Lanjut ke cerita habis jogging nih...
Aku sama Jeffrey duduk di pinggir lapangan. Kita nungguin abang penjual cilok yang lagi bikinin pesenan kita.
"Pak, lima ribuan dua. Satu campur gak pedes. Satunya pentol aja pedes. Oh iya, pakai saus kacang aja Pak," kata Jeffrey lalu duduk di sampingku.
Loh kok dia tau kesukaanku?
"Sudah kubilang kan? Aku stalkernya Mbak Ale," kata dia sambil ngewink.
Mateq....
Jeffrey bayarin ciloknya terus kita makan bareng-bareng.
"Mbak... Eh kamu lahir tahun berapa?" tanyanya agak canggung.
"96, setahun lebih tua dari kamu."
"April kan? Kayaknya ultahnya sama kayak Mas Alex."
"Begitulah."
Aku nusuk pentol cilokku lalu makan dengan lahapnya. Saking aku begitu konsentrasi sama cilokku, aku gak sadar kalau sedari tadi Jeffrey itu masih ngeliatin aku yang lagi makan cilok udah kaya orang gak pernah makan cilok setahun.
"Emang kalo makan cilok harus segitunya ya?"
"Emang kenapa?"
"Itu, belepotan."
"Mana?" Aku ngusap area sekitar bibirku tapi gak nemu saos atau apapun yang dibilang sama Jeffrey.
"Itu, di yang sebelah kiri," katanya sambil nunjuk bagian kiri pipinya sendiri.
"Mana sih? Gak ada iku loh."
"Ihh gemes aku!"
Dia ngusap saus yang masih nempel di ujung bibirku pake ibu jarinya. Akan terlihat normal jika setelah melakukan itu Jeffrey mengusapkannya ke tisu atau langsung mencuci tangannya dengan sisa air minum yang kami bawa. Tapi dia malah menjilat sisa saus yang menempel di bibirku.
Dan lagi, kelakuanmu iku nggarai aku diabetes, Jeff..
"Boleh nanya gak?" Katanya kemudian.
"Eh iya. Mau nanya apa?"
"Kamu gak ada baju lain?"
"Hah?"
"Ya, baju lain buat jogging."
"Lah emang kenapa? Kan ini juga baju buat olah raga."
"Risih liat cowok-cowok itu merhatiin kamu. Tuh liat aja."
Emang sekarang keadaannya aku kan pakai celana super pendek sama baju lengan panjang. You know lah bagian mana yang diperhatiin cowok-cowok.
"Nih, pake," Jeffrey ngelepas jaketnya lalu dikasihin ke aku. "Sok seksi banget sih pake celana pendek gitu. Jangan dilepas sampe pulang ntar."
"Bawel," aku terima jaketnya terus aku iket bagian lengannya ke pinggangku.
Jaketnya Jeffrey lumayan gedhe jadi bisa nutupin area pahaku yang terekspose.
"Udah selesai? Pulang kuy."
"Yaudah. Kuy."
●●●
Sampe rumah, aku masih gabisa lupain kejadian yang aku alamin pagi ini. Keluar sama Jeffrey itu anugerah banget ya. Kapan lagi aku bisa jalan sama orang yang kalian suka? Bahkan dia duluan yang ngajak keluar.
Seakan-akan semuanya itu mimpi. Tapi ini beneran.
Kalau mimpi, pasti ciloknya tadi juga bohongan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Taruhan
Fanfiction"Yang kalah harus ajakin ngedate kakel cupu kelas IPA 4" "Boleh, siapa takut." ーjihyeonnn, 2017
![[✔] Taruhan](https://img.wattpad.com/cover/109486273-64-k407312.jpg)