Aku udah ada di dalam bianglala sama Jeffrey. Aku gabisa liat kemana-mana soalnya aku lagi nutup mata.
Aku takut ketinggian. Tidak ada kejadian khusus yang membuatku trauma akan ketinggian sebenarnya. Ketakutanku ini datang dengan sendirinya. Aku sedikit ngeri jika harus berada di atas ketinggian tertentu apalagi disuruh melihat ke bawah. Rasanya aku mau mati saja.
Tapi beda halnya dengan Jeffrey yang malah cekikikan di atas penderitaanku. Mungkin baginya melihatku ketakutan memberikan suatu kesenangan tersendiri baginya.
Untung aku sayang. Kalau tidak, mungkin badannya sudah habis kucubiti.
"Kamu jahat. Udah tau aku takut ketinggian malah diajak beginian."
"Kenapa takut sih? Kan ada aku."
Aku berdecak sebal sementara Jeffrey masih cekikikan.
"Jangan ngambek elah. Habis ini selesai," katanya sambil megang tanganku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
WTF
Kalau misal bianglalanya masih lama juga aku ikhlas kayaknya.
Dia pegang tanganku sampe kita sampe di bawah.
ENAAAAA
Dia mengelus punggung tanganku dengan ibu jarinya yang panjang. Sesekali mengecup punggung tanganku perlahan, mungkin ia ingin agar aku lebih rileks sehingga aku tidak ketakutan lagi.
Tiba-tiba ada whatsapp dari Mas Alex.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Elaaahhh ganggu aja nih...
"Jef, kayaknya kita harus pulang. Ini Bundaku udah pulang. Gak enak kalau pulang malem."
"Oh yaudah. Kita pulang aja," katanya. "Mas Alex suka yoghurt gak?"
"Dia mah apa aja suka."
"Beli yoghurt dulu ya? Sama susu buat Bunda kamu."
"Ihh apaan? Gausah, Jef."
"Masa aku udah bawa keluar anak orang tapi gak ngasih apa-apa buat camer."