20. Marmut Merah Jambu

2.5K 334 5
                                        

Masih di hari yang sama...

Aku sama Jeffrey udah berada di dalam gedung bioskop. Gak rame-rame banget sih. Tapi gak bisa dibilang sepi juga. Hampir separuh gedung bisokop telah diisi oleh penonton. Aku sama Jeffrey udah duduk di bangku nomor 2 dari atas. Kami memilih menonton film Marmut Merah Jambu yang diangkat dari sebuah buku Karya Raditya Dika. Sebenernya kami punya beberapa pilihan lain seperti film Spiderman dan satu film lagi untuk umur 18+ yang sudah jelas tidak bisa kami tonton. Aku sih gak masalah mau nonton MMJ atau Spiderman, tapi ternyata Jeffrey lebih suka MMJ sehingga kami memutuskan untuk menonton film tersebut.

Aku menyesap cola yang ada di sebelahku. Dikarenakan filmnya belum dimulai, jadi aku memanfaatkan waktuku untuk ngobrol sama Jeffrey.

"Mau popcorn?" Tawar Jeffrey sambil menyodorkan sekotak berondong jagung rasa caramel.

"Satu deh."

Baru saja aku mau mengambil popcorn, tiba-tiba ia menjauhkan kotak popcorn-nya dari jangkauanku. Aku mengernyitkan dahiku lalu menoleh ke arah Jeffrey yang sudah tersenyum jahil padaku.

"Loh lak nakal a," kataku sambil mencubit lengannya.

"Aduh, sakit, Mbak!" Katanya sambil cengengesan dan mengusap lengannya yang baru saja kucubit.

"Aku minta talah. Maleh pengen i loh aku."

"Bilang Jeffrey ganteng dulu coba."

"Dih, males!"

"Ya udah gak tak kasih," jawabnya.

"Yowes yowes. Jeffrey ganteng," kataku.

Jeffrey mendekatkan telinganya sambil pura-pura gak denger, memaksaku untuk kembali mengulangi kata-kata tadi.

"Jeffrey ganteng. Aku minta popcorn-nya dong."

Sedikit improvisasi agar aku bisa segera mendapatkan berondong jagung itu dan akhirnya berhasil. Ia luluh kemudian menyuapiku popcorn beberapa kali.

Jangan iri, ya! Jangan pokoknya.

"Jeffrey?" Seru seorang cowok sembari nyamperin aku sama Jeffrey.

"Eh elo, Sat. Sendirian aja?" kata Jeffrey.

"Kagak. Gua bareng cewek gua lah."

Gak lama kemudian seorang cewek jalan deketin cowok itu.

"Kenalin, cewek gue."

Siska Dewi Pratiwi

"Halo," sapanya ramah.

"Lah elo, Sis? Lo berdua kapan jadian deh? Siska, lo kok mau-mau aja jadian sama Satria? Buluk item gini lo pacarin."

"Berisik lo teripang!"

"Ahh iya. Kenalin ini Ale."

"Satria," cowok itu jabat tanganku ramah.

"Ale."

Aku beralih menyapa cewek yang datang bersama cowok itu. Dia begitu cantik. Yah, aku mah cuma remahan rengginang ya gak ada apa-apanya kalau dibandingin sama dia.

"Siska."

Dia tersenyum ramah sambil ngulurin tangannya ke aku yang jelas kuterima dengan senang senang hati.

"Ale."

"Lo duduk dimana, Nyet?"

"Belakang lo."

"Ahh elah lo ngapain deket-deket gua. Gangguin aja," kata si Jeffrey.

"Mana gua tau lo nonton juga kampret."

"Yaudah sana. Hush..."

Si cowok yang namanya Satria tadi cuma geleng-geleng kepala dan pergi menuju tempat duduknya, di belakangku sama Jeffrey. 

Saat filmnya sudah mulai, tiba-tiba aku ngerasain ada yang pegang tanganku.

"Offside."

"Ihh songong banget kesenggol dikit doang. Ya udah."

Yahh malah ngambek.

"Iya iya, udah gapapa offside. Jangan ngambek. Nanti gaada yang nganterin aku pulang."

"Nah gitu dong. Kan kane," Jeffrey megang tanganku gak nanggung-nanggung. Pakai acara nyium tanganku segala.



Enaaaaaa



Gak lama kemudian dia nyender di bahuku. Ini harusnya aku kan yang nyender di dia? Eh tapi gapapa sih. Bisa dimodusin. Aku belai dia yang lagi enak nyender di bahuku.



Enaaaaaa pt 2.



"Jeff..."

"Ya?"

"Kamu gak malu?"

"Malu apaan? Aku kan udah pake baju."

"Yahh kan kita ketemu temen kamu."

Jeffrey langsung mengangkat kepalanya dari bahuku lalu menatapku.

"Ya terus kenapa?"

"Gak malu jalan sama kakak kelas?"

"Yaelah ditanyain lagi. Hei, aku gak pernah kepikiran gitu, Mbak. Udahlah cuek aja. Lagi pula aku gak begitu deket sama dia," kata dia setengah berbisik di kalimat terakhir.

"Hah?"

"Serius. Aku cuma ikut ekskul yang sama sama dia. Biarin aja."

"Tapi..."

"Takut jadi bahan omongan orang? Ya udah sih, yang jalanin kita ini. Gak usah dengerin omongan orang," jawabnya santai.

Enak ya kalau ngomong. Lah nanti aku gimana? Nanti kalau dia nyebarin gosip terus aku dicap pedofil gara-gara ngedate sama adikkelas gimana?

"Percaya sama aku. Kalau ada yang ngomongin Mbak, panggil aku aja. Nanti aku yang beresin."

"Iya iya percaya."

Dia nyubit hidungku pelan lalu lanjut nonton film lagi.

Aku sih gak begitu fokus sama filmnya. Aku fokus liatin Jeffrey. Sosoknya begitu perfect sampai aku gak peduli sama filmnya. Saat liat Jeffrey ketawa, aku ketawa juga.

Lucu.



To be continuedー

[✔] TaruhanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang