"Jadi kamu di sini sendiri?"Lisa menatap takjub Fauzan yang memberikan ia segelas susu vanila.
"Sama Ibuk,pembantu dulu tapi sekarang udah kayak mama angkat aku"jelas Fauzan sambil mengupas buah apel hijau.
"Zan,ada yang coklat gak susunya?"Fauzan menatap wajah Lisa yang mengembungkan pipinya.
"Coba kamu liat deh di kulkas"Lisa langsung membuka kulkas dan memilah susu.
"Gak ada"Lisa memasang tampang cemberut.
Fauzan mencubit sedikit pipi Lisa dengan gemas.
"Nanti aku beli"Lisa mengangguk walaupun tidak rela karna ia tidak bisa meminum susu kesukaannya itu.
"Mau makan Lis?"Lisa mengelengkan kepalanya.Fauzan masih memotong apel dengan telaten.
"Kamu udah berapa lama tinggal sendiri?"tanya Lisa sambil mencomot apel yang di potong Fauzan.
"Dari kecil"saat detik itu juga Lisa tersedak hebat hingga Fauzan kewalahan untuk memberhentikannya.
"Udah.."Fauzan menatap cemas Lisa yang masih mengatur nafas.
"Udah kok"Lisa menatap Fauzan tepat di matanya.
"Kenapa?"Fauzan kebinggungan ketika mendapati Lisa menatapnya.
"Jadi dari dulu kamu tinggak di sini?,sendiri?"tanya Lisa penasaran. Kalau iya, tega sekali orangtuanya memisahkan diri dengan Fauzan.
Kalau di lihat Fauzan punya bakat yang hebat tidak ada yang cacat sedikitpun dengan fisiknya.
"Dulu aku tinggal di rumah papa,ini rumah aku sendiri aku beli dari hasil kerja aku"Lisa berdecak takjub. Tidak salah juga ia brrtaruh dengan anak seprti Fauzan.
"Zan,apa gara gara orang tua kamu gak perhatian makanya kamu bandel ya?"tanya Lisa hatu hati tidak mau mengenai hati kecil Fauxan.
"May be"jawab Fauzan mengangkat bahu.
Belum saatnya mungkin Lisa bisa membantu Fauxan. Karan Fauzan sendiri masih enggan membicarakan hal keluarganya ke Lisa.
Fauzan mengajak Lisa ke taman belakang rumah Fuazan.
Ada kolam renang serta kursi cantik yang menghiasi sisi kolam.
Fauzan dan Lisa duduk bersebelahan di kursi oanjang dekat lanou taman.
"Lis,kalau misalnya aku pergi ke luar negri. Kamu mmasih mau sama aku?"Lisa menatap Fauxan sebentar lalu mengalihkan pandangannya.
"Kalau misalnya gadak lilihan lagi mau gimana lagi"Lisa menatap ke arah lain tifak berani menatap mata Fauxan.
"Lagian aku tau kok,jauh dari orang tua tak seenka yang di bayangkan. Malah bisa bikin kita tak terkendali"Lisa tersenyum memnadangi wajah Fauzan yang srdikit mengang.
"Aku bukannya mau bikin kamu tersudut kalau kamu cerita masalah kamu. Kan kamu sediri yang bilang kalau aku bisa membawa kamu ke arah yang benar"Lisa berusaha membujuk Fauzan untuk bercerita.
Tapi jauh di relung hati Fauzan ia tidak mau mengnggat amsa masa itu. Ia sudah mengubur cerita lamanya di bgian paling dalam.
Sehingga susuh untuk di gapai.
Fauzan berdiri dari duduknya menepuk sedikit pucuk kepala Lisa.
"Udah malam,biar aku antar nanti oarngtua kamu kecariaan"Lisa mengembuskan nafas pasrah.
Mungkin terlalu ceoat untuk menanyakan ini. Lisa sedikit merasa bersalah saat ini juga.
"Zan,Aku sama sekali gak bermaksud untuk terlaru ikut campur dalam urusan keluarga kamu tapi-,"Lisa menatap sepatu srkolahnya yang amsih ia pakai.
Tangannya yang amsih mengenggam erat ujung kaus Fauzan sambil menunduk membuat Fauzan tersenyum.
"Apaansih?,yang bilang kamu ikut campur siapa?"Fauzan menarik dagu Lisa agar bisa melihat mata jernih nan indah milkk Fauzan.
"Sorry.."Fauzan mengelenglan kepalanya.
"kamu sama sekali gak salah jadi gak usah mintak maaf,yuk pulang.."Fauzan mengacak sedikit rambut Lisa dan mengenggam tangan Lisa.
Sekarang tidak ada lagi repetan Lisa setiap detik berjumpa dengan Fauzan.
Tidak ada yang melanggar peraturan,bahkan Fauzan sudah mulai membaca buku walaupun ia bisa mengerjakan ujian tanpa baca banyak mengafal rumus.
Sekarang hanya ada senyum merekah bahkan tatapan malu terpancar dari Lisa dan Fauzan.
***
"Gak singgah dulu?"tanya Lisa setalah kerete yang mereka naiki sampai di depan rumah Lisa."Gak usah deh,tapi kamu gak papa pulang lama gini kan?"Fauzan sedikit tidak enak ketika membawa anak orang hingga malam gini.
"Santai aja,mama lagi di luar cuma ada kakak aku"Lisa tersenyum menampak kan giginya.
Fauzan mengangkat alisnya menatap Lisa yang tumven tersenyum senang gini.
"Yaudah aku pulang ya?"Lisa mengangguk dan melambaikakn tangannya.
"Masuk dulu biar aku liatin"Lisa memutar badannya menuju gerbang rumahnya.
Dalam hati Lisa sangat kesal dengan Fauzan. Ia pikir Fauzan akan berbuat hal romantis yang membuat Lisa melambung jauh di angkasa.
Nyatanya!!!,Fauzan tidak peka sedikit pun.
"Lis.."Lisa bersorak dalam hati ketika Fauzan memanggil namanya.
Dengan bedebar Lisa membalikan badannya menatap Fauzan penuh tanya.
"Good nigh,my dear"Lisa hampir saja meloncat di depan Fauzan.
Pipinya sangat panas,padahal hanya fi bilang selamat malam. Apa ada hubungan karna kelamaan jones makanya di giniin aja baperan.
Lisa mengangguk dan masuk ke gerbang rumahnya.
Setelah ia menutup gerbanganya Lisa menjerit sekuat tenaga membuat Fauzan terloncat di keretanya.
"VAROOO!!!!GUE MAU PINGSAN!!"Fauzan tertawa mendengar teriakan Lisa.
Sedangkan Varo yang lagi mimpi jumpa dengan model Caboh alias cantik dan bohai langsung berlari ke arah pintu ketika Lisa menjerit sekuat tenaga.
"Ya allah,ni anak mabuk apa?!"Varo mengusap muka ketika melihat Lisa jalan sampai tertawa dengan loncat mencabutin tanaman pagar punya mama.
Haiiiiii,jumpa lagi sm Abel semoga suka ya,cerita nya abel revisi jadi chapternya sikit biat kalaian puas jadi abel revisi guys....
Vote and commen ya

KAMU SEDANG MEMBACA
Ketua Osis Vs Bad Boy
Fanfic{Revisi} Typo bertebaran. Harap teliti. Akibat pertaruhan yang menyatukan si KETUA OSIS dengan BAD BOY. membuat seluruh warga sekolah heboh. Dari benci berubah menjadi cinta ada hal yg lumrah. Lisa akan seberusaha membuat Fauzan berubah. Namun halan...