{Part 16}

15.6K 727 52
                                    

Menatap heran pada Javi. "Bagaimana bisa? Maksudku bukankah kau phobia terhadap wanita? Kau membohongiku?." Carlo menyerngitkan dahinya curiga.

Javi menatap Carlo dengan panik. "Tidak! Aku memang phobia terhadap wanita, namun Pricell bisa menghilangkan itu, lagi pula bagaimana bisa kau mengenal, Pricell?"

Carlo dan Pricell membeku mendengar pertanyaan Javi. Merasa bingung Javi kembali bersuara. 

"Carlo...?"

Carlo tersentak, seluruh tubuhnya gemetar. "Be-begini Javi.. Aku.. Ehm.. Aku temannya dulu..?" Carlo melirik Pricell ragu, sedangkan Pricell menatap Carlo tajam.

Javi mengerutkan dahinya. "Teman? Bukankah aku mengenal semua temanmu?" "Dia berbohong!." Tunjuk Pricell pada Carlo. 

"Dulu dia mempermainkanku seolah dia mencintaiku. Namun setelah aku menyatakan perasaanku dia pergi begitu saja. Aku sangat membencinya!." Pricell memberi penekanan pada kalimat terakhir.

"Pikiranku sangat kacau saat itu. Aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu." "Cukup." Javi membentak keduanya. 

"Jadi, sejak kapan kau mengenalnya?." Javi menatap Carlo tajam sambil jarinya menunjuk Pricell.

Carlo menundukkan kepalanya. Tidak ada yang bisa ditutupi lagi. "Dua tahun yang lalu."

Javi menghela nafas berat. "Jadi saat kau masih berhubungan denganku?"

"Sampai sekarangpun kita masih berhubungan. Dan sekarang saat aku sudah pulang kau malah menghamili dia?" Sekarang Carlo yang menunjuk Pricell.

"Kau tidak menghubungiku selama dua tahun, Sekarang aku tidak tahu apa hubungan kita sebenarnya. Saat kau pergi, hanya Pricell yang ada disekitarku." Javi menyugar rambutnya frustasi.

"Sebenarnya apa hubungan kalian berdua?" Tanya Pricell bingung. Tapi keduanya hanya terdiam.

Bukannya menjawab pertanyaan dari Pricell, Carlo malah membalas ucapan Javi. "Aku sengaja tidak menghubungimu karena aku sedang berusaha menenangkan diri dari pilihan antara kau atau Icell, namun sekarang aku yakin bahwa aku masih sangat mencintaimu, Javi." Carlo menatap Javi penuh harapan.

Pricell terkejut mendengar itu. "Apa maksud perkataan Carlo?"

"Maafkan aku, Icell.. Javi adalah kekasihku." Carlo menundukkan kepalanya karena rasa bersalah. 

"Jadi kalian, gay?" Pricell menutup mulutnya dengan kedua tangan tidak percaya, sedangkan kedua pria didepan hanya bisa terdiam.

"Ah.. Sekarang aku mengerti kenapa Carlo pergi dan juga kenapa Javi tidak menyentuh wanita."

Pricell menggenggam kedua tangan Javi penuh kesedihan. "Namun aku sedang mengandung anakmu, kau akan menjadi, Ayah.. Kau tega meninggalkan aku dan bayi ini?" Pricell putus asa.

Sekarang dia tahu kenapa malam itu Javi mengira dirinya adalah Carlo.

Javi melihat Pricell dan Carlo bergantian. Dia bingung harus memilih siapa. Pricell yang sedang mengandung anaknya atau Carlo kekasihnya.

Carlo menghela nafas berat melihat kegelisahan Javi. "Sepertinya aku tidak punya harapan."

Maafkan aku karena meninggalkanmu tanpa menghubungimu sama sekali." Carlo menghampiri Javi lalu memeluknya erat dengan isakan kecil. Sebenarnya dia tidak rela. Tapi sekarang Pricell sedang hamil. Dirinya tidak mungkin tega memisahkan anak dari Ayahnya.

"Carlo..."

"Tidak apa.. Aku senang sebentar lagi kau mempunyai anak". 

Setelah itu Carlo memeluk Pricell. "Dan juga maafkan aku, Icell.. karena dulu aku pernah menyakitimu. Berbahagialah untukku."

Healer [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang