Takdir

985 145 22
                                        

Kenangan itu benda yang kasat mata, tidak bisa digapai, hanya berada di awang-awang. Tapi, ajaibnya sebuah kenangan bisa lebih tajam dari sebuah pisau, lebih pahit dari sebutir obat. Bahkan lebih berat daripada kita memikul beban berton-ton banyaknya.

Sekuat apapun Chae Young meyakinkan diri. Sekuat apapun dia menjauhkan masa lalu. Sekuat itu pula bayangan itu menghantui. Kebencian dan kerinduan bersatu saat Chae Young mengingatnya. Benci karena di masa lalu dia merasa hanya berjuang sendiri. Sedangkan rindu. Chae Young selalu merindukan sosok itu. Sebenci apapun dia pada sosok itu. Hatinya selalu merindu. Sampai saat ini, hati itu masih milik pria yang tidak mau memperjuangkan dirinya. Cinta itu memang rumit. Serumit mengurai benang yang kusut. Dan cinta itu memang munafik. Benci tapi rindu. 

Sejak kepergian Jinyoung dari apartementnya, Chae Young hanya berdiam, tidak minat melakukan apapun. Pikirannya masih memikirkan sosok yang sama, yang tadi siang mengacaukan harinya. Otaknya sungguh tidak bisa diajak kompromi. Sekarang, dia hanya bisa melamun di depan televisi. Acara yang ditonton tidak semenarik lamunannya. Terbukti, biasanya dia sangat enggan dengan sebuah acara olahraga seperti ini. Tapi, sekarang mana dia peduli. Pikiran Chae Young sedang berkelana jauh dari tempat ia berada.

"Mom," Jean berdiri diambang pintu kamar dengan mata yang masih sedikit terpejam, rambut yang acak-acakan khas bangun tidur. Dan suaranya sedikit parau. Chae Young dengan cepat menghampiri Jean, lalu menggendongnya.

"Kenapa bangun? Kau lapar?" Jean menggeleng, Chae Young sedikit merapihkan rambut Jean.
"Mau susu?" sekarang Jean sudah Chae Young dudukan pada kursi yang berada di depan televisi. Jean hanya mengangguk. Chae Young melangkah menuju dapur. Membuatkan susu untuk si bungsu

"Mom, tumben melihat acara olahraga?" tanya Jean pada Chae Young, saat Chae young duduk disampingnya dengan segelas susu coklat.

Chae Young memberikan gelas itu, "Hanya sedang ingin. Apa tidak boleh?" Jean menerimanya, kemudian menenggak susu coklatnya sampai tandas.

Jean membersihkan sisa susu pada bibirnya dengan menggunakan punggug tangan. "Heran saja." jawabnya, lalu kembali matanya terfokus pada layar televisi. Dimana disana sedang membahas salah satu olahraga bela diri yang sangat terkenal di Korea. Apalagi kalau bukan Taekwondo.

Chae Young hanya bisa tersenyum sambil mengusak rambut Jean. Rasanya menggemaskan.

"Appa mana?"

"Pulang. Tadikan kalian tertidur. Jadi Appa langsung pulang."

"Skateboardku mana?" Jean mengedarkan pandangan. Mencari skateboard yang dimaksud. 

"Skateboard?" Chae Young tidak mengerti. Dia malah balik bertanya dengan kebingungan yang kentara.

Jean mengangguk. "Tadi aku dibelikan Skateboard Mom."

"Appa membelikan kalian?"

Jean menggeleng dengan cepat. Dan Chae Young semakin bingung.

"Lalu?"

"Uncle Mark Mom yang membelikan. Bukan kita, tepatnya hanya aku yang beli. Hyung tidak akan suka dengan apa yang aku suka." Jean hanya berceloteh. Memang kenyataannya seperti itu. Sudah dijelaskan, hobi mereka berbeda. Sedangkan Chae Young hanya tercekat ditempatnya. Jantungnya merasa berhenti berdetak mendadak, saat nama 'Mark' Jean sebut.

Apa kau sudah mengetahuinya Mark?
Ah tidak! Nama Mark bukan hanya kau yang memilikinya. Ya, itu bukan kau. Hanya kebetulan.

Chae Young hanya meyakinkan dirinya. Meyakinkan kalau Mark yang Jean maksud bukan Mark yang dia maksud. Semoga.

Could Be DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang