Ribuan tetes hujan jatuh membasahi bumi
Melunturkan gemerlap kota dikala malam tak lagi berkutik
Menenggelamkan manik malam yang sedari tadi menjadi teman sunyi
Seakan sejalan dengan sekeping hati yang kini mulai tercabik
Di tengah derasnya tirai hujan malam ini
Karena layar kecil bersampul kaca rasa ini mulai terkikis
Melihat sosok pujangga tengah bersuka hati
Bersama gadis pujaannya yang menawan pun memikat hati
Seketika gemuruh malam datang memecah sepi
Ditemani kilatan cahaya menyadarkan dari lamunan tak berarti
Lamunan ilusi yang selalu menjerat diri
Tanpa memikirkan sendu yang semakin menghantui
Memang pantas sang pujangga berbagi rasa dengan gadis di seberang sana
Gadis berparas cantik penuh dengan
berjuta pesona
Tak seperti penyair receh yang haus akan cinta seorang pujangga
Tanpa pernah bercermin melihat diri bagai kertas lusuh dan bernoda
Jakarta, 18 Juli 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
Selaksa Kata
PoetryKetika segala kisah melebur ke dalam selaksa kata, hingga menjadi sebuah retorika tertulis yang bersifat abadi bersama ayunan pena Highest rank #113 in Poetry (10-06-2017) #87 in Poetry (29-06-2017) #74 in Poetry (12-07-2017)
