12. Aerokinesis dan Pyrokinetis

2.8K 340 14
                                        

Sehun terbangun di sebuah kamar di istana. Kamar itu terlihat begitu suram dan aneh. Ia melihat ke sekelilingnya. Kasur berukuran King Size bergaya victoria dengan pahatan tulang dinosaurus terdapat di sebelahnya. Di depannya, sebuah jendela yang di tutupi oleh teralis yang mengeluarkan listrik, teralis itu seperti di sihir.

Sehun berdiri dan berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti ketika melihat seorang lelaki duduk termangu dengan wajah kosong dan datar. Sehun mengernyitkan dahinya, kenapa ia merasa familiar dengan lelaki itu ?

Sehun hendak melangkah, namun ia tidak melihat sebuah tembikar bergambar naga berada di sampingnya. Tembikar itu pecah di lantai dan membuat lelaki yang duduk di kursi goyang itu menoleh ke arahnya.

Lelaki itu menatapnya datar, namun kemudian terlihat secercah cahaya di matanya.

"Sehun, adikku" gumamnya.

Sehun tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan lelaki itu. Saat ia melihat ke bawah, pecahan tembikar itu terangkat ke atas dan berpindah ke sudut ruangan.

"Sehun" gumam Luhan kali ini lebih keras.

"O! Kau tahu namaku ?" Tanya Sehun.

Tiba-tiba, Luhan mendekat namun Sehun menjauh. Bukan hal yang tidak mungkin bukan, jika Luhan memindahkan dirinya seperti benda tadi. Apa daya dirinya jika ia dilempar menabrak dinding. Bisa remuk tubuhnya nanti.

"Sudah kubilang kau belum mati. Dan ternyata kau memang belum mati" ucap Luhan kemudian tersenyum lega.

"Siapa kau ? Dan kenapa aku ada di sini ?" Tanya Sehun tak mengerti dan mengabaikan apa yang diucapkan oleh Luhan.

"Aku adalah orang yang ingin melindungimu" jawab Luhan.

Sehun mengerjapkan matanya bingung. "Aku harusnya ada di kuil athena saat ini" gumam Sehun pada diri sendiri.

"Aku harus pergi. Bisakah kau menunjukkan jalan untuk keluar dari sini ?" Tanya Sehun pada Luhan.

Mata Luhan menggelap. Dan giginya bergemeletuk. Tubuh Luhan bergetar dan ia memejamkan matanya. Beberapa kali, Sehun melihat Luhan menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menahan sesuatu.

Larilah.

Suara Luhan mengiang ditelinganya. Sehun tak mengerti. Ia terbelalak melihat Luhan yang melemparkan berbagai macam barang padanya.

Aku dikendalikan. Melawanlah.

Lagi-lagi. Mata Luhan terbuka dan Sehun melihat mata itu merah menyala. Ada rasa takut yang menyelusup di hatinya. Ia melihat sekeliling, ia butuh udara.

Luhan mendekat dan melemparkan pisau ke arah Sehun. Dengan gerakan yang cukup sulit mengingat jumlah pisau yang dilempar, Sehun pun menghindar. Namun sial, bahunya kena. Ia menahan pendarahan di bahu.

Kubilang lari!

Aisssh, jika kutahu caranya aku pasti sudah lari sejak tadi!! Seru Sehun kesal.

Sehun berlari menuju sebuah pilar yang menjulang di kamar yang cukup luas itu.

SIAL, teriak Luhan di kepala Sehun.

Pintu terbuka, seorang wanita cantik terlihat dengan senyum seringainya. Sehun meringis ngeri ketika melihat ular-ular bergerumul di kepala perempuan itu.

Ekor perempuan itu memanjang, membelit Sehun yang tidak sempat menghindar dan menarik Sehun ke hadapannya.

"Hmm, kau tampan. Tapi kau tetap saja musuh. Aku tidak bisa membiarkanmu hidup" ucap Medusa.

Dark Master yang berdiri di belakangnya hanya diam. Ia melihat ke arah Luhan yang masih dalam kendali Gorgon. Sehun yang hanya diam melihat Medusa dengan berani. Lidah Medusa terlihat begitu panjang dan lancip.

EXO from EXO Planet (COMPELETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang